Rumah Shaleh

Berbagi Untuk Negeri

Pentingnya Budaya Mawarung di Ruang Guru

Urang Banjar katuju mawarung. Itu acapkali didengar dalam berbagai pamandiran dengan teman walau tidak ada penelitian ilmiah tentang hal ini namun secara tidak langsung hal itu bisa terlihat. Kebiasaan ke warung (rumah makan) tentu bukan hanya sekedar tentang soal makan. Dalam banyak hal, mawarung banyak terselip banyak kisah mulai yang perlu pemikiran semacam politik, hukum dan ham sampai yang membuat tertawa karena nang tukang kisah mahalabiu. Budaya mawarung yang tumbuh subur di sepanjang jalan dan tikungan gang sepertinya harus ditingkat lagi hingga memasuki ruang guru.

Beberapa hari terakhir, ruang guru di sekolah saya terasa ramai dan menyenangkan. Tentu hari biasa juga ramai dan menyenangkan namun kali ini suasananya berbeda, ada seorang guru yang suka membawa makanan ke sekolah dan meletakkannya di dalam toples, kemudian menyiapkan minuman hangat semacam teh atau kopi. Sebenarnya tak ada yang istimewa dalam hal itu namun menjadi berbeda karena itu murni kantong pribadi bukan dari dana sekolah. Meja si Ibupun menjadi ramai dan sering didatangi guru lain termasuk penulis demi sekedar mencicipi. Laksana mawarung di pinggir jalan, kegiatan mawarung di ruang guru tersebut juga terasa mirip karena si Ibu bertindak seperti halnya penjual dengan membuat dan menuangkan minuman ke dalam cangkir para guru yang datang ke meja beliau. Namun ada hal berbeda daripada mawarung di pinggir jalan atau di dalam gang. Selain berbeda menu tentu arah pembicaraannya juga berbeda, kalau di pinggir jalan topik bisa merambah ke segala arah maka di ruang guru arah pembicaraan lebih tertata, hanya di seputaran dunia pendidikan baik lingkup sekolah maupun negara, cerita anak didikĀ  yang rajin atau pangulir dan banyak hal ringan lainnya.

Namun tentu bukan hanya itu yang bisa diambil sisi positifnya dari budaya mawarung di ruang guru. Kekeluargaan, kesibukan guru dalam mengajar apalagi guru-guru sertifikasi yang memiliki kewajiban jumlah tatap muka minimal 24 jam perminggu maka interaksi di dalam ruang lebih rendah dari guru yang belum sertifikasi dan jumlah tatap mukanya kurang dari 24 jam. Pertemuan antarguru hanya akan terjadi dalam rentang jam istirahat dan dalam waktu yang singkat. Kedekatakan saat mawarung akan menimbulkan rijut-rijutĀ  kebersamaan, kadangkala malah dari bakisah saat mwarung timbullah ide untuk melakukan kegiatan positif seperti arisan sekolah atau juga hal lainnya. Kebersamaan, ditengah hiruk-pikuk administrasi guru yang menumpuk baik itu daring maupun luring, mawarung dalam ruang guru tentunya akan menimbulkan rasa kebersamaan. Keterbukaan, sebagaimana mawarung pada umumnya tentu ada yang kisah-kisah yang akan menjadi topik utama, dari hal itu seringkali terselip curahan hati yang tidak sengaja baik tentang saat mengajar di kelas, menghadapi peserta didik yang aktif di kelas atau bisa juga cerita lainnya. Keterbukaan biasanya terjadi karena ada kemiripan dari kisah yang menjadi topik dan berakhir menjadi cerita panjang. Hal yang terpendam dalam hatipun bisa keluar begitu saja saat kebersamaan di warung ruang guru. Dari keterbukaan tentang berbagai masalah yang dihadapi, seringkali mendapat solusi dari rekan guru yang lain berdasarkan pengalaman mereka.

Selain sisi positif, tentunya budaya mawarung di ruang guru juga menyisakan sisi negatif karena dikuatirkan akan mengganggu kegiatan belajar mengajar peserta didik. Guru yang keasyikan di warung akan menjadi malas mengajar. Namun berdasarkan pengalaman penulis beberapa hari ini, sisi negatif itu belum dan semoga tidak terjadi. Mawarung di ruang guru tentunya bukan hanya seperti hal yang penulis sampaikan tapi yang penting di ruang guru terdapat kegiatan hal-hal yang mirip mawarung semisal sekolah menyediakan konsumsi bagi para guru atau bisa juga membeli sendiri dari kantin sekolah.

Budaya mawarung tentunya harus tetap dilestarikan bahkan bisa dibilang penting agar para guru tetap bisa tertawa dan bahagia di tengah tumpukan PR administrasi sekolah serta perubahan kurikulum yang selalu terjadi ketika berganti menteri.



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat’08 & Universitas Negeri Surabaya’16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap