Permendikbud No. 55 Tahun 2014 Tentang Masa Orientasi Peserta Didik Baru Di Sekolah

Tahun ajaran baru sudah hampir tiba dan banyak sekolah melakukan MOPD atau lebih dikenal di masyarakat dengan sebutan MOS (Masa Orientasi Siswa). MOPD atau kita sebut MOS saja biar lebih akrab memang identik dengan namanya bullying, baik itu kadang secara fisik namun lebih banyak ke verbal. MOS semacam ini seakan menjadi tradisi dan mendarah daging bagi sekolah dan tentu saja ‘senior’ yang merasa ingin menanamkan ‘keakuan’ pada juniornya.

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat salah satu tempat aman namun di saat MOS malah menjadi salah satu tempat yang ‘angker’ bagi psikis siswa baru. Kalau saja sekolah membaca dengan jeli¬†Permendikbud No. 55 ¬†Tahun 2014 Tentang Masa Orientasi Peserta Didik Baru Di Sekolah [bisa diunduh disini: Permendikbud Tentang MOS], maka bisa dipastikan tidak akan ada MOS yang penuh dengan berbagai macam pita, karung, topi, kardus, pensil, dan sebagainya.

Coba kita perhatikan gambar dibawah ini,

mos

Disana jelas terlihat bahwa Sekolah DILARANG menyelenggarakan MOPD yg merugikan peserta didik secara fisik maupun psikologis. Sekolah mungkin bisa berdalih mereka tidak melakukan kekerasan fisik walaupun saya masih mengganggap tetap ada walaupun sedikit seperti mereka harus berdiri berpanas-panas namun kadang panitianya berteduh namun siapa yang menjamin kekerasan psikologis tidak ada? Salah satu kekerasan psikologis yang diterima siswa baru adalah saat mereka harus menggunakan baju berbeda dengan siswa lain semisal, memakai topi purun, tas dari karung goni, berkalung tali rapi dan bergantung kardus bertulis nama sendiri, yang disampingnya ditempel gambar artis yang mirip dengannya. Pembeda pakaian semacam itu sebenarnya juga termasuk kekerasan psikologis karena membuat mereka berbeda sehingga sangat terasa sekali bahwa mereka dianggap junior oleh kakak kelasnya bukan dianggap sebagai seorang teman yang ingin bersekolah di tempat yang sama.

Selain itu, disana jelas juga tertulis sekolah DILARANG memungut biaya dan membebani orangtua dan peserta didik dalam bentuk apapun. Hal ini juga sering dilanggar sekolah, panitia MOS dengan seenaknya memberikan teka-teki yang nanti jawabannya itu harus dibawa peserta didik baru ke sekolah padahal secara tidak langsung itu membebani orangtua dan peserta didik. Orangtua terbebani karena harus membeli ini dan itu dan membeli ini dan itu dengan uang bukan dengan kertas.

Cukuplah sudah melakukan MOS yang tidak bertanggungjawab, mari kita bersama baik guru maupun orangtua saling membahu untuk saling mengingatkan bahwa MOS yang mengandalkan kekerasan fisik maupun verbal, itu tidak ada gunanya.

The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.