Menyambut PLS tanpa Kekerasan

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sudah hampir selesai dan beberapa sekolah sudah ada yang mengumumkan kelulusan hasil seleksi yang mereka lakukan. PPDB di beberapa kota memang menggunakan sistem zonasi dimana 90% calon peserta didik baru adalah mereka yang tempat tinggalnya dekat dengan sekolah. Terlepas dari segala kontroversi sistem zonasi yang berakibat beberapa sekolah malah mengalami kekurangan peserta didik baru atau beberapa sekolah lain mengalami hal sebaliknya, menumpuk berlebihan. Sistem zonasi memang masih bisa diperdebatkan namun semua sudah dilaksanakan, hanya bisa dilakukan evaluasi untuk perencanaan PPDB di tahun mendatang.

Sekarang peserta didik baru sudah diterima dan akan memelajari kondisi dan situasi sekolah untuk bisa lebih beradaptasi dengan hal yang baru. Sejak tahun 2016, pengenalan lingkungan sekolah (PLS) sudah diatur dan diperkuat dalam permendikbud nomor 18 tahun 2016. Di dalam permendikbud dikatakan, pengenalan lingkungan sekolah adalah kegiatan pertama masuk Sekolah untuk pengenalan program, sarana dan prasarana sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri, dan pembinaan awal kultur Sekolah.

Sudah lazim dari cerita masa lalu bahwa PLS seringkali jadi momok bagi peserta didik baru karena diasumsikan dengan segala kegiatan kekerasan fisik dan verbal, senior-junior, dan soal yang penuh teka-teki. Sejak keluarnya permendikbud, kegiatan PLS sudah mulai mengalami perubahan, peserta didik baru tidak lagi terbebani walaupun masih ada terdengar berita tentang kekerasan dalam PLS namun secara umum PLS bisa dilalui tanpa kekerasan, baik fisik dan verbal walaupun kadang ada beberapa kekerasan yang tidak sadar dilakukan yaitu kekerasan simbolik (symbolic violence).

Kekerasan Tersembunyi

Kekerasan yang sering kita lihat dan dengar biasanya berbentuk fisik seperti menjewer, memukul, mencubit, menampar, dan sejenisnya atau kekerasan verbal seperti memarahi, mengumpat, mengancam, dan sejenisnya. Kekerasan semacam itu bisa dikatakan kekerasan langsung karena pelaku dan korban bisa merasakan sebab akibatnya. Berbeda dengan kekerasan simbolik, suatu kekerasan yang tidak sadar dilakukan oleh pelaku dan korban tidak menyadari bahwa itu suatu bentuk kekerasan karena menganggapnya adalah hal yang lumrah. Kekerasan simbolik merupakan konsep dari pemikir dan sosiolog asal perancis, Pierre Bourdieu. Dalam buku Ritzer, Bourdieu mengatakan bahwa sistem pendidikan adalah lembaga utama tempat mempraktikkan kekerasan simbolik pada individu. Kekerasan simbolik yang terjadi di sekolah bisa dilihat dari banyak sudut pandang, baik dari kondisi sekolah, suasana sekolah, perilaku guru, perilaku siswa hingga bahan ajar yang digunakan di sekolah. Selain itu Martono juga mengatakan kekerasan simbolik memang bukanlah sebuah kekerasan yang mudah dilihat wujudnya, namun sebenarnya bentuk kekerasan ini sangat mudah diamati.

Dalam dunia pendidikan khususnya lingkungan sekolah, kekerasan simbolik terjadi karena adanya dominasi guru terhadap peserta didik. Sering kali secara tidak sadar ketika siswa melakukan kesalahan kemudian mendapatkan hukuman, kadangkala secara tidak sadar guru mengucapkan kata seperti coba liat si anu, dia rajin, rapi, dan pintar lagi atau jangan seperti si anu karena dia tidak bisa ditegur dan dinasihati selalu melawan. Bagi kita hal itu mungkin biasa saja karena itu terasa lumrah, anak yang pintar sering diasumsikan rajin dan rapi namun sebenarnya ada bentuk kekerasan terselubung yang tidak tampak. Asumsi bahwa peserta didik pintar itu berkorelasi dengan rapi dan rajin sebenarnya akan membunuh prestasi anak yang sebenarnya luar biasa, namun tidak tampak karena terlihat malas dan sedikit berantakan. Albert Einstein pernah mengungkapkan bahwa setiap anak itu jenius, namun jika anda menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, seumur hidup dia akan menganggap dirinya bodoh. Dari ungkapan itu, kita sebagai guru sudah sewajibnya berperan dalam mengenal setiap kelebihan peserta didik dan menganggap mereka adalah pebelajar yang punya keahlian dan harus dipoles agar bersinar.

PLS tanpa Kekerasan

Dalam pelaksanaan PLS diharapkan menjadi awal baru dari pendidikan tanpa kekerasan baik itu fisik, verbal, maupun simbolik. Tapi memang merubah pemikiran pendidikan tanpa kekerasan itu perlu waktu karena seringkali dihadapkan pada dilema betapa aktifnya anak itu sehingga terkadang melawan tata tertib yang diberlakukan di sekolah. Menghadapi anak-anak aktif tentu tidak bisa dengan hukuman ini dan itu, perlu pendekatan sosial yang lebih mendalam karena kadangkala sifat aktif itu adalah akumulasi dari suatu pemikiran atau tindakan di luar sekolah. Disanalah peran aktif guru bimbingan konseling diharapkan agar bisa dicari pemecahan yang tidak merugikan kedua belah pihak.

Dalam kegiatan PLS juga sudah seharusnya diajarkan tentang etika dan kesopanan baik itu interaksi dengan guru, teman sebaya, dan warga sekolah lainnya. Pemelajaran konsep-konsep kebaikan tentunya dimulai sejak PLS agar nantinya peserta didik mengerti dan memahami tata tertib sekolah dengan baik. Apalagi adanya penguatan pendidikan karakter (PPK) dan gerakan literasi sekolah (GLS) maka konsep kebaikan harus lebih ditingkatkan dan dikuatkan agar peserta didik benar-benar menjadi peserta didik yang berkarakter kuat dan mumpuni dalam menghadapi pendidikan 4.0. Selain itu, pemelajaran PLS tidak bisa dibebankan hanya kepada panitia PLS karena PLS lebih dari sekadar mengenal tapi juga interaksi sosial dengan warga sekolah.

Dengan semakin berkurangnya kekerasan dalam kegiatan PLS diharapkan pendidikan dendam antara kakak kelas dan adik kelas akan terputus karena seringkali kekerasan terjadi karena mereka sama-sama pernah merasakan hal itu di masa lalu dan membalasnya di masa akan datang. Semoga kita bersama bisa mewujudkan pendidikan tanpa kekerasan dan bagi peserta didik baru, selamat datang, selamat berprestasi di sekolah baru.

Diterbitkan di koran Radar Banjarmasin, 11 Juli 2018

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap