Surat untuk Ahok

sumber : google.com

shaleholic.com – Terlebih dahulu, marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Baik dan Suci dengan segala kebaikan yang telah diberikan kepada kita selaku hamba-Nya. Takkan mungkin kita mampu menghitung segala kebaikan itu sehingga sepantas dan seharusnya kita mensyukurinya seraya menjadi hamba-Nya yang baik pula. Dari sekian banyak cara untuk berbuat baik itu, marilah kita menebar kebaikan melalui ucapan dan tindakan.

Pak Basuki alias Ahok yang saya hormati…

Pagi ini, saya membaca tulisan sahabatku, Mas Mustafa Kamal, yang berjudul Lagi, Ahok Hajar Guru. Sahabatku itu menyitir ucapan Bapak ketika melakukan kunjungan ke instansi yang Bapak kendalikan. Berikut ini kutipannya:

Coba bayangkan, gaji seluruh guru DKI setahun sampai Rp 7 triliun, kerja cuma tiga jam sehari, kualitas pendidikan DKI amburadul, sedang kita semua kerja pagi siang malam, kualitas pelayanan prima, betul nggak pak?” ujar Ahok di hadapan 267 petugas Dukcapil Kelurahan dan 44 petugas kecamatan.”

Setelah membaca pernyataan itu, saya merasa tersinggung sekaligus geram. Ketersinggungan itu tidak disebabkan sikap resistenku terhadap kritik, tetapi sikap Bapak yang sangat terburu-buru mengeluarkan pernyataan itu. Begitu mudahnya Bapak mengeluarkan pernyataan itu tanpa Bapak berusaha menelaah lebih lanjut tentang pekerjaan guru.

Cobalah Bapak pergi ke sekolah dan amatilah cara kerja guru. Guru itu memiliki minimal lima tupoksi alias tugas pokok dan fungsi, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakannya, mengevaluasinya, meremidinya, dan memerkayanya. Lima tugas itu baru sebatas tugas pokok dan belum termasuk tugas lainnya, seperti wali kelas, guru pembimbing, pelatih, instruktur, pembina, wakil kepala sekolah, operator, laboran, pustakawan, dan tugas tambahan lainnya.

Jika guru hanya bertitik tolak pada lima tugas itu, memang tugas guru akan teramat ringan. Namun, sungguh tugas guru itu tak hanya mengajar murid-muridnya, tetapi juga membimbing dan memberikan bekal keterampilan dan karakter yang baik agar mereka bisa menjadi generasi yang bermartabat dan berkarakter. Dan itu menjadi tugas yang teramat berat, apalagi bagi guru dengan beragam tugas tambahan lainnya.

Ketika menjadi guru wali kelas, guru diwajibkan mengenal karakter sekitar 40 anak. Guru harus memantau perilaku anak itu sembari memberikan laporan berkala tentang perkembangan anak itu kepada orang tua. Pemantauan perkembangan itu meliputi segala mata pelajaran yang diampunya. Jika sang murid diajar 12 mata pelajaran, guru wali kelas pun harus memantau perkembangan itu agar mereka mendapat nilai bagus. Maka, sering terjadi perang antarguru ketika menjelang pembagian rapot.

Ketika semua PNS lain bisa pulang dan bersantai dengan keluarganya, guru harusnglembur alias bekerja tengah malam dan tengah hari untuk menyelesaikan beragam pekerjaan kantor. Lemburan guru itu dapat dikerjakan di sekolah dan kadang dibawa pulang. Jika PNS non-guru tak membawa pulang pekerjaannya, justru guru harus membawa setumpuk berkas dan pekerjaan murid-muridnya untuk dikoreksi, dinilai, dan dilakukan perbaikan karena nilai anak jelek. Apakah guru itu diberi upah tambahan? Jawabnya: tidak!

Ketika terjadi kegagalan pendidikan, guru itu menjadi pihak yang selalu disalahkan. Guru itu hanya menjadi bawahan dan melaksanakan perintah atasan, lalu mengapa kesalahan itu ditimpakan kepadanya? Guru itu tidak tahu-menahu tentang kebijakan pendidikan karena tugas guru tidak menyusun kebijakan pendidikan, tetapi menyiapkan strategi pembelajaran. Produk kebijakan itu dihasilkan oleh PNS non-guru, tetapi mengapa kegagalan itu ditimpakan kepada guru?

Pak Basuki yang saya hormati….

Tidak sekali dua kali ini Bapak mengeluarkan pernyataan pedas tentang dunia pendidikan. Belum lama Bapak mengeluarkan kata-kata kasar untuk menyebut pelajar nakal, yakni kata bajingan. Entah hanya berniat untuk guyonan alias candaan, Bapak telah mengeluarkan pernyataan yang menggambarkan tabiat Bapak yang sangat tidak sopan. Mestinya Bapak menjaga lisan meskipun Bapak hanya bermaksud bercanda. Anak nakal itu jangan dinakali lagi jika kita ingin memerbaiki perilakunya. Namun, mari kita rangkul anak-anak nakal itu sembari diajak, dibimbing, dan difasilitasi agar menjadi generasi yang berkarakter, bermartabat, tangguh, dan tanggap terhadap perkembangan zaman.

Saya perlu menulis surat ini karena Bapak adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta. Jakarta adalah pusat pemerintahan dan ibukota negara ini. Apa yang terjadi di Jakarta tentu akan berpengaruh di tingkat bawah. Bapak tentu ingat filsafat titik gelombang yang riaknya akan menyebar ke pinggiran. Jika Bapak begitu entengnya menisbikan perjuangan guru secara ancam-mengancam, saya yakin bahwa Bapak akan menuai karmanya kelak. Mohon Bapak tidak menghina (lagi) perjuangan guru. Jika uang dijadikan alasan sebagai pembenar ucapan bapak, guru itu bukan mata duitan. Guru hanya minta agar profesinya dihormati, dihargai, dan dimudahkan pekerjaannya.

Demikian surat ini tertulis dan tersampaikan. Sebelumnya, saya bangga kepada Bapak karena Bapak dikenal memiliki prestasi bagus. Namun, agaknya saya perlu meralat kebanggaan itu. Sangat terkesan Bapak sangat arogan ketika berbicara di depan khalayak. Sangat terkesan jika Bapak terlalu terburu-buru ketika mengeluarkan pernyataan. Dan teramat terkesan jika Bapak menganggap guru PNS sebagai profesi mata duitan. Ternyata Bapak masih teramat dangkal memahami profesi guru sehingga begitu mudah mengambil simpulan. Dari simpulan ucapan Bapak, seakan-akan guru PNS di DKI Jakarta itu mata duitan. Dan saya yakin 101% jika simpulan Bapak itu salah.

Penulis Johan Wahyudi, kompasianer dari Sragen, Jawa Tengah.

Kenapa saya mengkopas tulisan ini karena ini juga menjadi sebuah keprihatinan saya sebagai seorang guru, dengan mudahnya seorang Ahok mengatakan guru kerjanya cuma 3 jam sementara pns lainnya sampai malam. Mungkin ada baiknya ada acaranya tukar nasib saja, biar Ahok bisa merasakan jadi guru dan guru juga merasakan jadi wagub biar sama-sama tahu tupoksi masing-masing.

Sumber tulisan : kompasiana.com

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap