Pendidikan Bukan Hanya Masalah Nilai

Mengenang Pertama Kali Mengajar

Sebelum memulai menulis saya mencoba untuk mengenang kembali bagaimana saya merasa terkejut ketika pertama kali mengajar di sekolah saya di SMPN 4 Daha Selatan. Pertama ditugaskan disana pada awalnya saya menduga muridnya akan ada walaupun mungkin tak seberapa karena saya tahu bahwa di  daerah tempat saya ditugaskan, SMPN kalah bersaing dengan MTsN maupun Pesantren tapi ternyata saya malah tak menemukan satupun murid untuk diajar. Bahkan hingga beberapa minggu sejak penugasan pertama, kami yang ditugaskan disana belum juga mempunyai murid padahal SMPN itu sudah pernah meluluskan angkatan pertama.

Setelah beberapa minggu berlalu, akhirnya kami berhasil mendapatkan murid. Murid kelas VII ada dua orang dan murid kelas VIII ada tiga orang walaupun sudah punya murid tapi ada sedikit hal yang mengganggu yaitu mereka tak memakai seragam saat ke sekolah tapi datang pakai kaos oblong, celana jeans dan sandal jepit. Sekolah ini tak seperti bayangan saya ketika pertama kali PPL saat kuliah dimana kelasnya ada banyak murid dan semua memakai seragam sekolah.

Kenangan itu tidak hanya tentang murid tapi juga bagaimana sulitnya ke sekolah saat musim hujan tiba dan mendadak akses menuju sekolah terendam banjir yang pada akhirnya mengharuskan para guru naik jukung (Perahu kecil dalam bahasa Banjar). Berikut beberapa dokumentasi kenangan saat pertama kali mengajar di sekolah.

Salah satu sekolah (SDN) kebanjiran yang dilalui saat menuju tempat kerja

Akses jalan menuju sekolah saat banjir

Halaman Sekolah Kebanjiran

Kolam renang tak ada, Halaman Sekolah pun jadi

Alat transportasi saat banjir

Walau banjir harus tetap ke sekolah

Pendidikan Berbasis Nilai

Saya memang belum lama jadi guru, baru tiga tahun lebih saya menjalani profesi ini dan di tempatkan di wilayah pinggiran Kalimantan Selatan namun sepertinya saya bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa pendidikan di Indonesia ini berbasis pada nilai (angka). Kenapa saya mengambil kesimpulan itu, hal itu didasarkan pada Ujian Nasional (UN) yang sangat fokus dengan nilai tanpa memperdulikan hal-hal lain seperti perilaku siswa itu sendiri. Bahkan UN yang hanya mengujikan empat mata pelajaran saja bagi saya adalah sebuah pembodohan bagi murid.

Menjadikan empat pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan Matematika sebagai tonggak keberhasilan pembelajaran seakan-akan menganaktirikan mata pelajaran lain bahkan mengesampingkan bakat-bakat yang dimiliki para siswa bahkan juga meniadakan perilaku siswa itu sendiri. UN bagi saya pribadi adalah salah satu penghancur kepribadian siswa karena mereka terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil terbaik. Sudah sering terdengar dan sudah menjadi rahasia umum bahwa menjelang UN akan bertebaranlah orang-orang yang menjual janji kunci jawaban soal UN dan siswa kadang tergoda untuk membelinya. Satu lagi, UN juga malah terkadang menjadi semacam dosa jariah bagi para guru yang ‘tertekan’ secara struktur karena harus memberikan hasil terbaik agar tidak memalukan nama baik sekolah dan pada akhirnya ‘menjawabkan soal siswa’ adalah hal yang bisa mereka lakukan untuk terhindar dari ‘sanksi malu’ mendapat predikat sekolah terendah nilai UN.

Pemerintah harusnya juga menyadari bahwa penilaian tidak hanya dinilai dari hasil akhir tapi juga dari proses. Buat apa mereka mendapat nilai yang tinggi namun dari hasil mencontek.

Kualitas dan Sarana yang Berbeda

Standar nilai UN yang sama secara nasional mungkin baik agar tidak adanya perbedaan di setiap wilayah negeri ini namun sadarkah pemerintah nilai UN yang sama rata ini tidak diikuti dengan pemerataan kualitas guru dan sarana sekolah yang juga harusnya sama. Kualitas guru-guru di kota mungkin lebih baik dari mereka yang dipinggiran, begitu juga kualitas guru di Jawa tentunya berbeda dengan kualitas guru-guru di luar pulau Jawa.

Perbedaan kualitas dan sarana ini harusnya lebih dahulu harus dibenahi agar para siswa dan guru juga bisa belajar dan mengajar dengan nyaman. Tanpa kualitas dan sarana yang memadai maka pembelajaran mungkin akan tak semenarik dan tak seefektif seandainya kualitas dan sarananya memadai. Contohnya saja, di tempat saya mengajar di SMPN 4 Daha Selatan. Tidak ada sarana air bersih dan tergantung pada air sungai yang juga menjadi tumpuan warga sekitar untuk MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang pada musim kemarau seperti ini air sungainya akan mengering dan hanya menyisakan sedikit air bercampur tanah.

Belum lagi sarana sekolahnya yang kurang memadai karena tidak ada tempat untuk perpustakaan, lab komputer, lab bahasa, lab IPA dan mushalla. Ketiadaan sarana ini terjadi karena terbatasnya luas lahan yang dimiliki sekolah. Pemerintah khususnya kementerian pendidikan harus lebih sering berkunjung ke daerah pedalaman nan terpencil agar mereka tahu bagaimana situasi dan kondisi sekolah sesungguhnya, bukannya hanya menerima laporan saja atau hanya berkunjung ke sekolah-sekolah yang memang sudah maju dan pada akhirnya mengambil kesimpulan bahwa pendidikan sudah merata.

Penerapan Kurikulum Harus Berbeda

Berdasarkan informasi, katanya di tahun 2013 ini akan diterapkan kurikulum baru yang mengatakan akan menjadikan jumlah tatap muka menjadi 27 jam per minggu. Jumlah tatap muka yang menjadi lebih lama ini katanya untuk menghindari terjadinya tawuran antar pelajar yang sering terjadi. Kenaikan jumlah tatap muka dari 24 jam menjadi 27 jam mungkin wajar saja namun kalau alasannya hanya untuk menghindari adanya tawuran pelajar maka itu sangat tak masuk akal. Tawuran paling sering terjadi di Jakarta dan pulau Jawa namun di daerah-daerah luar pulau jawa malah jarang sekali terdengar tawuran bahkan di tempat saya mengajar, dalam 3 tahun saja tidak ada perkelahian antar siswa dalam satu lingkungan bahkan sejak saya masih sekolah hingga selesai kuliah tidak pernah ada yang namanya tawuran. Sungguh ironis, karena sebuah masalah di satu tempat lalu menyamaratakannya ke seluruh Indonesia dan pada akhirnya membuat kebijakan yang membebani para guru di tempat lain sungguh sebuah kebijakan tanpa dasar.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap