Sekolah Favorit dalam Perspektif Sepakbola

Tahun ajaran baru masih menyisakan dua minggu lagi namun sekolah sudah sibuk dengan penerimaan peserta didik baru (PPDB) baik yang menggunakan sistem zonasi maupun belum. Pemerintah daerah yang melaksanakan sistem zonasi pada ppdb tahun ini tentunya berharap peserta didik bisa melanjutkan ke sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya. Penggunaan sistem zonasi juga menghilangkan kesan sekolah favorit namun bagi pemerintah daerah yang belum melaksanakan ppdb zonasi maka asumsi sekolah favorit masih tetap akan berlaku. Sekolah favorit biasanya terjadi karena sistem seleksi, misalnya peserta didik berprestasi atau kaum bangsawan saja yang bisa sekolah disana maka sekolah lain hanya menerima limpahan peserta didik dengan minim prestasi. Sekolah favorit laksana sebuah klub sepakbola, selama memiliki uang maka bisa membeli para bintang lapangan hijau lainnya dan mengumpulkannya dalam satu tim. Manchester City, PSG, Real Madrid, Barcelona, Manchester United dan beberapa klub lainnya adalah contoh klub bola yang melakukan. Membeli dan menyeleksi pemain bintang dan kemudian menjadi juara dan itu wajar, tak ada yang istimewa. Begitu juga sekolah favorit, ketika menguasai setiap perlombaan baik akademik maupun non akademik maka tak ada yang spesial karena hal itu sudah bisa diketahui sejak awal.

Namun ketika sistem zonasi berlaku maka sekolah favorit mulai kehilangan pamor karena tidak lagi bisa memilah peserta didik berdasarkan prestasi namun 90 persen peserta didik berasal dari tempat tinggal terdekat dengan sekolah, sisanya lima persen baru dipilih berdasarkan prestasi, lima persennya untuk pindahan. Hal ini juga terjadi dalam turnamen bola, ketika piala dunia maka tidak lagi bebas memilih pemain layaknya klub karena memiliki syarat harus warga negara, tidak semua pemain berasal dari klub papan atas sehingga ketika turnamen piala dunia maka kolektivitas tim lebih terasa daripada saat bermain di klub. Menggabungkan pemain dari berbagai klub, menggabungkan pemain mega bintang dengan biasa saja menjadi terasa sulit namun ketika berhasil disatukan maka tim negara tersebut akan merasakan hebatnya sebuah tim. Begitu juga sekolah, sekolah favorit bukan bicara tentang kepala sekolah berprestasi, guru berprestasi atau siswa berpretasi tapi segala aspek dan unsur di dalam sekolah, mulai dari visi misi sekolah hingga warga sekolah itu sendiri. Setiap warga sekolah memiliki peran dan fungsi tersendiri sehingga tidak bisa mengerdilkan peran masing-masing warga sekolah.

Lupakan Sekolah Favorit

Ketika piala dunia digelar maka pengharapan pada beberapa negara agar mereka menjadi juara dunia sangat terasa apalagi dalam tim tersebut terdapat mega bintang. Jerman, Argentina, dan Portugal merupakan salah tiganya. Namun apa yang terjadi, Jerman tersingkir di fase grup dan menjadi juru kunci, Messi bersama Argentina tidak berdaya melawan Perancis, Ronaldo bersama Portugal tersingkir oleh Uruguay. Ya, itu karena sepakbola bukan hanya bicara satu atau dua orang hebat tapi tim secara menyeluruh mulai dari sebelas pemain inti, pemain cadangan, pelatih dan offical tim. Begitu juga sekolah, sekolah favorit tentunya bukan hanya sekadar tentang menyeleksi siswa berprestasi kemudian tetap menjadikannya berprestasi.

Dengan adanya sistem zonasi maka lupakan sekolah favorit. Pilih sekolah yang terdekat dan jadilah peserta didik hebat. Sistem zonasi juga akan memberikan pengalaman baru bagi para pendidik apalagi bagi sekolah yang terbiasa mendapat peserta didik diatas rata-rata namun kini sama rata maka tentunya sekolah akan berlomba memberikan yang terbaik dan membuktikan bahwa mereka favorit walau dengan pembagian siswa sama rata. Hal ini pada dasarnya akan memberikan kompetisi yang positif pada sekolah negeri sehingga mereka akan berlomba memberikan yang terbaik sekaligus prestise kepada peserta didik baru bahwa mereka tidak salah pilih sekolah.Sekolah juga harus belajar membuang rasa bahwa kami sekolah favorit. Setiap peserta didik yang diterima adalah peserta didik yang hebat dan akan mengukir prestasi dengan caranya sendiri.

