Premanisme Demonstran

Belum selesai otak ini berpikir kenapa mahasiswa bila berdemonstrasi terkadang bersifat anarki hingga menghancurkan fasilitas publik maupun fasilitas kampus mereka sendiri.

Dengan mengatasnamakan rakyat terkadang mereka menghancurkan fasilitas yang dibeli dari uang pajak rakyat seperti mobil dinas, ruang dinas baik itu pejabat pemerintahan maupun ruangan DPRD. Belum lagi masalah kenapa setiap demo harus mesti membakar ban bekas di jalanan yang terkadang menyusahkan rakyat untuk melintas ataupun membuat pekerjaan petugas kebersihan menjadi bertambah karena terkadang ketika demo ada saja sampah yang berserakan.

Dan tiba-tiba saja dikejutkan oleh berita tentang meninggalnya ketua DPRD Sumut Abdul Azis Angkat saat terjadi demonstrasi penuntutan pembentukan propinsi Tapanuli. Otak inipun jadi berubah tak karuan hingga terpikir “beginikah budaya orang Indonesia sekarang” ketika mereka menyatakan sesuatu harus menghancurkan fasilitas publik. Apalagi masalah propinsi Tapanuli itu katanya hanya tinggal masalah administrasi yang artinya tinggal selangkah lagi akan menjadi propinsi.

Namun ngomong-ngomong masalah pemekaran wilayah, aku terkadang merasa itu tidak terlalu penting bagi masyarakat karena pemekaran wilayah terkadang diidentikkan dengan pembagian kekuasaan bahkan katanya 80% pemekaran wilayah tidak berhasil kecuali satu yang mereka hasilnya ialah membebani APBN negeri ini.

Bagiku demo itu wajar selama itu bersifat damai namun ketika sudah kelewat kurang ajar maka harusnya polisi bertindak dengan cepat. Namun aku juga sadar polisi terasa sulit ketika menghadapi situasi seperti itu karena terkadang media akan menyoroti banyak hal hingga akhirnya menyimpulkan polisi melanggar HAM padahal ketika dilapangan terasa sulit untuk mengontrol diri ketika menghadapi orang-orang yang juga tidak mengontrol diri. Mungkin polisi saat itu juga berpikir polisi juga manusia yang punya batas kesabaran dan terjadilah hal-hal yang pada akhirnya oleh media dianggap pelanggaran HAM.

Sudah saatnya masyarakat Indonesia lepas dari hegemoni demokrasi yang bablas ini dan sadar bahwa demokrasi itu untuk perdamaian bukan kerusuhan.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

4 Comments

Add a Comment
  1. I hate kekerasan coz i luv peace.. berita kayak gini malah bikin nama salah satu suku jadi agak kurang enak citranya

  2. Peristiwa di Medan ini adalah sebuah peristiwa yang memalukan dalam proses pembelajaran berdemokrasi.

    Salam bubuhan Kasturi Banjar.

  3. 1. Itulah yang namanya Demokrasi berlebihan Alias DEMOCRAZY

    2. Petugas Kepolisian Perlu bertindak tegas sebelum massa masuk ruang sidang

    3. Saya Mengutuk dengan keras Kejadian serta Pelaku

  4. sayangnya manusia manusia seperti itu tidak sadar seandainya salah satu keluarganya diperlakukan seperti itu,huh…dunia memang kejam..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap