Menyiapkan Kenormalan Baru di Sekolah

Korona telah menghantam banyak sektor, salah satunya adalah sektor pendidikan. Sekolah sudah lama sekali diliburkan bahkan di Hulu Sungai Selatan sudah memasuki 4 kali perpanjangan masa belajar di rumah dan terakhir diputuskan diperpanjang hingga akhir tahun ajaran 2019/2020. Diperpanjangnya masa belajar di rumah tidak lepas juga dari polemik mulai dari kesulitan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dikarenakan terbatasnya sarana dan prasarana hingga belum siapnya sumber daya manusia itu sendiri. Namun terlepas dari berbagai kesulitan tersebut, guru tetap berusaha menjalankan kewajibannya berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Selain itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga berusaha memfasilitasi keterbatasan dengan memberikan program belajar dari rumah yang ditayangkan di TVRI. Di beberapa daerah, dinas pendidikan kabupaten/kota juga menyikapi dengan hal yang serupa dengan melaksanakan pembelajaran jarak jauh baik itu menggunakan media televisi lokal maupun radio daerah.

Walaupun Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan sudah membantah berbagai kabar palsu tentang akan dibukanya kembali sekolah di bulan Juli selaras dengan dimulainya ajaran baru 2020/2021. Namun kabar palsu ini sudah terlanjur menyebar hingga menghebohkan banyak guru di daerah. Reaksi mereka tentu beragam, ada yang setuju karena sudah lama sekali tidak berlangsung kegiatan belajar mengajar namun ada juga yang menolak bahkan meminta kemdikbud untuk mengundurkan jadwal tahun ajaran baru ke januari 2021 untuk alasan kesehatan. Reaksi beragam ini tentunya tidak lepas dari sudut pandang berbagai pihak. Apalagi adanya keinginan untuk melaksanakan new normal atau kenormalan baru di beberapa sektor dan tentu saja juga di sektor pendidikan.

Kenormalan baru di sektor pendidikan sendiri sebenarnya masih dibahas panjang sehingga belum sepenuhnya bisa terjadi apalagi Kemdikbud sudah menyatakan bahwa masuk dan tidaknya peserta didik ke sekolah tidak tergantung dari Kemendikbud namun dari gugus tugas nasional covid-19. Karena ini bukan hanya masalah pendidikan namun juga masalah kesehatan. Pernyataan Kemdikbud itu sebenarnya sudah bisa dipahami bahwa Kemdikbud tidak mempunyai wewenang dalam memutuskan kapan bisa kembali lagi ke sekolah namun tetap menyiapkan segala skenario apapun yang nantinya diputuskan oleh gugus tugas covid-19.

Kenormalan Baru di Sekolah

Wacananya akan dibukanya kembali sekolah di bulan Juli mulai merebak seiring rencana akan dimulainya tahun ajaran baru 2020/2021 serta tersebarnya beberapa skrenario kenormalan baru yang direncanakan akan dilaksanakan di bidang pendidikan. Ada beberapa skenario yang tersebar diantaranya: sekolah akan dilaksanakan dalam dua bagian yaitu kelas pagi dan kelas sore, memperpendek jam mengajar menjadi maksimal 4 jam dalam sehari dengan meniadakan jam istirahat, jam pulang sekolah dibedakan agar tidak terjadi penumpukan di gerbang sekolah, siswa di dalam kelas dibatasi maksimal 50% dari jumlah biasanya bahkan ada yang meminta hanya 25% dari jumlah siswa per kelas, guru yang berusia di atas 45 tahun hanya diperbolehkan mengajar secara digital, tatap muka dilaksanakan 1 atau 2 kali dalam seminggu sisa hari lainnya peserta didik belajar secara daring. Berbagai skenario itu tentunya tidak sepenuhnya bisa terjadi karena pada akhirnya tergantung bagaimana Kemdikbud nantinya akan menyikapi hal itu.

Selain perubahan dalam artian fisik pembelajaran, sekolah juga harus bersiap dengan perubahan metode pembelajaran. Dalam Surat Edaran Kemdikbud Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 disana sudah dijelaskan akan adanya pembelajaran jarak jauh (PJJ) dalam jaring (daring) atau luar jaringan (luring). Satuan pendidikan bisa memilih salah satu PJJ tersebut atau bisa juga mengkombinasikan keduanya, tergantung kesiapan satuan pendidikan.

Terlepas dari hal diatas, sekolah harus bertransformasi menjadi sekolah penggerak yang bisa menjadi fasilitator kemajuan pendidikan dengan memberikan ruang bagi guru untuk meningkatkan kemampuannya selama masa belajar dari rumah. Selain itu, guru sebagai ujung tombak perubahan harus terus belajar memperbaiki serta meningkatkan ilmu. Hal itu bisa lakukan melalui pembelajaran daring yang sekarang marak dilaksanakan sehingga apapun nanti pilihan dan skenario kemdikbud dalam kenormalan baru di bidang pendidikan maka guru sudah siap dengan segala keahliannya.

The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.