Rumah Shaleh

Berbagi Untuk Negeri

Uang Receh

Uang receh, uang kembalian berjenis logam dan berbentuk koin ini kadang membingungkan saya mau digunakan untuk apa. Eits, sebenarnya tidak ada namanya uang receh, Uang sebenarnya dibagi dalam dua jenis yaitu uang kartal dan uang giral. Uang yang digunakan sebagai alat pembayaran yang sah (dilindungi UU, dikeluarkan Bank Indonesia dan diterima sebagai alat pembayaran di masyarakat dinamakan uang Kartal, sedangkan uang giral sendiri bukan merupakan alat pembayaran yang sah sehingga masyarakat boleh menolak dibayar dengan uang giral. Semisal ada orang makan nasi kuning dan tiba-tiba saja saat membayar menggunakan cek maka penjual boleh saja menolak cek tersebut sebagai alat pembayaran. Uang giral dapat berbentuk cek, giro atau telegrafic transfer dan bisa dikeluarkan oleh bank umum. Sedangkan uang kartal sendiri dibagi menjadi dua: uang kertas dan uang logam. Uang logam inilah yang biasanya di masyarakat disebut uang receh. Ok, itu sedikit info pendidikan tentang jenis uang. Untuk memudahkan tulisan ini serta kebiasaan di masyarakat maka saya akan menggunakan nama uang receh saja.

Ok, kembali ke cerita uang receh. Ketika ingin menyumbangkan recehan itu ke celengan masjid kadang saya merasa minder, masa sedekah pakai recehan karena ketika belanja di minimarket, supermarket, atau hypermarket saja kadang saya malu juga untuk belanja pakai recehan koin semua. Terpikir, masa sedekah pakai uang sisa kembalian. Ah, jadi bingung.

uang receh

Akhirnya recehan itu pun tersimpan rapi dalam toples bermerk. Sebulan, dua bulan dan hingga setahun lima bulan. Recehan itu pada akhirnya diniatkan saja nanti buat nikahan adik yang akan digelar Desember 2015 kemarin (sudah nikah berarti ya, hahaha). Recehan itu nantinya digunakan sebagai pelengkap dari beras kuning yang akan dihamburakan saat pengantin mau keluar rumah. Rencana dan niat memang hanya milik manusia dan ketentuan akhir tetap milik Allah. Niat dan rencana itu ternyata tidak terlaksana karena adik saya juga punya banyak recehan di rumah. Ah menjadi bingung lagi buat apa ini recehan.

Tiba-tiba malam itu, saat beli snack dan minuman ringan di sebuah ritel yang sudah seperti jamur di musim hujan. Tumbuh dan berkembang dimana saja tak peduli walau harus berdampingan atau berseberangan. Pembelian makanan dan minuman itu berakhir dengan biasa saja namun entah kenapa tiba-tiba saja secara spontan saya langsung bertanya “Apa saya boleh menukarkan uang recehan saya nanti disini?”. “Ya, boleh Mas. Kalau ada silakan saja” jawab kasir itu dengan senyum yang mengembang (kaya mau bikin kue bolu saja :v).

Tiba di kos, langsung saja tanpa ba bi bu, keluarkan recehan dari markasnya, siapkan selotip dan pisahkan uang receh sesuai nominal, 500 rupiah, 200 rupiah, dan 100 rupiah. Setelah pemisahan dilakukan saatnya menyusun menjadi nominal yang lebih besar sebelum diberi selotip. Receh 500 rupiah ditumpuk menjadi sususan 5000 rupiah dan tersusun dengan jumlah Rp. 125.000,-. Receh 200 rupiah dan 100 rupiah disusun jadi nominal 1000 rupiah sehingga terkumpul, 200 rupiah menjadi Rp. 41.000,- dan 100 rupiah menjadi Rp. 28.500,-. Jumlah semuanya akhirnya Rp. 190.000,-. Tapi itu tanpa recehan 1000 rupiah yang masih saya simpan. Jumlah yang lumayan juga ternyata, uang receh yang saya simpan selama kos di Surabaya.

Keesokan harinya, ketika mau berangkat ke kampus, saya mampir dulu ke minimarket tersebut dan langsung saja mendekati si kasir dan kebetulan juga minimarket itu tidak ada pembelinya jadi bisa langsung bicara. “Mbak, saya mau menukarkan uang recehan saya, boleh?”. “Boleh Mas, Pindah ke meja sebelah saja Mas”. Dan tumpahlah uang recehan dari kantong kresek itu. Setelah hitung sana dan sini akhirnya uang receh saya berubah menjadi uang kertas.

 

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap