Pendidikan Untuk Semua (Renungan Hari Pendidikan Nasional)

Aku tak akan banyak mengatakan apapun di hari Pendidikan Nasional kali ini. Sebagai seorang pengajar tentu aku hanya berharap bahwa pendidikan tidak hanya dimonopoli oleh mereka yang tinggal di kota terutama dalam hal sarana dan prasarana pendidikan.

Selain itu, aku juga termasuk orang yang tidak menyetujui adanya UN karena bagiku UN adalah sebuah pembodohan pada siswa serta mengajarkan bahwa sesuatu itu hanya dinilai dari hasil akhir dan bukan pada proses untuk mencapai nilai akhir.

Lihatlah bagaimana siswa sangat “bernafsu” ingin sekali membeli kunci jawaban UN atau sekolah yang tidak ingin malu dan akhirnya memberikan jawaban kepada muridnya. Itulah bentuk dampak buruk UN, siswa dan sekolah akhirnya takut pada hasil akhir dan mulai mengabaikan prosesnya.

Dan kalau itu sudah tertanam kuat bahwa yang penting hasil UN baik dan lulus 100% maka itu akan membuat siswa menjadi kurang kreatif dan bersemangat belajar dan mungkin bisa jadi gurunyapun akhirnya jadi malas-malasan dalam mengajar karena merasa tidak dihargai jerih panyahnya selama tiga tahun.

Penilaian UN yang menggunakan mesin komputer juga sedikit banyak telah melukai perasaan guru, bagaimana tidak, mengajar tiga tahun namun hasil akhirnya ditentukan oleh mesin. Dan satu hal lagi, penggunaan mesin komputer dalam penilaian juga telah mengabaikan arti dari mendidik. Bukankah guru tugasnya tidak hanya mengajar tapi juga mendidik. Mengajar dengan memberikan ilmu dan mendidik menjadikan muridnya punya akhlak yang baik.

Tidak dipertimbangkannya faktor akhlak dalam hasil UN juga memberikan efek bahwa mata pelajaran Agama tidak diperlukan lagi di sekolah karena tidak akan juga dipertimbangkan penilaiannya.

Selain itu, UN yang hanya mengandalkan 4 mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA memberikan kesan negatif pada mata pelajaran lain hingga membuat siswanya menganggap sepele mata pelajaran lain. Padahal semua mata pelajaran itu penting namun itu tadi bahwa hasil akhir lebih berharga dari proses mencapai nilai akhir.

Namun aku tetap berharap bahwa pendidikan di Indonesia bisa terus berbenah agar menjadi lebih baik dan

PENDIDIKAN UNTUK SEMUA BUKAN HANYA UNTUK MEREKA DI KOTA TAPI JUGA DI DESA, BUKAN HANYA UNTUK ORANG KAYA TAPI JUGA ORANG MISKIN, BUKAN HANYA UNTUK YANG NORMAL TAPI JUGA UNTUK YANG CACAT ….

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap