RAMADAN TAN PAHA

Judul tulisan tersebut seharusnya Ramadan tanpa H, namun sengaja disalahkan untuk membuat kita berpikir bahwa sekarang sering terjadi kesalahan dalam penulisan bahasa Indonesia yang berakibat tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Media massa baik elektronik maupun cetak sebagai alat untuk menyampaikan informasi sekaligus juga merupakan sarana tidak langsung untuk mendidik masyarakat mengenai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, terkadang melupakan hal dianggap kecil yaitu bagaimana penulisan kata yang benar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terlepas dari kebiasaan bahasa koran, yang suka menghilangkan imbuhan, yang katanya supaya lebih efektif namun terkadang malah membuat tidak mengerti. Misalnya, polisi tembak polisi. Hal itu menimbulkan pertanyaan, polisi menembak polisi atau polisi ditembak polisi. Tentu dua pernyataan tersebut berbeda arti. Namun mungkin itu sengaja, agar pembacanya bisa memahami setelah membaca karena koran memang dibuat untuk dibaca.

Salah satu contoh sering terjadinya kesalahan dalam penulisan beberapa kata yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar ialah ramadan yang sering ditulis ramadhan. Padahal dalam kamus bahasa Indonesia hal itu sudah tertulis tapi mungkin para editornya tidak mengetahui atau mungkin juga malah tidak pernah membuka kamus bahasa Indonesia . Selain tulisan ramadan yang ditulis ramadhan, tulisan imsak juga sering ditulis imsyak, tulisan rida juga ditulis ridha, begitu juga salat terkadang ditulis shalat.

Hal-hal tersebut mungkin dianggap kecil oleh sebagian kalangan namun sebenarnya itu adalah hal besar, bagaimana mungkin kita bisa menghargai bahasa kita sendiri yaitu bahasa Indonesia kalau kita sendiri tidak mengetahui bagaimana penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kesalahan penulisan yang sering terjadi di media massa sering berdampak pada tata cara penulisan yang dilakukan oleh orang. Misalnya saja, saya pernah bilang bahwa ramadan tidak perlu ditambahi huruf h namun dia mangarasi harus pakai h, karena di koran kayaitu tulisannya. Artinya masyarakat menganggap bahwa apa yang ditulis di media massa sudah merupakan ejaan yang benar dan telah disempurnakan padahal tidak semuanya itu benar. Contohnya seperti kata yang diatas tadi.

Selain di media massa, kesalahan juga terjadi pada beberapa spanduk atau baleho yang digunakan oleh perusahaan atau partai politik yang ingin mengucapkan selamat ramadan untuk mereka yang menjalankannya.
Namun kesalahan penulisan tidak hanya terjadi pada hal-hal non formal tapi juga pada hal-hal formal. Misalnya; pada penulisan surat resmi. Ada beberapa kesalahan yang sering ditulis, misalnya; izin masih ditulis ijin, sistem ditulis sistim, asas ditulis azas.
Kesalahan-kesalahan seperti itu seharusnya tidak perlu terjadi kalau kita selalu mengikuti perkembangan dunia kebahasaan. Salah satunya dengan cara sering membaca kamus bahasa Indonesia .

Namun hal itu tidak sepenuhnya salah pada media massa, tapi juga pada balai bahasa yang tidak tanggap terhadap adanya kesalahan tersebut.
Terlepas dari semua pernyataan di atas, kita semua berharap agar media massa lebih selektif dalam menulis sebuah kata serta juga pusat bahasa agar lebih tanggap apabila ada kesalahan dalam penulisan yang ada di media massa. Sehingga slogan atau spanduk atau juga baleho yang sering ada di jalanan tidak terkesan mubazir. Karena buat apa tulisan, sayangilah bahasamu sebelum kamu menyayangi bahasa orang lain tapi kita sendiri tidak tahu bagaimana tulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

(Dimuat di Radar Banjarmasin, 10 Oktober 2007)

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap