Peran Media dalam “perang” POLRI dan KPK

Perseteruan POLRI dan KPK (kata media) bertambah runcing sejak ditahannya bibit dan chandra oleh POLRI apalagi penahanan itu terkesan mendadak setelah tersebarnya transkrip rekaman rekayasa kriminalisasi KPK.

Penahanan yang berdasarkan ‘ketakutan’ bahwa kedua mantan wakil ketua KPK itu akan melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan mengulangi perbuatannya serta terlalu membentuk opini publik yang membuat masyarakat bingung adalah hal ‘bodoh’ yang pernah aku dengar, mereka (bibit dan chandra) adalah wakil ketua non aktif artinya tidak mungkin mengulangi perbuatannya kembali serta mereka juga dicekal artinya tidak mungkin melarikan diri dan tuduhan terlalu membentuk opini publik bagiku seakan-akan POLRI membelenggu kebebasan berpendapat, kalau mereka (polri) memang punya bukti yang kuat, kenapa harus takut pada opini publik. Buktikan kalau mereka (polri) benar dalam bertindak.

Terlepas dari statementku tadi mengenai masalah alasan kenapa mereka ditahan, itu bukan berarti aku hanya akan memberi opini dari satu pihak karena bagiku perseteruan yang terlalu ‘dibesarkan’ oleh media ini hanya akan membuat kinerja kedua instansi ini tidak akan terlihat karena media sibuk ‘menggalang’ opini tentang siapa yang salah dalam perseteruan POLRI dan KPK.

Bagiku pemberitaan tentang perseteruan ini, tidak lebihnya seperti pemberitaan berita-berita yang lain yang mendadak terkenal seperti penyerbuan sarang teroris atau juga berita bencana yang hampir itu – itu saja beritanya namun setelah beberapa waktu kemudian lenyap. Bagiku berita itu harusnya biasa saja namun terus update daripada digemborkan namun setelahnya sunyi.

Ada baiknya media (cetak maupun elektronik) memberitakannya tak terlalu berlebihan karena seakan-akan media ingin menggiring opini bahwa kedua mantan wakil ketua KPK itu benar dan kinerja POLRI salah. Bukankah media harus bersifat adil dalam pemberitaan, tidak boleh berat sebelah apalagi sampai para pembawa acaranya terkesan ingin mengatakan bahwa KPK benar dan POLRI salah.

Biarkanlah penyelidikan yang berlangsung ini tanpa harus dibumbui rasa curiga apalagi kalau ternyata opini yang berkembang ini ternyata salah maka itu bisa jadi akan menjadi sebuah pemfitnahan masal dan tentu kita harus bertanggungjawab atas kata-kata kita.

Jadi, biarkan ini berjalan sesuai prosedur (tentu didampingi dengan pengawasan dari semua pihak) dan waktu yang akan menentukan siapa yang benar dan salah, jangan kita menghakimi sesuatu hanya berdasarkan rasanya, sepertinya, dll.Dan satu hal lagi, jangan hanya karena permasalahan yang terjadi di kedua institusi ini berakibat tidak berjalannya kinerja kedua institusi ini baik POLISI dalam hal pengamanan dan juga KPK dalam pemberantasan korupsi.

Akhir kata, Maju terus KPK dan POLRI… Maju terus pemberantasan korupsi negeri ini jangan biarkan koruptor itu tertawa dengan perseteruan kalian. Basmi Korupsi tanpa kompromi.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

2 Comments

Add a Comment
  1. hmmmm pasti ad konspirasi tingkat tinggi nih

  2. saya merasa sedih dengan kasus bibit-chandra ini. Disatu sisi, saya memuji langkah plt. kejakgung Darmono yang melakukan deponeering terhadap kasus ini dengan alasan demi terlaksananya kepentingan umum yang lebih besar. Tapi mengapa harus deponeering ?? bukankah dengan deponeering tersebut kasus bibit-chandra ini menjadi menggantung dan publik bisa menganggap ada diskriminasi hukum terhadap mereka. Bukankah masih banyak sekali cara lain yang dianggap "berwibawa" untuk mereka. Misal dengan mengajukan abolisi oleh presiden terhadap kasus ini saya anggap malah lebih berwibawa buat bibit-chandra..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap