Marhaban Ya Ramadhan, Sambut Ramadhan Dengan Gembira Dan Lapang Dada

Seringkali kita dengar dan saksikan tayangan di televisi, ungkapan “Marhaban Ya Ramadhan” menjelang datangnya Ramadhan. Sebernya apa arti Marhaban Ya Ramadhan, sehingga ungkapan tersebut seperti semacam tahniah yang pastinya akan sering didengar setiap menjelang bulan Ramadhan?

Pada umumnya kata Marhaban baik yang disandingkan dengan Ramadhan atau dengan kedatangan seseorang, diartikan dengan Selamat Datang. Sehingga ungkapan Marhaban Ya Ramadhan berarti Selamat Datang, Bulan Ramadhan.

Tetapi saat kamu membuka lebih jauh kamus ataupun istilah yang berlaku di kalangan orang Arab, maka arti dari kata Marhaban tidaklah sesederhana itu. Dalam bahasa Arab, kata Marhaban diambil dari kata rahaba yang memiliki arti luas atau lebar. Biasanya kata Marhaban ini akan terucap saat adanya tamu yang datang, lalu sang pemilik rumah menyambutnya sambil mengucapkan kata Marhaban.

Artinya tamu yang datang akan disambut dengan penuh kegembiraan dan hati lapang. Penggunaan kata Marhaban seringkali disandingkan dengan kata Ahlan Wa Sahlan yang berarti seseorang yang datang tidak dianggap sebagai tamu, tetapi sebagai ahl atau keluarga. Oleh karena itu tamu tersebut diminta untuk bersikap sahlan atau santai, tidak terlalu kaku, dan juga tidak formal.

Akan timbul pertanyaan, mengapa kata Ramadhan disandingkan dengan bulan Ramadhan, atau kenapa datangnya Ramadhan harus disambut sedemikian rupa, dan bahkan di daerah tertentu kedatangannya disambut dengan diadakannya pengajian atau pawai obor?

Jawabannya adalah karena Ramadhan merupakan bulan paling istimewa atau tamu agung. Dirinya pantas disambut dengan penuh kegembiraan dan pastinya hati yang lapang. Karena dirinya bisa dikatakan sebagai big sale dari Allah SWT untuk kita beramal sebaik baiknya dan sebanyak banyaknya.

Merasa gembira dengan kedatangan bulan suci Ramadhan merupakan salah satu bentuk keimanan. Ramadhan itu diibaratkan seperti tamu yang sangat dinantikan kehadirannya. Bahkan dari sejak bulan Rajab saja, kita sudah sering berdoa supaya bisa sampai pada bulan yang memiliki Lailatuk Qadr ini.

Marhaban Ya Ramadhan diucapkan untuk menyambut kedatangan bulan suci. Karena kita mengharapkan supaya jiwa raga diasah dan diasuh serta diperbaiki untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Untuk bisa menemui-Nya ada gunung tinggi yang harus ditelusuri yaitu nafsu. Di gunung tersebut akan ditemukannya lereng yang curam, belukar yang lebat, bahkan ada banyak perampok yang mengancam, tidak ketinggalan ada iblis yang merayu supaya tidak melanjutkan perjalanan.

Tetapi jika memiliki tekad yang membara, maka sebentar lagi dapat dilihatnya cahaya benderang. Dan saat itu akan terlihat dengan jelas rambu rambu jalan, banyak tempat indah untuk berteduh, dan juga untuk melepaskan dahaga adanya telaga telaga yang jernih.

Dan saat melanjutkan perjalanan akan ditemukannya kendaraan ar-rahman yang akan mengantarkan sang musafir untuk bertemu dengan kekasihnya yaitu Allah SWT. Itulah kurang lebih perjalanan yang dilukiskan dalam buku Madarij as-Salikin. Pastinya untuk bisa menelusuri jalan tersebut, diperlukannya persiapan bekal. Lalu bekalnya itu apa?

Kita harus menabur benih benih kebajikan dalam lahan jiwa. Kita juga harus memiliki tekad yang membaja untuk memerangi hawa nafsu, supaya nantinya kita dapat menghidupkan malam malam Ramadhan dengan mengamalkan shalat dan tadarus Al-Quran. Dan pada siang di bulan Ramadhan, kita larut menjalankan ibadah puasa hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT.

Meski menjalani Ramadhan di tahun 2020 ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya karena hingga saat ini belum meredanya pademi virus corona, tetapi kita harus tetap semangat puasa hingga akhir bulan puasa nanti.

The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.