PASARKU YANG MALANG

Ketika kau pertama kali dibuka
Kau seperti surga belanja
Dengan gedung yang mewah
Tempat parkir luas
Tapi kini
Itu hanyalah kenangan
Kau sekarang bagai terminal kota
Ruwet, ribet dan kotor

Sebait puisi yang ku buat sendiri (maaf kalo jelek..maklum ga terlalu bisa). Untuk menggambarkan perasaanku pada Sentra Antasari yang baru ku kunjungi kemarin, setelah hampir 2 tahun tidak pernah kesana (maklum tak punya uang..biasa anak Kos). Kemarin ketika datang, aku langsung terkejut ini pasar atau terminal angkutan kota. Banyaknya angkutan kota yang beroperasi di depan Sentra Antasari mengakibatkan seringnya terjadi kemacetan di depan sana. Selain itu banyaknya abang becak yang beroperasi tepat di depan pintu masuk dan keluar Sentra Antasari menambah ruwet pemandangan hingga akhirnya pasar yang dulunya dikira akan menjadi pasar modern di Banjarmasin berubah seperti pasar tradisional pada umumnya yang ruwet dan kotor. Selain pemandangannya yang berubah, ternyata biaya parkirnya juga bertambah naik kalau dulunya cuma Rp.500 sekarang menjadi Rp.1000, tapi tak apalah asal mereka bisa menjaga apa yang menjadi kewajibannya dan tentu saja harus bisa komplain seandainya ada kehilangan.

Selain hal itu pengunjung yang datang ke sana, juga sangat berkurang dari yang dulunya parkir tidak cukup, sekarang malah lahan parkirnya sering dijadikan tempat hiburan seperti komedi putar. Entah kenapa berkurang, namun kalau aku tebak mungkin karena tempatnya yang mulai kotor dan juga karena adanya saingan bisnis yang baru.

Berbanding terbalik dengan saingannya yaitu Duta Mall, walaupun usia pendiriannya lebih muda dari Sentra Antasari namun mereka mampu menerapkan manajemen yang baik walaupun pada akhirnya ada sedikit kekecewaan yaitu tentang biaya parkir yang dipungut ternyata sama saja, malah mereka menerapkan sama seperti mall-mall yang lain, yaitu setiap 3 jam menambah lagi biaya parkirnya Rp.1000. Tapi tak apalah yang penting pelayanannya tidak mengecewakan.

Selain hal yang agak mengecewakan, ada juga hal yang menyenangkan yaitu adanya tempat hiburan yang sudah ditunggu-tunggu urang banjar yaitu bioskop 21, biasanya mereka hanya bisa mengatakan yah, ketika ada sebuah film yang diiklankan di televisi bertuliskan saksikan di bioskop terdekat. Mungkin ketika Mitra Plasa masih ada, tentu mereka tidak akan kecewa dengan tulisan itu, karena di Mitra Plasa sudah ada bioskop. (Tapi sayang…Mitra Plasa hilang gara2 kerusuhan).

Namun di balik kesenangan itu ada sedikit kesalahan dari adanya hiburan seperti Bioskop 21 yaitu lahirnya budaya fashion yang mengikut barat, yang sangat bertentangan dengan budaya banjar sendiri. Di sana kita bisa melihat, orang dengan pakaian seperti telanjang, busana kekecilan yang cocoknya buat anak kecil, celana yang kekurangan kain hingga akhirnya kelihatan auratnya dan pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuh. Selain itu juga ada maksiat yang sedikit terselubung ketika mereka nonton di bioskop 21, karena suasana yang gelap akhirnya ada yang berpelukan, berpegangan bahkan ada yang berciuman. Ih, memalukan.

Beginikah kota yang mengatakan dirinya kota agamis? Hanya kita yang punya jawabannya.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap