RBT, Menunggu Jadi Menyenangkan

Tut .. tut … tut …. Itulah nada sambung pribadi yang dulunya sering kita dengar. Nada itu memang tak terlalu menyenangkan namun saat itu tak ada pilihan lain selain nada tut tersebut. Tapi sejak tahun 2004, Di Indonesia telah diperkenalkan Ring Back Tone (RBT). Ring Back Tone (RBT) sendiri pertama kali diperkenalkan oleh SK Telcom Korea dengan sebutan ColoRing sejak April 2002 dan di Indonesia diperkenalkan pada tahun 2004.

RBT pada awalnya dilakukan untuk meningkatkan pendapatan di Industri musik menyusul sepinya pendapatan dari Kaset maupun CD. Dan ternyata hingga hari ini RBT menjadi salah satu pemasukkan besar bagi banyak penyanyi di Indonesia. Untuk tahun 2011 sendiri, RBT terbesar dicetak oleh grup yang dua personelnya masuk penjara karena narkoba yaitu Kangen Band.

Kembali ke masalah RBT. RBT sendiri juga berhasil membuat aktivitas menelpon jadi menyenangkan bahwa walau itu tidak diangkat oleh orang yang kita telpon. RBT sendiri biasanya dipilih oleh pemilik HP berdasarkan perasaannya saat itu. Kalau dulu, saya saat patah hati maka RBT yang keren adalah RBTnya Samson yaitu Kenangan Terindah.

Saya punya cerita tentang penggunaan RBT sewaktu masih kuliah.

Suatu ketika saat sedang ada perkuliahan tiba-tiba ada seseorang tanpa nama hanya bertuliskan nomor HP tertampil di layar HP saya. Saat diangkat ternyata suara wanita dan dia marah-marah. Setelah mulai reda amarahnya saya bertanya “Ini siapa ya?”, si wanita tersebut marah-marah lagi sambil menjawab “Pura-pura tak tahu ya?”, lalu saya bilang saja “Saya memang tidak tahu karena nomor anda tidak terdapat dalam kontak HP saya”, wanita itu mulai sadar sepertinya dia memang salah sambung dan bertanya “Kamu Andri ya?”. “bukan” sahut saya. Wanita itu pun meminta maaf kalau ternyata dia salah sambung.

Cerita salah sambung itu berakhir. Namun siapa sangka ternyata itu bukan telpon terakhir, pada malamnya kalau tidak salah sekitar jam 18.00 wita nomor itu menelpon lagi dan setelah diangkat, wanita itu bilang “Nanti kalau saya nelpon, jangan diangkat ya. Saya cuma mau dengar nada sambungnya aja!”.

Sejak malam itu memang beberapa hari selanjutnya wanita itu masih suka menelpon namun sepertinya yang dia bilang jangan diangkat karena hanya ingin mendengar nada sambungnya saja.

Pengalaman tentang punya RBT tersebut akhirnya membuat saya berpikir ternyata punya RBT itu menyenangkan bukan hanya dalam artian dengan menggunakan nada sambung pribadi kita bisa merubah tut menjadi musik namun juga aktifitas menelpon terutama menunggu orang yang kita telpon mengangkat menjadi lebih menyenangkan. RBT memang menjadikan menunggu menjadi hal yang menyenangkan.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

2 Comments

Add a Comment
  1. walaupun lama ga make RBT, tapi dulu punya pengalaman suka gonta-ganti RBT, hehe

  2. RBT menjadi penghasilan tertinggi selain penjualan album

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap