Naik Pangkat, Bukan Hanya Sekadar Penelitian Ilmiah

Menyikapi pemberitaan koran lokal edisi sabtu tertanggal 7/7/2018 dikatakan bahwa guru sering mengalami kesulitan naik pangkat dikarenakan belum mampunya guru untuk melakukan penelitian ilmiah seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Entah kenapa hal itu selalu menggelitik bagi penulis karena cerita semacam itu selalu berulang dari tahun ke tahun. Bagi para guru khususnya mereka yang ingin naik dari golongan ruang III/d ke IV/a dan seterusnya memang disyaratkan untuk bisa menuliskan karya ilmiah.

Namun sebenarnya, kesulitan menulis bukan hanya pada mereka yang ingin naik dari golongan ruang III ke IV tapi juga bagi guru dari III/b ke III/c dan seterusnya. Kesulitan pada guru khususnya bagi yang masih bergolongan ruang III/b ke golongan ruang selanjutnya adalah minimnya informasi yang didapatkan tentang apa saja sebenarnya hal-hal yang bisa menjadi angka kredit. Di daerah, sering kali pengawas sekolah selalu mengasumsikan bahwa apabila tidak menggunakan PTK maka tidak bisa naik golongan ruang, padahal ada banyak publikasi ilmiah yang bisa dijadikan angka kredit, salah satunya adalah tulisan populer ini.

Bukan hanya PTK

Bagi para guru yang masih terjebak di golongan ruang III/b atau III/c sebenarnya punya alternatif lain yang bisa digunakan untuk memenuhi angka kredit yang disyaratkan. Bagi III/b ke III/c disyaratkan memiliki 4 angka kredit untuk publikasi ilmiah dan/ atau karya inovatif, sedangkan bagi III/c ke III/d disyaratkan memiliki 6 angka kredit. Ada kemudahan sebenarnya bagi yang masih golongan ruang III/b dan III/c karena publikasi ilmiah bukanlah satu-satunya pilihan untuk mendapatkan angka kredit. Karya inovatif bisa menjadi alternatif atau dengan kata lain, bisa naik golongan ruang tanpa PTK.

Dalam Buku 4 Pedoman Kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Bagi Guru Pembelajar yang diterbitkan oleh Dirjen GTK tahun 2016 dikatakan bahwa karya inovatif adalah karya hasil pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni yang bermanfaat bagi pendidikan dan/atau masyarakat. Karya inovatif tersebut meliputi (1) menemukan teknologi tepatguna; (2) menemukan/menciptakan karya seni; (3) membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum; (4) mengikuti pengembangan/ penyusunan standar, pedoman, soal, dan sejenisnya.

Buku Pedoman Kegiatan Pengembangan Kegiatan Keprofesian Berkelanjutan Bagi Guru Pembelajaran by Isnaini Shaleh on Scribd

Pengembangan keprofesian melalui karya inovatif angka kreditnya tidak kalah besar bahkan sebagian lebih besar dari angka kredit publikasi ilmiah. Misalnya saja seni sastra yang terdiri dari novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, naskah drama/ teater/film. Untuk mendapatkan angka kredit 4, karya inovatif seni sastra bisa berupa, (1) dua buah buku novel, naskah drama/film, atau buku cerita bergambar yang diterbitkan, ber-ISBN; (2) atau buku kumpulan cerpen minimal 10 cerpen, buku kumpulan puisi minimal 40 puisi diterbitkan, berISBN; (3) Satuan kliping minimal 10 cerpen atau kliping minimal 40 puisi yang dimuat di media masa yang berISSN. Sementara untuk mendapatkan angka kredit 2 bisa berupa, (1) Satu buah buku novel, naskah drama/film, atau buku cerita bergambar (komik) yang diterbitkan,dan berISBN; (2) Buku kumpulan cerpen minimal 5 cerpen atau buku kumpulan puisi minimal 20 puisi diterbitkan, dan berISBN; (3) Satuan kliping minimal 5 cerpen ataukliping minimal 20 puisi yang dimuat di media masa l yang ber-ISSN.

Dari hal semacam itu seharusnya kenaikan pangkat bukanlah menjadi sebuah momok yang terlalu menakutkan bagi guru yang berakibat tertundanya kenaikan pangkat dalam waktu yang lama. Namun sering kali ketidaktahuan guru ataupun tim penilai kenaikan pangkat yang terlalu menganggap PTK adalah satu-satunya cara untuk naik pangkat. Perlu ada sosialisasi yang lebih dari dinas pendidikan setempat kepada guru, pengawas, dan tim penilai kenaikan pangkat agar bisa saling memahami tentang cara, syarat, dan bagaimana kenaikan pangkat itu sendiri.

Pelatihan Berkesinambungan

Tidak bisa dipungkiri juga bahwa ketidakmampuan guru dalam menulis karya ilmiah memberikan efek negatif dalam proses pengembangan profesi. Selain itu, kadangkala demi pangkat terpaksa melakukan hal-hal yang terlarang dalam proses pembuatan karya ilmiah yaitu plagiat. Bermodal internet, unduh beberapa PTK ganti nama, kelas, dan sekolah, beres. Ada juga oknum yang memanfaatkan situasi semacam itu dengan memberikan bantuan pembuatan PTK dengan nominal tertentu. Hal itu tentunya akan menjadi noda dalam kemajuan pendidikan Indonesia.

Untuk mencegah efek negatif tersebut memang sudah seharusnya dilakukan pelatihan berkesinambungan, tidak hanya sekadar lokakarya/seminar yang ketika selesai maka selesai juga apa yang didapatkan. Perlunya bimbingan diluar kegiatan lokakarya/seminar seperti bimbingan daring, baik itu melalui grup whatsapp, grup facebook atau grup telegram. Sehingga para guru bisa terus berkonsultasi tentang apa yang menjadi kendala mereka dalam pelaksanaan dan pembuatan PTK.

Selain itu, guru juga harus punya keinginan untuk maju dan berkembang. Belajar tentu bukan hanya milik peserta didik tapi juga para pengajarnya. Ketidakmampuan menulis karya ilmiah bisa menjadi motivasi bagi diri sendiri untuk terus belajar, baik itu dengan fasilitas negara maupun biaya mandiri. Guru harus lebih aktif untuk memelajari tentang tata cara penulisan karya ilmiah, bagaimana PTK/PTS dibuat dan dilaksanakan, tidak bisa hanya sekadar menunggu ada lokakarya/seminar baru belajar karena kita adalah pebelajar sekaligus pembelajar.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap