PAHLAWAN BELUM BERAKHIR

Hari pahlawan mungkin sebentar lagi jadi tidak ada salahnya kalau kita mengingatnya lebih dulu. Pahlawan adalah mereka yang telah memperjuangkan kemerdekaan bagi negeri ini dengan mengorbankan jiwa, raga dan harta serta air mata. Mereka berjuang tanpa rasa pamrih. Tak pernah terlintas dalam pikiran mereka untuk suatu saat minta diberi gelar pahlawan. Mungkin yang terlintas dalam benak mereka hanya bagaimana supaya negeri ini terbebas dari penjajahan dan anak cucu mereka bisa menikmati hidup yang damai, jauh dari desingan peluru, ledakan bom.

Pahlawan sebelum kemerdekaan
Banyak sekali para pahlawan sebelum era kemerdekaan yang tak mungkin bisa ditulis satu persatu dalam tulisan ini namun ada misalnya, Pangeran Antasari, Pangeran Diponegero, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Kartini, Dewi Sartika, dll. Orang-orang yang berjuang sebelum kemerdekaan adalah putra-putri pemberani yang dimiliki negeri ini. Mereka ikhlas berjuang melawan penjajah yang lebih kuat dari mereka. Dengan persenjataan seadaanya seperti bambu runcing, golok mereka melawan tank-tank baja dan senjata api tanpa ada perasaan takut akan kematian. Mereka selalu bersemangat membela negeri ini supaya terbebas dari penjajahan walaupun mereka belum tentu ikut merasakan udara kemerdekaan.

Pahlawan sesudah kemerdekaan
Ketika telah merdeka banyak orang menganggap era kepahlawanan telah habis dan tidak ada tempat lagi untuk jadi pahlawan. Hal itu terjadi karena dalam otak mereka, yang namanya pahlawan hanyalah mereka yang berjuang ketika ada peperangan atau mereka yang berjuang melawan penjajah. Kalau dalam pemikiran sudah begitu berarti tidak akan pernah ada pahlawan di negeri yang telah merdeka. Padahal pahlawan memiliki arti yang luas, tidak hanya mereka yang berjuang membela negara ketika jaman penjajahan tapi juga mereka yang mengisi kemerdekaan. Guru yang dikenal dengan sebutan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, merupakan salah satu pahlawan yang ada di era kemerdekaan. Mereka ikhlas membantu mencerdaskan anak-anak negeri ini dari kebodohan, mereka rela menembuh jalan yang berliku demi memberikan setetes ilmu, mereka rela ditempatkan di daerah yang tak pernah mereka kenal demi sebuah amanah. Selain guru, adalagi yang patut disebut pahlawan yaitu para TKI, merekalah yang sering disebut Pahlawan Devisa. Mereka rela pergi meninggalkan anak dan suami hanya karena negeri ini tidak bisa memberikan penghidupan yang layak bagi keluarganya.

Sudahkah kita menghargai pahlawan?
Pahlawan yang telah berjuang sebelum era kemerdekaan, mungkin telah bisa kita hargai walaupun hanya sebagian yang melakukannya. Banyak hal yang sering dilakukan untuk menghargai para pejuang jaman peperangan, misalnya memberikan penghargaan berupa gelar pahlawan nasional, pahlawan kemerdekaan, melakukan upacara bendera. Tapi sudahkah kita menghargai para pahlawan di era kemerdekaan?
Guru yang merupakan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, seakan-akan telah dilupakan orang-orang yang dulunya mendapatkan ilmu darinya. Membiarkan mereka hidup dalam kesusahan, bergelut dengan kemiskinan karena hak mereka terkadang tak dipenuhi.
Mungkin inilah nasib mereka. Dipermainkan oleh anak-anak, oleh mantan murid-muridnya. Ditendang ke sana kemari bagai bola di tengah lapang pertandingan.
Entah kenapa, profesi guru di negeri ini tidak pernah dihargai dan mendapat imbalan yang sepantasnya sesuai jerih payahnya. Bahkan, pamor guru di masyarakat semakin menurun. Mungkin karena inilah, mengapa banyak anak-anak tidak bercita-cita jadi guru lagi.
Bahkan, ribuan guru dalam kondisi yang memprihatinkan padahal mereka adalah pintu gerbang pendidikan Indonesia. Merekalah yang memantapkan langkah kita dan juga anak cucu kita. Pejabat negara, pengusaha, direktur tidak akan mencapai sebuah keberhasilan tanpa mereka.
Maka tidak berlebihan jika mereka berhak mendapat sebuah penghargaan. Tidak usah terlalu berlebihan, yang penting bagi mereka sebuah jaminan bahwa mereka akan mendapat sebuah penghidupan yang nyaman hingga mereka bisa terus menjalankan tugas yang mulia sampai habis masa pengabdiannya untuk negeri ini.
TKI yang juga merupakan pahlawan dalam era kemerdekaan ini, seakan tak dihargai. Pemerintah seakan membiarkan mereka menjadi budak di negeri orang, membiarkan nyawa mereka melayang tak berharga. Berapa banyak berita yang kita dengar maupun kita lihat, para TKI kita mendapat perlakuan yang biadab dari para para majikannya namun pemerintah seakan menutup mata atas kejadian tersebut.
Selain kebiadaban para majikan mereka, tidak jarang ketika mereka pulang ke tanah air ada saja manusia yang tak bermoral merampok harta mereka di bandara atau dalam perjalanan pulang ke kampung halaman.
Walaupun mereka telah memberikan begitu banyak devisa bagi negeri ini, mereka tidak minta diberikan tanda jasa atau penghargaan apapun. Mereka hanya meminta sebuah perlindungan sebelum pergi, ketika bekerja dan ketika kembali ke tanah air, hal itu sudah cukup bagi mereka.
Kalau pemerintah tidak bisa menyelesaikan masalah tentang guru dan TKI berarti negeri ini benar-benar telah melupakan cara bagaimana menghargai sebuah pengorbanan?

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap