Menguatkan Model Kerjasama Tripusat Pendidikan

Sekolah kadang terasa seperti tempat penitipan anak, ketika orangtua datang dan mengantar anaknya ke sekolah maka seakan-akan seluruh urusan pendidikan dibebankan kepada guru. Karakter anak padahal tidak terbentuk hanya dari satu pihak tapi juga perlu dukungan pihak lain seperti keluarga dan masyarakat. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama baik itu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Peran ketiga komponen itu saling mendukung untuk kemajuan pendidikan di sekolah. Sejak tahun 2010 pemerintah sudah mulai mengintensifkan gerakan penguatan pendidikan karakter di sekolah-sekolah rintisan, baru pada tahun 2016 penguatan pendidikan karakter mulai dijalankan ke semua sekolah dengan nama program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Program PPK sendiri dikuatkan dengan hadirnya Peraturan Presiden No 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Dalam perpres dinyatakan bahwa PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetis), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Dari empat hal itu yaitu etik, estetis, literasi, dan kinestetik diharapkan bisa terjabar dalam bentuk-bentuk karakter seperti Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung Jawab, dan lain-lain. Semua karakter itu menyatu dalam lima nilai karakter utama yaitu Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong-royong, dan Integritas.

Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah

Pendidikan memegang peran penting dalam pembentukan karakter seseorang. Hal itu sejalan dengan undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 Pasal 3 yang menyatakan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dari hal itu bisa dikatakan pendidikan bukan hanya bertujuan untuk pengembangan dan peningkatan nilai akademik namun juga pengembangan dan peningkatan akhlak dan karakter. Namun beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Indonesia mengalami fenomena kekerasan yang terus meningkat bahkan di beberapa kasus malah mengalami kenaikan yang signifikan. Bahkan kasus terakhir di Garut, ada seorang anak SD yang tewas di tangan temannya sendiri hanya karena tuduhan menyembunyikan buku. Hal semacam itu tentu sangat menguatirkan karena ancaman pembunuhan kini mulai menyasar di lingkungan sekolah.

Pendidikan yang kini telah memasuki era 4.0 namun dalam kenyataannya hanya berhasil pada tahap memindahkan pengetahuan kepada peserta didik (transfer of knowledge) daripada melakukan pemindahan nilai (transfer of value). Peserta didik yang mempunyai nilai akademik tinggi bahkan mempunyai nilai 9 untuk mata pelajaran agama dan pendidikan kewarganegaraan, belum bisa menjamin bahwa peserta didik mempunyai karakter yang unggul. Penelitian yang dilakukan di Harvard University Amerika Serikat (Masnur,2011:84) menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian tersebut mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill.

Model Kerjasama Tripusat Pendidikan

Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah berpusat pada tiga aspek atau dalam istilah yang disebut kementerian pendidikan dan kebudayaan adalah Tripusat pendidikan. Tripusat pendidikan itu terdiri atas sekolah (guru, kepala sekolah, siswa), keluarga (orangtua/wali murid), dan masyarakat (komite sekolah, organisasi profesi). Ketiga hal itu harus saling mendukung dalam menguatkan pendidikan karakter di sekolah.

Sekolah selama ini memang sudah menjalin kerjasama dengan orangtua siswa namun sebagian hanya melakukan model kerjasama satu arah seperti pemberian tata tertib sekolah, pemberitahuan kegiatan sekolah, himbauan menjelang penilaian akhir semester/tahun. Namun banyak juga sekolah yang sudah menerapkan model kerjasama dua arah melalui pembentukan paguyuban orangtua siswa. Paguyuban orangtua siswa menjadi sarana komunikasi antara orangtua/wali siswa dengan wali kelas tentang berbagai informasi sekolah maupun hal-hal penting yang berhubungan dengan kondisi karakter siswa. Selain pembentukan paguyuban orangtua siswa, salah satu metode kerjasama yang bisa dilakukan sekolah dan orangtua siswa adalah dengan mengadakan pertemuan rutin membahas problematika pemelajaran di sekolah, konsultasi rutin orangtua dengan sekolah tentang permasalahan dihadapi siswa.

Selain model kerjasama dua arah, sekolah bisa juga menerapkan model kerjasama multi arah yaitu dengan melibatkan komite sekolah ataupun organisasi profesi guru. Contoh model kerjasama yang bisa dilakukan seperti mengadakan agenda pertemuan triwulan antara orangtua siswa, komite sekolah/organisasi profesi guru, dan sekolah membahas berbagai problematika dalam pendidikan seperti bullying, kekerasan siswa/guru, perlindungan siswa/guru, dan berbagai isu pendidikan lainnya.

Penguatan tripusat pendidikan melalui berbagai model kerjasama diharapkan bisa menjadi salah satu solusi dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah. Dengan terjalinnya kerjasama yang kuat antara guru, orangtua, dan masyarakat diharapkan pendidikan menjadi lebih baik. Hal itu sejalan dengan konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara yaitu di dalam hidupnya anak-anak ada tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya, yaitu alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda. Pendidikan bukan hanya tanggungjawab sekolah namun juga bagian dari tanggungjawab keluarga dan masyarakat. Sekolah tidak bisa membentuk karakter seorang peserta didik tanpa bantuan pihak lain. Permasalahan pendidikan akan lebih mudah diatasi kalau tripusat pendidikan duduk bersama dan mengkaji setiap permasalahan dengan objektif.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap