Antara Rapor, Peringkat, dan Kurikulum 2013

Pembagian rapor bagi peserta didik di sekolah dasar dan menengah pertama telah usai, kini mereka akan menikmati kembali liburan setelah beberapa minggu yang lalu mereka juga libur ramadan dan hari raya. Selalu ada cerita di setiap pembagian rapor namun yang jadi dan mungkin terus terjadi adalah ketika orang tua bertanya anak ulun peringkat berapa? Padahal kurikulum 2013 sejatinya tidak mementingkan peringkat namun ternyata dalam implementasi di lapangan banyak sekali sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 masih terdoktrin untuk tetap memberikan pelabelan peringkat pada peserta didiknya. Memberikan hadiah serta meminta mereka maju sebagai bentuk penghargaan atas prestasi akademiknya selama satu semester. Hal ini tentunya menjadi sebuah kegagalan dalam pelaksanaan kurikulum itu sendiri.

Sudah menjadi rahasia umum kalau sejatinya nilai-nilai rapor yang tercetak begitu manis itu tidak semuanya murni dari hasil kerja keras namun ada juga hanya demi pemenuhan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah. KKM laksana simalakama, memberikan nilai dibawah KKM maka guru dianggap tidak becus mengajar apalagi kalau mereka sudah mendapat label guru bersertifkasi dan akhirnya nilai standar KKM pun diletakkan agar terlihat tuntas. Selain itu, pemberian peringkat bisa menjadi simbolic violence (kekerasan simbolik) bagi peserta didik yang lain karena merasa dibedakan dengan yang lain. Akhirnya akan ada dikotonomi anak pintar dan anak bodoh. Hal ini akan membentuk modal budaya tersendiri yang berujung lahirnya habitus dominan. Sehingga anak-anak dari habitus mayoritas namun tidak memiliki modal budaya akan dipaksakan mengikuti gaya anak-anak habitus dominan. Padahal setiap anak itu istimewa, mereka semua juara. Penghargaan kepada anak yang berperingkat akademik saja tentunya akan mengecilkan anak-anak yang berprestasi non akademik, padahal mereka juga telah menyumbangkan nama harum bagi sekolah.

Baca:  Bukabuku.com, Toko Buku Online Termurah Tepercaya

Mereka Semua Juara

Menurut Undang-Undang 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pemilihan kata manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat yang kemudian baru diikuti kata berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Menandakan bahwa pendidikan kita sangat mengedepankan adab terlebih dahulu sebelum ilmu. Tentunya hal ini harus dipahami bahwa membangun karakter akhlak peserta didik lebih menjadi prioritas sebelum memberikan ilmu lainnya. Hal ini sejalan dengan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang selama ini digalakkan oleh pemerintah walaupun program tersebut memang perlu dievaluasi kembali karena sekolah masih bingung tentang cara implementasi di lapangannya dan pada akhirnya yang penting sudah tertulis di rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

Kurikulum 2013 menjembatani hal itu dengan tidak lagi memprioritaskan peringkat peserta didik namun sebagaimana penulis katakan diawal, ternyata sekolah abai dengan hal itu namun memang tidak sepenuhnya bisa ditimpakan kepada sekolah karena orangtua peserta didik juga ikut andil dalam hal ini, sebuah prestise bagi orangtua ketika anak mereka mendapatkan peringkat yang lebih baik. Apalagi era media sosial ini, maka orangtua yang anaknya punya peringkat baik tentu akan ramai mengunggah foto keberhasilan tersebut. Apakah itu salah? Sebagai orangtua tentu tidak salah karena hal itu wajar dan juga bisa menjadi motivasi tersendiri, namun sejatinya orangtua juga harus memahami bahwa pendidikan sekarang tidak lagi terlalu mementingkan peringkat jadi ketika nanti ada sekolah yang meniadakan acara semesteran berupa penghargaan bagi mereka yang berperingkat, orangtua wajib memaklumi.

Baca:  Dua Januari 2015 Batas Pengusulan Penerapan Kurikulum 2013

Apakah penghargaan akan ditiadakan? Tentu saja tidak, sekolah bisa mencari berbagai alternatif lain seperti memberikan penghargaan kepada siswa yang jujur saat ulangan, siswa yang suka membantu temannya, siswa yang disiplin, dan lainnya. Cara mendapatkan hal itu bisa dilaksanakan dengan pengamatan guru saat mengajar dan isian dari teman sekelasnya. Sekolah tentu bisa mengeksplorasi sesuai kondisi sekolah.

Deskripsi sikap pada rapor tentunya harus dikembangkan dan diperbaharui bukan lagi hanya sekadar ditulis jujur, bertanggung jawab, santun, dan lainnya tapi bisa ditambahkan keterangan lain seperti jujur saat mengikuti ulangan, bertanggung jawab saat diberikan tugas membersihkan kelas, santun kepada guru dan teman, dan seterusnya.

Mereka semua layak mendapat penghargaan dari sekolah terlepas dari nilai akademik yang didapatkan. Sebagaimana sebuah ungkapan bahwa “Setiap orang itu jenius. Tetapi jika anda menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan percaya seumur hidupnya bahwa ia itu bodoh.”

The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.