Suatu Pagi di Gunung Bromo

shaleholic.comMenegangkan. Kata itu yang pertama bisa saya ucapkan ketika kali pertama saya merasakan sensasi menjelajah gunung bromo. Tanggal 5 Oktober 2014 kisaran pukul 00.10 wib kami berangkat dari Jalan Jombang III yang merupakan tempat kami menginap sekaligus jadi basecampnya para mahodeng center.

Berangkat dengan menggunakan 5 buah jeep dengan personil 26 orang plus 2 anak-anak, kami semua meninggalkan kota Malang menuju gunung Bromo. Selama perjalanan yang menempuh waktu kisaran 3 jam lebih itu, ada banyak hal yang terjadi. Di saat semua orang tidur, kami malah bangun dan bersiap untuk berjalan-jalan demi melihat matahari pagi menyapa. Walau ngantuk melanda hampir semua yang ikut ke gunung bromo namun masih terlihat senyum mengambang di tengah mulut yang menguap itu.

Sepanjang perjalanan awalnya hanya biasa saja dengan masih diselingi banyak cerita dan canda tapi ketika mulai memasuki wilayah gunung bromo, situasi di dalam jeep mulai berubah.

Perubahan situasi jalan yang semula mulus tanpa rintangan mendadak menjadi hancur dan terjal, penuh tanjakan, tikungan maut serta terlihatnya jurang disisi jalan membuat jantung saya berdegum keras. Sepanjang jalan yang terjal itu, saya hanya berpikir, gagal melihat terbitnya sang surya tidak masalah asal bisa selamat sampai ke puncak. Entah berapa lama melewati jalan berliku itu, saya yang mengantuk pun tidak bisa tidur karena membayangkan kengerian jalan yang dilewati.

Berlalu dalam diam. Hanya diam dan berharap cepat sampai dengan selamat, itu yang saya inginkan. Di tengah degup jantung yang semakin cepat, tiba-tiba di suatu tanjakan, terlihatlah beberapa jeep yang sedang parkir di pinggir jalan. Raut gembira terlihat di muka para penumpang jeep lainnya tapi tidak bagi saya, udara dingin yang jauh lebih dingin dari AC kamar menjadi salah satu bagian lain yang saya takuti. Sebagai orang yang memiliki alergi terhadap udara dingin tentunya saya ingin hidung ini baik-baik saja disana.

Saat membuka pintu jeep, langsung saja udara dingin menghampiri dan membuat kepala saya terasa beku, tanpa penutup kepala saya mencoba bertahan namun ternyata tak mampu akhirnya saya membeli penutup kepala seharga lima belas ribu. Untuk menahan udara dingin, jaket yang saya kenakan masih sanggup untuk meladeninya jadi tidak perlu menyewa jaket tambahan.

Persiapan naikpun dilakukan namun beberapa langkah ketika mulai menaiki tanjakan yang berupa tangga, kepala saya merasa terasa berputar, sebagai pemilih kepala saya merasa sepertinya saya tak mampu untuk naik dan melanjutkan sampai ke puncak. Saya merasa saat itu akan gagal melihat sang surya.

Kepala yang pusing dan muka yang pucat membuat saya melupakan sejenak untuk naik ke puncak dan membiarkan teman-teman yang lain berlalu hingga hilang dari pandangan. Bersama beberapa teman yang lainnya yang belum berangkat, kami mencoba mengisi perut yang kosong [ya, saya belum makan sejak sore hingga subuh] mungkin itulah penyebab pucatnya muka saya. Karena rasa lapar, kami akhirnya menyantap mie seharga sepuluh ribu perbungkus serta empat ribu teh hangat per cangkirnya.

Pengganjal perut sementara ternyata membawa efek yang baik bagi tubuh saya, napas yang sudah normal serta degupan jantung yang kembali stabil membuat kami memutuskan melanjutkan naik kembali ke puncak bromo. Puncak bromo yang dikira begitu jauh ternyata begitu dekat dari tempat kami makan, tidak sampai 10 menit ternyata kami sudah sampai di puncak bromo.

Sesak. Itu yang bisa saya lihat dari penuhnya orang-orang yang menjejali tempat itu, tempat yang di desain seperti tribun ini. Kesesakan itu pada akhirnya terbalas ketika sang surya mulai menampakkan dirinya.

subuh di bromo

Berkabut

Savana

DSCN0099

Yang menemani

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap