Mimpi Sebuah Pendidikan

Hari ini tanggal 2 Mei, mungkin sebagian orang hari ini adalah hari biasa saja tak ada hal yang istimewa namun bagi sebagian lagi hari ini adalah hari kedua Gajihan [PNS] namun tak sedikit juga yang tahu bahwa hari ini diperingati sebagai Hari Pendidikan.

Di setiap hari pendidikan, banyak sekali orang yang mengeluarkan uneg-uneg tentang pendidikan negeri ini yang kacau balau, pemeirntah boleh saja mengatakan pendidikan kita sudah membaik, UN tidak ada kecurangan namun realitas di lapangan itu tak pernah terjadi.

Pendidikan negeri ini sudah seperti birokrasi yang akut yang seringkali punya slogan “Kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah”. Pendidikan pun sudah mulai ke arah sulit, bagaimana anak-anak yang miskin sulit sekali untuk sekolah. Apalagi negeri ini punya sekolah-sekolah yang katanya sekolah bertaraf internasinal [tapi saya lebih suka mengatakan bertarif internasional] maklum karena biayanya yang mahal.

Saya sering kali merasa ‘iri’ kenapa sekolah-sekolah yang katanya bertaraf internasional lebih sering mendapat dana pendidikan sedangkan sekolah pinggiran sangat sulit sekali. Padahal kalau dipikirkan, harusnya sekolah pinggiranlah yang lebih memerlukan dana karena kurangnya sarana dan prasarana. Saya masih ingat bagaimana sekolah saya dulu, yang miring karena angin kencang dan berharap pemerintah daerah khususnya dinas pendidikan untuk segera memperbaikinya karena sangat menakutkan sekali mengajar di lantai 2 namun selalu terasa bergoyang setiap hujan deras yang disertai angin kencang, belum lagi terkena ombak dari perahu-perahu kecil yang lewat membuat jantung deg-degan saja saat mengajar. Lamanya sekali proposal untuk bisa diperbaiki hampir 2 tahun baru diperbaiki itupun kalau tidak salah karena sekolah kami masuk koran.

Di setiap hari pendidikan ini juga sering kali keluar uneg-uneg bagaimana jauh berbedanya sarana dan prasarana serta kemampuan siswa plus gurunya dalam mengajar antara sekolah kota dengan sekolah pinggiran. Perbedaan itu sebenarnya sangat mencolok, khususnya kemampuan siswa, guru hanya bisa berusaha namun memang itulah kemampuan siswa namun KENAPA UN BISA SAMA RATA TAPI TAK SAMA RASA.

UN merupakan momok yang menakutkan bagi para siswa maupun guru, bukan dalam artian ‘kejam’ namun memang itulah realita pendidikan, kita sekolah bertahun-tahun namun pada akhirnya hanya dinilai oleh beberapa mata pelajaran. Sungguh tak adil, sering kali saya berpikir. Bagaimana kalau muridnya itu punya kemampuan di bidang sosial seperti IPS, PKn dan Agama atau hebat dibidang SENI namun’bodoh’ untuk eksak seperti IPA dan Matematika dan ternyata itu tidak membantu, sungguh ironis sekali.

Namun dibalik ‘bobroknya’ pendidikan tentu saja adan segudang cerita bahagia, bagaimana nikmatnya berbagi ilmu karena kita [guru] bukanlah satu-satunya sumber ilmu maka terkadang ada saja kita dapat ilmu baru dari siswa kita terutama cerita hidup mereka. Apalagi saya mengajar di pinggiran, tentu ada cerita yang tidak pernah saya jumpai ketika saya sekolah, bagaimana mereka menyikapi harus menikah di usia muda, selesai SMP sudah menikah namun ternyata mereka suka dan tak pernah ada beban bagi mereka menikah usia belia adalah anugerah.

Dan diakhir tulisan ini saya berharap pendidikan di negeri ini bisa sama rata baik untuk si miskin maupun si kaya.

Wassalam.

Selamat Hari Pendidikan

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap