Habis Ujian Nasional (UN), Terbitlah Asesmen Nasional (AN)

Ujian Nasional (UN) terhitung sejak 2021 ditiadakan, tetapi bukan berarti tidak akan ada lagi penilaian yang sifatnya nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah merancang instrumen penilaian baru yang akan menilai mutu pendidikan pada setiap jenjang sekolah dasar dan menengah. Instrumen itu berbasis pada literasi dan numerasi, yaitu Asesmen Nasional (AN). Ketika AN diperkenalkan di awal, ada cibiran bahwa AN hanyalah nama lain dari UN. Ya, secara aplikasi AN memang mengadopsi sistem UNBK, tetapi sudah dimodifikasi sehingga berbeda.

Di dalam AN terdapat tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Secara garis besar AN bukan instrumen penilaian atau alat untuk mengevaluasi prestasi  atau  hasil  belajar  murid  secara  individual, tetapi lebih kepada alat untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan. Selain itu, AN juga tidak hanya diperuntukkan bagi murid, tetapi juga kepala sekolah dan guru.

Namun, memang ada hal yang mungkin dianggap mirip dengan UN yaitu tes. Namun perlu diketahui ada perbedaan besar antara tes yang digunakan dalam UN dan AN. Kalau UN, format tes hanya berbentuk pilihan ganda dan isian singkat maka dalam AN, format tes beragam, mulai dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat, dan uraian.

Selain berbeda dalam format tes, ada beberapa hal lain yang juga menjadi pembeda antara UN dan AN, diantaranya: UN ditujukan dan dikerjakan oleh semua murid yang berada pada level akhir jenjang pendidikan (SMP kelas IX dan SMA/MA, SMK kelas XII) sedangkan AN hanya ditujukan dan dikerjakan oleh sebagian murid yang terpilih secara acak oleh Kemdikbud dan jenjang kelas bukan pada level terakhir, SD kelas V (maksimal 30 murid), SMP kelas VIII (maksimal 45 murid), dan SMA/MA, SMK kelas XI (maksimal 45 murid). Selain itu, untuk waktu pelaksanaan juga berbeda, UN dilaksanakan selama 4 hari, AN hanya 2 hari. Begitu pula dengan hasil akhir, hasil dari AN dilaporkan sebagai hasil sekolah bukan hasil individu seperti UN.

Asesmen Kompetensi Mandiri dan Survei Karakter

Salah dua instrumen yang terdapat dalam AN adalah Asesmen Kompetensi Mandiri (AKM) dan Survei Karakter (SK). AKM dan SK inilah yang banyak dibahas di ruang publik karena AKM dan SK ini diperbandingkan dengan UNBK karena sama-sama berbasis komputer dan dikerjakan oleh murid. Di dalam AKM dan SK ini jugalah terdapat beragam format tes sebagaimana disebut di paragraf terdahulu. Bentuk soal AKM dan SK sudah pernah dikenalkan pada murid yang kemarin melakukan simulasi UN, selain kepada murid, bentuk AN juga sudah diperkenalkan kepada guru.

Literasi dan numerasi yang menjadi dasar dalam soal AKM tentu bukan sekadar membaca dan berhitung tapi lebih spesifik bagaimana murid bisa berpikir logis-sistematis, menguatkan keterampilan bernalar pada konsep dan pengetahuan yang sudah didapatkan serta menguji kemampuan memilah dan mengolah informasi.

Bentuk soal yang lintas mata pelajaran juga menjadi kelebihan dari AKM sehingga tidak ada lagi perkataan ini mata pelajaran AKM, ini bukan mata pelajaran AKM karena semua mata pelajaran kini bersatu padu dalam AKM sehingga akan mempermudah dalam mengelola pembelajaran. Selain itu, hal ini bisa menjadi awal untuk mengembangkan kompetensi siswa melalui lintas mata pelajaran.

Perbedaan antara UN dan AN itu diharapkan dapat mengubah cara pandang murid, guru, dan orang tua tentang AN karena AN bertujuan sangat baik dan sekali lagi, AN bukan alat untuk mengevaluasi hasil belajar murid sehingga tidak ada angka-angka yang muncul dalam selembar kertas sebagaimana SKHUN ketika menyelesaikan UN bagi mereka yang mengerjakannya, baik itu untuk murid atau guru.

Namun, sebaik apapun perencanaan sebuah konsep kalau di dalam praktiknya terjadi penyimpangan maka hasil atau mutu pendidikan yang diharapkan tidak akan pernah tercapai. Sehingga diharapkan sekolah bisa benar-benar menyiapkan murid dan guru untuk menyikapi AN sesuai dengan indikator yang telah disediakan oleh Kemdikbud. Kemdikbud tidak menyediakan kisi-kisi layaknya UN tetapi sudah menyediakan contoh-contoh soal AN yang dikembangkan berdasarkan indikator kompetensi yang diujikan.

Dengan persiapan yang matang dalam menghadapi AN maka hasilnya akan bisa digunakan sebagai alat refleksi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan iklim satuan pendidikan.

Author: shaleh
Seorang #Father #Teacher #Reader #ContentWriter | Bagian Dari Duta Baca Provinsi Kalimantan Selatan | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.