Perubahan Pemikiran

Terlepas dari sistem zonasi, dulu sekolah-sekolah negeri selalu kebanjiran siswa sehingga terpaksa melakukan seleksi untuk bisa menerima peserta didik baru (PPDB) namun kini arah pemikiran orangtua dalam memberikan pendidikan mengalami perubahan. Seperti halnya di tempat penulis berada, sekolah-sekolah berbasis agama, baik itu sekolah islam terpadu, Madrasyah Tsanawiah, hingga pesantren mulai menggerus jumlah peserta didik baru setiap tahunnya. Orangtua kini lebih berorientasi pada sekolah yang pendidikan agamanya kuat ketimbang menyekolahkan anak di sekolah yang hanya pendidikan agamanya 3 jam perminggu.

Tentu hal ini menjadi masalah sekaligus tantangan bagi sekolah negeri. Tentu tidak mungkin melebihkan jumlah jam pelajaran agama setiap minggu karena itu sudah keputusan dalam kurikulum. Salah satu yang bisa menjadi daya saing bagi sekolah negeri kini hanya ada di basis ekstrakurikuler, seberapa mampu dibagian itu sekolah bersaing. Entah menguatkan ekstrakurikuler berbasis agama, budaya ataupun masyarakat. Sekolah negeri harus punya kelebihan dan itu akan menjadi jawaban tantangan menghadapi era persaingan sekolah di abad 21. Sekolah tidak bisa hanya sekadar menjadi tempat menggelentorkan ilmu dan berpretasi secara akademik maupun non akademik namun juga harus mengajarkan keterampilan. Dengan kata lain, apa keahlian atau keterampilan yang nantinya akan didapatkan peserta didik saat mereka telah lulus dari sekolah tersebut.

Belajar Dari Tim Sepakbola

Sebagai sebuah tim, seorang pemain bola tidak bisa mengedepankan egonya sendiri dalam mengocek bola. Harus memberikan umpan kepada teman agar permainan terus berlangsung. Sama seperti halnya sekolah, sekolah terdiri dari berbagai unsur seperti kepala sekolah, guru, siswa, orangtua siswa serta warga sekitar. Dalam melaksanakan pengelolaan sekolah, kepala sekolah layaknya seorang manajer tim yang menentukan siapa yang akan bermain, formasi apa yang akan dipakai sehingga tim bisa benar-benar bisa bersaing. Sebagai seorang manajer, kepala sekolah juga tidak bisa leluasa gonta ganti formasi tanpa pertimbangan dan melihat kondisi pemain. Begitu juga dalam mengelola sekolah, kepala sekolah tidak bisa menggunakan kata hak prerogatif semena-mena tanpa kajian matang karena dikuatirkan hal itu hanya akan menimbulkan percik-percik pertentangan dari bawahan.

Sekolah harus dikelola dengan sistematis dan terstruktur agar mendapatkan hasil yang tepat. Sekolah sudah seharusnya memiliki tim kajian dalam pembelajaran, ketika selesai melaksanakan PPDB dan melihat nilai di rapor maka tim kajian pembelajaran akan menganalisis jenis pembelajaran yang kira-kira sesuai atau mendekati standar untuk menangani siswa. Selain itu, sebelum tahun ajaran baru dimulai tim kajian pembelajaran memberikan pengetahuan tambahan bagi para guru yang akan mengajar nantinya baik melalui seminar maupun lokakarya sehingga nantinya pembelajaran di dalam kelas tidak akan monoton dan pasif.

Sekolah laksana tim sepakbola, apabila dikelola dengan baik dan benar maka akan mendapatkan hasil yang terbaik namun apabila salah memilih pemain dan formasi hanya akan mengantarkan kekalahan demi kekalahan di setiap pertandingan.

Diterbitkan di Radar Banjarmasin pada tanggal 3 Juli 2018

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap