Menuju Guru Era Baru

Mungkin tidak banyak yang tahu kalau bulan November ini ada peringatan hari Guru Nasional. Hari Guru Nasional sendiri bertepatan dengan hari lahirnya organisasi profesi guru yaitu Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada tanggal 25 November. Guru dalam beberapa tahun ini telah menjadi salah satu profesi yang menjanjikan secara materi karena adanya sertifikasi. Bahkan sampai ada istilah ‘Guru adalah menantu terbaik’. Cerita Omar bakeri yang bersepeda ke sekolah kinipun telah berlalu, kini sudah banyak guru yang mengendarai mobil ke sekolah.

Terlepas dari mulai meningkatkan kesejahteraan guru, kini guru telah dihadapkan dalam situasi yang jauh lebih rumit daripada masa dulu. Kemajuan teknologi yang terus berkembang pesat sehingga sulit untuk terus diikuti. Pendidikan pun kini juga semakin rumit dengan banyaknya peraturan yang terkesan menjadikan guru seperti ‘budak pendidikan’. Salah satu beban yang besar bagi para guru bersertifikasi adalah adanya peraturan mengajar 24 jam. Walaupun bagi saya sebenarnya mengajar 24 jam itu adalah sebuah kesalahan karena pemerintah hanya menyuruh guru mengajar bukan mendidik. Hanya mengajar saja yang dinilai sampai 24 jam, bagaimana dengan menyusun perangkat pembelajaran, penilaian hasil belajar yang rata-rata dikerjakan di luar jam kerja. Sungguh ironis memang, ketika menyusun perangkat, memberikan penilaian, mendidik tidak termasuk dalam hitungan 24 jam padahal itu juga termasuk dalam beban kerja guru.

Selain itu, guru jaman sekarang juga dituntut untuk lebih kreatif, inovatif, revolusioner serta punya keahlian selain mengajar. Kemajuan teknologi adalah salah satu penyebab kenapa guru harus merubah gaya pembelajaran. Guru sekarang dituntut untuk melek terhadap teknologi agar mereka tidak ketinggalan teknologi atau bisa dibilang jangan sampai gagap teknologi (gaptek) karena para siswanya juga sekarang sangat maju dalam hal teknologi bahkan kadang kala gurupun ‘kalah’ dalam hal teknologi. Guru dituntut untuk merubah gaya pembelajaran dari yang konvensional menjadi digital, salah satunya adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran. Penggunaan TIK dalam pembelajaran selain mempermudah guru dalam mengajar juga dapat mengusir rasa bosan para siswa yang kita ajarkan.

Namun memang usaha untuk memajukan pembelajaran menggunakan TIK di sekolah tidak hanya bertumpu pada guru pribadi tapi juga pemerintah. Ketika gurunya sudah mampu menggunakan TIK dalam pembelajaran ternyata sekolahnya tak memiliki sarana dan prasarana yang bisa menunjang pembelajaran itu maka TIK dalam pembelajaran juga tak akan berjalan sebagaimana mestinya.

Guru kini telah menuju era baru pendidikan dimana keahlian menggunakan peralatan teknologi menjadi salah satu faktor dalam kenyamanan mengajar. Guru tak perlu lagi berkutat dengan papan tulis, kapur tulis atau spidol. Ada beberapa pembelajaran berbasis TIK yang bisa para guru lalukan diantaranya penggunaan media presentasi seperti MS Office Power Point, LibreOffice Impress. Selain media presentasi, guru juga bisa memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran interaktif seperti penggunaan web, blog, facebook, edmodo dan sosial media lainnya yang dianggap bisa dengan mudah menjadi salah satu media pembelajaran.

Bahkan penggunaan media pembelajaran berbasis internet sudah selayaknya dilakukan, selain mempermudah dalam pembelajaran juga akan menjadikan guru melek terhadap teknologi. Selain itu juga, penggunaan media pembelajaran berbasis internet ini akan menjadikan para guru tak lagi kesulitan dalam memberikan tugas saat sang guru berhalangan datang ke sekolah.

Selain penggunaan TIK dalam pembelajaran, kini guru juga dituntut bisa menulis baik itu karya tulis populer maupun karya tulis ilmiah. Lagi-lagi mengajak guru untuk bisa menulis minimal menulis populer seperti opini sangat sulit karena selalu ada alasan untuk tak mampu seperti jadwal yang padat, tak ada inspirasi untuk menulis hingga bingung mau menulis apa. Memang harus diakui pelajaran menulis terutama menulis populer jarang diajarkan saat kuliah kecuali mereka yang mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan itupun tidak semua guru bahasa Indonesia mau menulis walaupun sebenarnya mereka punya bakat untuk itu.

Khusus untuk kemampuan menulis populer maupun ilmiah sudah selayaknya dikembangkan dan di fasilitasi oleh pemerintah khususnya dinas pendidikan serta peran organisasi profesi guru apalagi di tahun 2013 nanti para guru dituntut mempunyai karya tulis seperti Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Mungkin dinas pendidikan maupun organisasi profesi bisa mengadakan pelatihan-pelatihan pembuatan PTK. Jangan sampai para guru dituntut untuk bisa menulis PTK namun tidak pernah diajarkan bagaimana sebenarnya menulis PTK yang baik itu.

Pelatihan penulisan PTK selain untuk kemampuan pribadi guru juga sebenarnya adalah bentuk koreksi terhadap guru itu sendiri dalam mengajar sehingga setelah PTK itu selesai guru bisa dengan mudah memperbaiki cara mengajarnya. Selain itu juga akan menjadikan guru lebih profesional karena pada akhirnya guru bisa meneliti setiap tindakannya dalam kelas dan yang juga tak kalah bermanfaatnya dari adanya PTK adalah guru bisa dengan mudah untuk naik pangkat. Apalagi sekarang akan diberlakukan bagi yang ingin naik pangkat dari IIIb ke atas memiliki karya tulis berupa PTK.

Dan akhir kata, kini guru telah menuju era baru dunia pendidikan dimana teknologi dan kemampuan menulis menjadi salah satu tolak ukur kemampuan guru profesional. Mari terus belajar dan menulis, jangan biarkan zona nyaman sebagai guru menghentikan kita untuk terus menjadi murid. Dengan terus menganggap diri menjadi murid maka kita akan terus berguru dan belajar agar bisa menjadi guru yang lebih baik.

Selamat Hari Guru Nasional

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap