Masalah Pendidikan, Masalah Bersama

Beberapa hari terakhir linimasa media sosial penulis berisi cerita seorang guru yang terbunuh karena peserta didiknya, ada juga cerita seorang kepala sekolah yang dianiaya oleh orangtua peserta didik, dan yang terakhir adanya penembakan di salah satu sekolah di Amerika yang menewaskan 17 orang. Kesamaan ketiga berita itu adalah semua tersebut berhubungan dengan dunia pendidikan. Dari ketiga hal itu juga ada sebuah benang merah bahwa pendidikan bukan hanya tentang sebuah sistem tapi juga karakter. Amerika yang memiliki sistem pendidikan yang lebih baik ternyata menyimpan bara dalam dunia pendidikannya. Penembakan di lingkungan sekolah menjadi salah satu tragedi yang sering terjadi di beberapa tahun terakhir.

Pendidikan di Indonesia beberapa tahun terakhir memang sering menjadi sorotan tajam terlebih katanya dana APBN sebesar 20% digunakan untuk pendidikan. Tentu banyak yang berharap pendidikan menjadi lebih baik. Namun sistem pendidikan berupa kurikulum yang sering putus seiring berakhirnya jabatan menteri menjadi salah satu hal yang menghambat pembelajaran. Ganti menteri, ganti kurikulum, ganti kebijakan sudah menjadi rahasia umum. Selain itu, beban guru juga terlampau berat karena tidak hanya mengurusi peserta didik namun juga tetek bengek administrasi mulai dari luring hingga daring.

Apa Kabar Lima Hari Sekolah

Sejak awal ajaran baru, banyak sekolah sudah menerapkan rancangan lima hari sekolah yang digagas oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan. Lima hari sekolah diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif agar peserta didik menjadi lebih dekat dengan keluarga. Selain itu, lima hari sekolah juga menjadi salah satu pilar dalam penguatan pendidikan karakter (PPK). Namun dalam perjalanannya sebagaimana penulis lihat, lima hari sekolah hanyalah semacam memadatkan jam belajar di hari senin hingga jumat sehingga sabtu bisa libur sebagaimana hari kerja Aparatur Sipil Negara.

Lima hari sekolah pada dasarnya adalah gagasan yang luar biasa namun memang seharusnya lebih dulu dikaji tentang cara implementasi di lapangan. Pemerintah pusat harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah apakah sekolah yang telah memilih lima hari sekolah ada perbedaan dengan sekolah yang tetap menjalankan sekolah senin-sabtu. Apa kelebihan pendidikan karakter dari sekolah yang memilih lima hari sekolah? Ada banyak pertanyaan tentang hal itu namun memang tidak semua bisa langsung mendapatkan jawaban, karena lima hari sekolah belum berjalan lama, belum sampai satu tahun. PPK yang menjadi inti dari lahirnya lima hari sekolah tentu harus lebih dikuatkan kembali.

Tanggung Jawab Bersama

Beberapa kejadian dalam dunia pendidikan belakangan ini tentu tidak bisa juga dipersalahkan pada satu pihak. Misalnya ada peserta didik nakal yang berani melawan guru atau ada guru memukul peserta didik tentunya hal itu tidak bisa dilihat dari satu sisi dan menganggap itu adalah kegagalan dalam pendidikan. Pendidikan bukan hanya tentang lingkungan sekolah, guru, dan siswa namun juga tentang orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Penulis yakin, sekolah dan guru telah memberikan kemampuan terbaiknya dalam mendidik dan mengajar siswa akan menjadi lebih baik. Namun semua hal itu tidak bisa berjalan lurus kalau orangtua dan pemerintah tidak melakukan hal yang sama.

Orangtua sebagai bagian dari pembentukan karakter awal peserta didik memegang peran penting dalam pembelajaran. Orangtua tidak bisa sepenuhnya menyerahkan pendidikan kepada guru kalau ternyata diujung cerita juga menyalahkan guru dalam mendidik. Perlu ada sinergi dan komitmen bersama antara sekolah dan orangtua dalam membangun sekolah yang lebih baik.

Salah satu tempat kolaborasi sekolah dan orangtua peserta didik adalah komite sekolah. Komite sekolah dimasa lalu seringkali hanya menjadi salah satu bagian dari pemungutan dana peserta didik. Sudah saatnya komite sekolah bergerak lebih dari itu, misalnya sebulan sekali diadakan rapat antara guru dan komite sekolah membahas tentang kebijakan serta kendala apa yang terjadi selama pembelajaran di sekolah. Mencari solusi bersama terhadap semua yang terjadi di sekolah.

Pendidikan tentu akan lebih kuat dengan berbagi peran antara guru, orangtua, dan pemerintah. Pendidikan bukan hanya masalah kurikulum tapi juga bagaimana sekolah bisa memanusiakan manusia yang belajar disana. Pendidikan bukan tentang menjejali otak dengan segala teori tapi harus bisa mengimplementasi teori dalam praktik. Semua masalah pendidikan akan lebih mudah diatasi secara bersama karena masalah pendidikan adalah masalah bersama.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap