Pengalaman Pertama Jadi Guru

shaleholic.com – Ini sebenarnya hanya cerita lama namun saya mencoba untuk kembali mengingat pengalaman pertama menjadi seorang guru. Pengalaman yang tak sesuai dengan teori dan PPL saya sewaktu masih kuliah di FKIP Unlam. Entahlah, pernah terlintas dalam benak ini agar PPL itu dihapus saja dari FKIP Unlam dan menggantinya dengan PKL saja seperti di masa lampau karena pada kenyataannya PPL tidak terlalu membantu saat menghadapi situasi yang berbeda ketika di lapangan. PKL mungkin lebih cocok untuk mahasiswa yang ingin menjadi guru karena mereka bisa langsung berinteraksi dengan masyarakat lokal.

Kenangan ini dimulai di tahun 2008 saat saya menyelesaikan kuliah di FKIP Universitas Lambung Mangkurat dan tak berapa lama saya selesai kuliah tiba-tiba ada penerimaan CPNS. Awalnya saya tidak terlalu berminat karena saya sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta namun karena bujukan orangtua yang mengatakan ‘ikutlah mendaftar, sekali ini saja kalau tidak lolos, ya sudah, kamu bekerja saja kembali di Banjarmasin. Kamu ikut sekalian menerapkan ilmu yang didapat saat kuliah’. Karena tak ingin membuat kecewa orangtua serta mencoba menerapkan ilmu yang saya dapat saat duduk di bangku kuliah akhirnya saya putuskan ikut mendaftar. Sayapun balik ke Hulu Sungai Selatan untuk ikut mendaftar CPNS di Kampung Halaman saya. Singkat cerita, ternyata saya lulus tes CPNS dan pada awal tahun 2009 akhirnya dilantik menjadi CPNS dengan jabatan Guru.

Dalam SK pengangkatan saya tertulis bahwa saya di tempatkan di SMPN 4 Daha Selatan. Tempat yang lumayan jauh dari tempat saya tinggal sekitar kurang lebih 30 Km. Sehari setelah dapat SK pengangkatan tersebut saya langsung datang ke sekolah tersebut untuk meminta surat pernyataan melaksanakan tugas dan ternyata sekolah tersebut adalah sekolah satu atap (SATAP) atau dengan kata lain sekolah tersebut bergabung dua dengan sekolah dasar (SD) bahkan kepala sekolahnya saat itu adalah kepala sekolah SD walaupun itu cuma sementara sampai SMP tersebut mendapatkan kepala sekolah definitif.

PENGALAMAN ITU DIMULAI

Setelah meminta surat pernyataan melaksanakan tugas akhirnya saya bertugas di SMPN 4 Daha Selatan bersama tujuh teman saya yang lain (sama-sama baru diangkat jadi guru) namun ternyata sekolah itu tak punya murid sama sekali padahal sekolah itu berdiri sudah tiga tahun bahkan sudah satu kali meluluskan muridnya. Kemana muridnya? Itu pertanyaan pertama dalam benak saya ketika melihat ruang murid sunyi senyap karena merasa tak ada murid. Kamipun melapor kepada kepala sekolah sementara SMPN 4 Daha Selatan dan beliau berkata ‘sebenarnya dulu punya murid namun karena gurunya bukanlah guru yang ditempat di sekolah ini jadinya mengajarnya tidak penuh. Akhirnya ketika orangtua murid melihat bahwa anak-anaknya lebih banyak libur daripada belajar akhirnya mereka memutuskan untuk menyekolahkan anak-anaknya ke pondok pesantren’. Saat pembicaraan itu beliau berjanji akan mencarikan murid-murid baru.

Beberapa hari berlalu, sekolah kamipun tak juga punya murid. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, akhirnya menjelang satu bulan, kami masih juga belum bisa mengajar karena tak ada murid satupun. Setelah sebulan berlalu akhirnya kami mendapatkan murid baru walaupun sebenarnya mereka murid lama karena pernah sekolah di SMPN itu juga namun berhenti karena gurunya sering tidak ada. Murid baru ini jumlahnya cukup mengejutkan saya, kelas VII ‘cuma’ ada dua orang dan kelas VIII ada tiga orang jadi jumlah total muridnya cuma lima orang.

TEORI dan PRAKTIK

Hal pertama yang saya lakukan ketika mengajar mereka berlima adalah mencoba menerapkan teori-teori yang dulu pernah didapat saat kuliah namun apa daya ternyata itu hanya berkutat dalam benak saja karena sebagian teori itu luluh lantak ketika berhadapan dengan kenyataan. Kalau sekolah harus menggunakan baju seragam dan pakai sepatu maka itu tidak berlaku bagi murid saya, mereka ke sekolah pakai kaos oblong, celana jeans dan sandal jepit. Belum lagi, saat melaksanakan Ulangan Kenaikan Kelas, dimana jadwal masuknya adalah 08.00 wita namun tak ada satupun muridnya yang datang hingga pukul 09.00 wita mereka masih juga belum datang akhirnya gurunya yang menjemput mereka ke rumah masing-masing dan ternyata masih kurang satu orang dan ternyata yang satu orangnya malah sedang memancing di belakang sekolah. Sungguh menggelikan, seandaikan mereka sekolah di kota tentu semua sudah tidak naik kelas :).

Belum lagi, ketika mengajar ternyata muridnya ini masih terbata-bata dalam membaca tulisan dan sering salah dalam menulis ejaan maka bertambah rumitlah sang guru selain mengajarkan, si guru juga harus mendidik mereka dari dasar akhirnya walau mereka sudah SMP namun pembelajarannya terkadang masih seperti SD.

Dulu saat masih kuliah memang pernah melakukan praktik lapangan namun itu hanya dilakukan di kota Banjarmasin saja praktiknya jadi muridnya banyak, bisa diatur, sarana dan prasana nyaman, dll. Namun ketika lulus maka kita berhadapan dengan kenyataan yang berbeda 180 derajat. Akhirnya kita belajar bersama bagaimana mengelola murid yang ‘sedikit’, rada malas, sulit diatur.

Itu baru masalah sekolah, tak berapa lama tibalah musim hujan dan ternyata jalan menuju sekolah itu kebanjiran. Sekolahnya sendiri tidak kebanjiran karena lumayan tinggi. Maka akhirnya untuk mencapai sekolah tersebut hanya bisa dilakukan menggunakan perahu kecil (Bahasa Banjar : Jukung) padahal saya tidak bisa berenang :). Namun apalah daya demi sebuah tugas saya mencoba memberanikan diri naik perahu tersebut.

Inilah beberapa dokumentasi yang pernah terekam di masa-masa itu (sekarang sudah tak pernah kebanjiran lagi) :

Salah satu sekolah (SDN) kebanjiran yang dilalui saat menuju tempat kerja

Akses jalan menuju sekolah saat banjir

Halaman Sekolah Kebanjiran

Kolam renang tak ada, Halaman Sekolah pun jadi

transportasi sungai

Alat transportasi saat banjir

guru teladan

Walau banjir harus tetap ke sekolah tapi harus tetap terlindungi #pakai helm

Itulah pengalaman pertama saat menjadi guru namun kalau naik jukung bukan pertama sih karena dulu-dulu juga pernah, kan (Alm) Kakek dan (Alm) Nenek asli urang Nagara jua 😀

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

6 Comments

Add a Comment
    1. wkwkwkwk krn memang tak ada pilihan lain 😀

  1. Muhammad Rudy Gustianoor Rahman

    wow 5 murid gmana tuh ceritanya om sekarang png sudah berapa muridnya?

    1. 5 org blajarnya privat ja, kd prlu papantulis lagi, lngsung bahadapan satu lwn satu tp skrg udah naik 10 kali lipat jadi 50 org

  2. mengharukan sekali pak 🙂

  3. luar biasa perjuangan anda……… terusssskannnnnnn

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap