Peran Royal Golden Eagle Dalam Mengangkat Potensi Daerah Pedesaan Indonesia

Perekonomian Indonesia saat ini masih terpusat di kota-kota besar. Padahal, potensi daerah pedesaan sebenarnya tak kalah besar. Inilah yang sedang ditunjukkan oleh grup Royal Golden Eagle dengan mengangkat kawasan pedalaman.

manfaat rge

Source: Inside RGE

Saat ini, ekonomi terbesar di Indonesia berada di Jakarta. Selain menjadi ibu kota negara, Jakarta juga menjadi pusat semua kegiatan perekonomian. Kondisi ini diperkirakan bakal terus berlanjut jika tidak ada langkah perubahan yang diambil.

Lihat saja, konsentrasi penduduk masih ada di kota besar seperti Jakarta. Jakarta Globe menyebutkan pada 2010, sekitar 53 persen penduduk Indonesia berdomisili di kawasan urban. Jumlah itu diprediksi akan meningkat hingga menjadi 65 persen pada 2025 nanti.

Kalau situasi tidak berubah, masalah klasik di Indonesia akan terus berulang. Kesenjangan antara daerah perkotaan dan pedesaan bakal terus terjadi. Hal itu tengah coba diubah oleh Royal Golden Eagle. Grup yang didirikan dengan nama awal Raja Garuda Mas ini ingin berkontribusi dalam mengubah ketimpangan urban dan rural area.

Royal Golden Eagle berpegang terhadap fakta bahwa potensi daerah pedesaan sebenarnya tak kalah dibanding daerah kota. Salah satu buktinya adalah peran agrobisnis bagi perekonomian bangsa. Ternyata sektor ini tidak bisa disepelekan sama sekali.

Agrobisnis terbukti menjadi salah satu pendorong perekonomian yang vital di Indonesia. Sebanyak 15 persen Produk Domestik Bruto (PDB) negeri kita pada 2014 ternyata berasal dari sektor yang biasa dikembangkan di daerah pedesaan tersebut.

Bukan hanya itu, dampak agrikultur juga terasa nyata. Sektor ini menyerap tenaga kerja yang cukup besar di daerah pedesaan. Artinya agrobisnis berperan besar dalam mengurangi jumlah penggangguran di Indonesia.

Menurut Jakarta Globe, sebuah studi bertajuk Agriculture and Poverty Reduction yang dilakukan oleh Bank Dunia, agrobisnis bahkan berdampak amat vital bagi peningkatan taraf kehidupan masyarakat. Di sana disebutkan bahwa PDB yang berasal dari agrobisnis bermanfaat secara langsung kepada kaum miskin sebuah negara sebanyak dua kali lipat dibanding sektor lainnya.

Hal itu terkait erat dengan penyerapan tenaga kerja secara massal dari sektor agrobisnis. Sebagai contoh kondisi pada 2012 di Indonesia. Agrobisnis ternyata mampu menyerap tenaga kerja hingga 49 juta orang. Jumlah ini lebih dari 41 persen total tenaga kerja dan berkisar 36 persen dari total penduduk negeri kita pada saat itu.

Dalam segi ini, Royal Golden Eagle berperan besar. Sebagai korporasi yang menjadikan agrobisnis sebagai basis bisnis utamanya, RGE ikut memberi kontribusi baik dalam PDB maupun penyerapan tenaga kerja.

Grup yang sempat bernama Raja Garuda Mas ini berkecimpung dalam pemanfaatan sumber daya alam. Mereka mengembangkan industri kelapa sawit, pulp and paper, selulosa spesial, serta pengembangan energi. Basis sebagian besar operasional bisnis RGE juga berada di kawasan pedesaan. Di sana Royal Golden Eagle mendirikan pabrik hingga mengelola hutan tanaman industri.

MANFAAT RGE TERHADAP PEDESAAN

Selain itu, sebagai korporasi yang menjadikan agrobisnis sebagai salah satu bidang yang digeluti, sangat banyak tenaga kerja yang diserap oleh Royal Golden Eagle. Tidak kurang dari 60 ribu orang telah diserap sebagai karyawannya di seluruh dunia.

Royal Golden Eagle juga bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dalam program pengembangan kawasan pedesaan secara nyata. Salah satu contoh yang bisa dikedepankan ialah pelaksanaan program Perkebunan Inti Rakyat (PIR).

Kegiatan ini digagas oleh pemerintah pada 1987. Dengan maksud untuk menyeimbangkan populasi penduduk di antara semua kawasan di Indonesia, warga difasilitasi untuk pindah ke luar Pulau Jawa. Di sana mereka diberi sebidang tanah seluas dua hektare dengan tujuan agar dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan dan pertanian.

Keterlibatan swasta dalam PIR sangat besar. Mereka dijadikan sebagai pendamping petani dalam sistem plasma dan inti. Dengan bimbingan korporasi besar, petani diberi kesempatan untuk mengembangkan lahannya. Perusahaan besar nanti yang akan menampung hasilnya sembari mengembangkan kawasan dengan infrastruktur yang dibutuhkan.

Royal Golden Eagle merupakan salah satu pelaku PIR terdahulu di Indonesia. Mereka mendampingi para petani plasma yang mengelola perkebunannya di Provinsi Riau. Pendampingan yang diberikan mulai dari cara pengelolaan lahan pertanian yang baik, penyediaan pupuk, hingga mendampingi dalam proses sertifikasi berkelanjutan.

Hasil yang didapat sangat positif. Petani plasma binaan RGE terbukti memiliki taraf hidup yang baik. Kondisi itu tergambar dari tingkat pendapatannya yang tinggi. Sebagai bukti adalah data yang dipaparkan oleh Badan Pusat Statistik pada 2015.

Saat itu, BPS merilis PDB per kapita rakyat Indonesia pada 2015 adalah Rp3,2 juta. Jumlah itu lebih tinggi dibanding upah minimum Provinsi Riau yang hanya mencapai Rp1,7 juta. Namun, penghasilan para petani plasma RGE jauh lebih tinggi. Per bulan rata-rata mereka meraup pendapatan sebesar Rp5,5 juta.

Salah satu anak perusahaan RGE yang bergerak dalam industri kelapa sawit, Asian Agri, dapat menjadi contoh. Sebagai salah satu perusahaan terbesar dalam bidang tersebut, Asian Agri berkontribusi besar dalam penyerapan tenaga kerja. Lihat serapan pekerja dari sektor palm oil mencapai lima ribu hingga enam ribu orang per tahun.

Anak perusahaan RGE lainnya seperti APRIL Group juga memberikan kontribusi serupa. Berbasis di Riau, APRIL menunjukkan peran penting bagi penyerapan tenaga kerja di sana. Industri pulp and paper yang ditekuni tercatat menciptakan lebih dari lima puluh ribu tenaga kerja.

Jumlah itu melonjak lebih banyak jika ditambah dengan pekerjaan tidak langsung yang muncul berkat keberadaan APRIL. Tercatat ada sembilan puluh ribu lebih lapangan kerja yang tercipta akibat kiprah APRIL di Riau.

Tentu saja hal itu berdampak besar bagi perekonomian Riau. Hasil penelitian Unit Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Indonesia mencatat keberadaan APRIL ternyata berpengaruh terhadap sekitar 5,4 persen rumah tangga di Riau. Sejak kehadiran anak perusahaan grup yang bernama awal Raja Garuda Mas tersebut, pendapatan keluarga di sana meningkat 2,36 kali lipat.

Akibatnya dampak APRIL bagi ekonomi Riau sangat signifikan. Unit Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Indonesia menyebutkan 6,9 persen perekonomian Riau berasal dari operasi APRIL. Selain itu, berkat kehadiran anak perusahaan RGE tersebut, pendapatan provinsi Riau naik 2,29 kali lipat. Ditelaah lebih detail lagi, APRIL juga berperan penting terhadap peningkatan penghasilan pekerja di sana yang mencapai 5,70 kali lipat.

APRIL juga secara nyata memperlihatkan bahwa daerah pedesaan bisa maju asalkan potensinya dimaksimalkan. Hal itu diperlihatkan oleh salah satu unit bisnisnya, yakni PT Riau Andalan Pulp & Paper. Mereka bisa memajukan daerah pedesaan seperti Pangkalan Kerinci menjadi kawasan yang maju dan dinamis.

Hal itu tidak lepas dari putusan PT RAPP menjadikan Pangkalan Kerinci sebagai basis produksi dan hutan tanaman industrinya. Berkat itu, daerah yang dulu hanya dihuni sekitar 200 orang pada era 1990-an menjadi daerah maju yang ditempati 102.296 orang per 2015.

Fakta di Pangkalan Kerinci bisa menjadi inspirasi bagi daerah pedesaan lain di Indonesia. Asalkan mau memaksimalkan potensinya, kawasan terpencil bisa berkembang pesat. Royal Golden Eagle telah menunjukkan contoh dan cara melakukannya.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap