Pameran Buku dan Penguatan Literasi

Di era digital segala kemudahan bisa dimiliki, salah satunya adalah buku. Anda bisa dengan mudah membeli buku secara daring bahkan kadang lebih murah daripada membeli di toko luring. Selain itu, buku elektronik juga semakin mudah diunduh dan disebarkan sehingga keberadaan toko buku fisik dan buku fisik secara tidak langsung mengalami ancaman nyata. Bahkan masih dalam ingatan bagaimana salah satu jaringan toko buku besar di Amerika Serikat, Borders dinyatakan bangkrut dan salah satu faktornya adalah terlambat mengantisipasi keberadaan toko daring. Fenomena kebangkrutan toko buku bukan hanya dialami Amerika Serikat, di Indonesia sejak tahun 2011 diberitakan bahwa toko buku seluruh Indonesia yang awalnya berjumlah 5.000 toko buku, kini jumlahnya tidak sampai separuhnya yang tersisa. Di tahun 2015 dilaporkan oleh Ikapi bahwa Indonesia memiliki seribuan penerbit namun yang aktif memproduksi buku hanya sekitar 711 penerbit.

Perlukah Pameran Buku?

Hari ini (13/7/2018) penulis menghadiri pembukaan pameran buku di Kandangan. Acara yang dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan daerah Kab. Hulu Sungai Selatan dibuka oleh Pj. Bupati Hulu Sungai Selatan, Beliau membuka acara dengan membacakan sebuah puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul kupu-kupu di dalam buku. Pameran yang berlangsung dari tanggal 13 Juli sampai 22 Juli 2018 bertempat di jalan Rahma Bahran, tepat di depan MTQ Kandangan. Pameran buku di Kandangan bisa dibilang sebuah usaha berani ditengah gempuran, toko daring, buku elektronik, dan media sosial, apalagi literasi di daerah tentu tidak semeriah di kota besar. Belum lagi pameran buku bukanlah sesuatu yang mengasyikkan untuk dikunjungi.

Di tengah gempuran tersebut, pameran buku masih sering digelar walaupun menyisakan tanda tanya, seberapa penting keberadaan pameran buku di era digital?. Apalagi bukan hanya toko buku fisik yang mengalami gempuran digital tapi juga para penerbit itu sendiri. Majunya perkembangan teknologi audio visual serta pesatnya media sosial berdampak besar pada ketertarikan membaca buku. Beberapa tahun belakangan ini sudah beberapa penerbit yang mengalami kebangkrutan dan itu belum termasuk media cetak yang gagal bertahan, semua itu tentu menjadi dilema dalam sebuah pelaksanaan pameran buku. Apalagi dalam laporan Ikapi dikatakan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya membeli 2 buku per tahun, tentu itu menjadi anomali dalam bisnis buku.

Pameran buku tidak akan bisa bertahan kalau hanya menjadi pameran ala kadarnya, asal ada buku murah dan tempat tersedia. Pameran buku harus bertransformasi lebih dari sekadar jual beli buku dan bertemunya penerbit dan pembaca. Di beberapa pameran buku besar dunia seperti Frankfurt Book Fair dan London Book Fair, pameran buku tidak lagi sekadar tempat bertemu penerbit dan pembaca serta jual beli buku tapi sudah bertransformasi layaknya festival musik atau film. Bazar buku murah, obral buku murah hingga diskon besar tetap menjadi salah satu andalan dalam pameran buku namun ditambah inovasi seperti temu bincang dengan penulis terkenal, pojok baca gratis, lomba-lomba kesenian atau yang berhubungan dengan literasi, arena bermain yang menyenangkan bagi anak, sajian musik dan film dan inovasi lainnya. Semua hal itu tentu diharapkan bisa menjadikan pameran buku lebih dari sekedar ajang jual beli tapi juga tempat untuk mendapatkan pengalaman.

Ketika dunia sudah menghadapi revolusi industri 4.0, pameran buku setidaknya menjadi bagian penting bahwa sebuah tempat fisik masih diperlukan agar interaksi sosial tetap terjalin di dunia nyata. Selain itu, pameran buku adalah sebuah bisnis, bukan hanya transaksi buku tapi mendorong ekonomi kreatif yang ikut berdampingan saat pameran, entah itu bisnis besar maupun UMKM. Ada banyak perputaran uang dan harapan di setiap bisnis yang dilakukan, pameran buku menjadi salah satu energi penggeraknya.

Menguatkan Literasi di Daerah

Berdasarkan hasil penelitian perpustakaan nasional tahun 2017 dikatakan rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu dengan durasi rata-rata membaca 30-59 menit. Sedangkan jumlah buku yang ditamatkan hanya 5-9 buku per tahun. Rendahnya minat baca masyarakat harus ditingkatkan. Pameran buku bisa menjadi sarana alternatif, terlepas dari berbagai kekurangan. Pameran buku selalu punya dampak positif khususnya bagi mereka yang suka membaca karena serasa mendapatkan emas tanpa harus bersusah payah menggali. Apalagi di Kandangan, toko buku terasa sepi dan mungkin hanya itu satu-satunya tempat yang tersisa untuk memulai kembali peradaban. Pameran buku juga bisa menjadi sarana untuk mengenalkan anak pada buku fisik sekaligus bentuk perhatian orangtua bahwa hadiah itu tidak selalu pakaian, mainan, atau gawai namun juga bisa buku cerita.

Pembelian buku untuk anak tentunya harus diiringi dengan komitmen orangtua untuk membudayakan literasi, jangan setelah membeli kemudian membiarkan anak berpikir dan memahami apa yang dibaca. Bimbing dan ajari memahami suatu bacaan serta luangkan waktu untuk menjadi pencerita bagi anak. Literasi bukan hanya sekadar bisa membaca dan menulis tapi juga bisa memahami dan berpikir kritis terhadap apa yang dibaca dan ditulis. Salah satu contohnya adalah ketika lampu merah, di persimpangan sering tertulis belok kiri ikuti isyarat lampu namun masih banyak yang tidak memahami makna tulisan itu. Orang semacam itu bisa dikatakan baru bebas buta aksara karena hanya bisa membaca namun tidak paham dan mengerti arti tulisan itu.

Pameran buku di Kandangan mungkin belum bisa semaksimal itu namun sudah mulai mencoba mengarah ke arah hal itu, terlihat dari acara yang disajikan dari ada temu bincang penulis, lomba-lomba baik untuk anak PAUD, SD, dan SMP. Kegiatan itu tentunya harus didukung banyak pihak, sekolah bisa menjadi bagian penting dari hal itu, misalnya mengajak para siswa untuk berkunjung sehingga mereka bisa mendapatkan pengalaman baru disana. Sebagai seorang guru sekaligus orang yang tinggal di Kandangan tentu sangat berharap pameran buku menjadi ajang tahunan. Tentunya selain pameran buku umum, Hulu Sungai Selatan yang punya visi sebagai kota agamis bisa juga menampilkan pameran buku islami seperti halnya di tanah Jawa. Selamat berpameran, selamat menikmati buku murah. Jangan lupa bahwa ada kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku, salah satunya adalah tidak membacanya – Joseph Brodsky.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap