Menjadi Konsumen Cerdas, Perilaku Orang Bijak

shaleholic.com – Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia di masyarakat, baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Konsumen sendiri dalam mengkonsumsi suatu barang dibedakan menjadi dua macam, yaitu perilaku konsumen rasional dan perilaku konsumen irasional.

Perilaku Konsumen Rasional

  • Suatu konsumsi dapat dikatakan rasional jika memerhatikan hal-hal berikut:
  • barang tersebut dapat memberikan kegunaan optimal bagi konsumen;
  • barang tersebut benar-benar diperlukan konsumen;
  • mutu barang terjamin;
  • harga sesuai dengan kemampuan konsumen.

Perilaku Konsumen Irasional 

Suatu perilaku dalam mengonsumsi dapat dikatakan tidak rasional jika konsumen tersebut membeli barang tanpa dipikirkan kegunaannya terlebih dahulu. Contohnya, yaitu:

  • tertarik dengan promosi atau iklan baik di media cetak maupun elektronik;
  • memiliki merek yang sudah dikenal banyak konsumen;
  • ada bursa obral atau bonus-bonus dan banjir diskon;
  • prestise atau gengsi.

Menjadi Konsumen Cerdas

Sebagai seorang pembeli sudah sepantasnya kita menjadi konsumen yang cerdas agar kita bisa terhindar hal-hal buruk. Apalagi kalau kita  termasuk dalam kategori konsumen irasional yang kadang membeli barang dan jasa tanpa mempertimbangkan unsur-unsur penting yang menjadi hak setiap konsumen.

“Bahwa penjual dan pembeli dalam hal ini konsumen mempunyai ikatan hubungan yang erat dalam proses jual beli.” kata Gita Wirjawan (Menteri Perdagangan)

Perkataan itu sebenarnya punya makna bahwa semua masyarakat selaku konsumen harus bisa menjadi konsumen yang cerdas, teliti, dan cermat dalam memilih barang-barang yang akan dikonsumsi.

Untuk menjadi seorang konsumen cerdas sebenarnya tidaklah sulit. Ada beberapa kiat dari Kementerian Perdagangan yang bisa menjadi pegangan setiap konsumen agar termasuk konsumen cerdas.

  1. Teliti sebelum membeli,
  2. Memperhatikan label,
  3. Kartu manual garansi dan tanggal kadaluarsa,
  4. Memastikan bahwa produk tersebut sesuai dengan standar mutu K3L,
  5. Membeli barang sesuai dengan kebutuhan dan bukan keinginan.

Alat Timbang Gratis

 

Namun yang terpenting dari hal tersebut adalah kita semua dapat mempertahankan dan meningkatkan tanggung jawab sosial sebagai konsumen yaitu dengan cara membeli produk dalam negeri, bijak menjaga bumi, dan pola konsumsi pangan yang sehat.

Sebagai seorang konsumen cerdas sudah sepantasnya kita mengetahui hak dan kewajiban kita sebagai konsumen, apalagi di Indonesia hak dan kewajiban konsumen telah dilindungi oleh Undang-undang. Selain itu konsumen diharapkan mengetahui akses ke lembaga perlindungan konsumen. Dengan adanya pengetahuan tersebut maka kesadaran konsumen dalam melindungi dirinya dan lingkungannya bisa menjadi lebih baik.

Untuk melindungi konsumen, pemerintah telah membuat regulasi atau payung hukum. Selain membuat peraturan, pemerintah juga secara rutin melakukan pengawasan. Namun apapun yang dilakukan pemerintah tidak akan menjadi efektif tanpa adanya dukungan nyata dari konsumen itu sendiri. Karena itu, hal terpenting dalam perlindungan kunsumen  adalah partisipasi aktif konsumen untuk bersikap kritis dan membantu Pemerintah dalam melakukan pengawasan

Demi Perlindungan Konsumen, Pemerintah Melakukan Pengawasan

Untuk melindungi konsumen, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia selalu meningkatkan pengawasan terhadap barang yang beredar baik itu produk non-pangan maupun pangan. Selain itu, pengawasan juga dilakukan secara berkesinambungan agar menciptakan iklim usaha yang sehat di Tanah Air. Iklim yang sehat tentu memudahkan para konsumen cerdas dalam memilih produk yang mereka perlukan.

“Pengawasan tersebut juga dilakukan untuk mendorong peningkatan produksi dan penggunaan produk dalam negeri serta mencegah distorsi pasar dari peredaran produk impor yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Bayu Krisnamurthi (Wakil Menteri Perdagangan).

“Peran pengawasan pemerintah dalam mengatur barang beredar dan jasa senantiasa dilakukan agar kualitas perlindungan konsumen meningkat,” kata  Nus Nuzulia Ishak (Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen).

Walaupun pengawasan telah dilakukan namun masih banyak barang dan jasa yang beredar di masyarakat yang menyalahi aturan pemerintah.

kementerian perdagangan

Logo Kementerian Perdagangan

 

Pada bulan November hingga  Desember 2012 lalu ditemukan 100 produk yang diduga tidak sesuai ketentuan yang berlaku. Dari 100 produk, 8 produk diduga melanggar persyaratan terkait Standar Nasional Indonesia (SNI), 29 produk diduga melanggar ketentuan Manual dan Kartu Garansi (MKG), 62 produk melanggar ketentuan label dalam Bahasa Indonesia, serta 1 produk yang tidak memenuhi ketentuan produk yang diawasi distribusinya.

Hasil pengawasan yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan selama tahun 2012 ditemukan 621 produk yang diduga tidak memenuhi ketentuan. Jumlah temuan ini mengalami peningkatan sebesar 28 produk dibandingkan tahun 2011 ( 61% produk impor dan 39% produksi dalam negeri). Berdasarkan jenis pelanggarannya sebesar 34% produk diduga melanggar persyaratan SNI, 22% diduga melanggar MKG, 43% diduga melanggar ketentuan label dalam Bahasa Indonesia, serta 1% diduga tidak memenuhi ketentuan produk yang diawasi distribusinya. Sedangkan berdasarkan kelompok produk yang diduga tidak memenuhi ketentuan, sebanyak 39% merupakan produk elektronika dan alat listrik, 20% produk alat rumah tangga, 13% produk suku cadang kendaraan, serta sisanya adalah produk bahan bangunan, produk makanan minuman dan Tekstil dan Produk Tekstil (TPT).

konsumen cerdas

Contoh Produk Tak Memenuhi SNI

Untuk  menindaklanjuti temuan tersebut, yaitu untuk pelanggaran pidana, sebanyak 2 produk telah dilimpahkan ke Kejaksaan (P21), 3 produk tidak dapat dilanjutkan karena tersangkanya meninggal dunia, dan beberapa produk masih dalam penyidikan. Sementara untuk pelanggaran administrasi, telah dilakukan pemberian peringatan tertulis kepada para pelaku usaha dari 348 produk, permintaan penarikan 8 produk, pembinaan terhadap asosiasi, serta pemanggilan para pelaku usaha guna keperluan penyidikan dan pengumpulan keterangan.

Wakil Menteri Perdagangan menjelaskan bahwa Kementerian Perdagangan telah menetapkan dua sasaran program pengawasan di tahun 2013 sebagai bentuk upaya untuk mewujudkan perlindungan konsumen yang lebih optimal.

  1. Kemendag akan meningkatkan efektifitas Pengawasan Barang Beredar di daerah perbatasan melalui kegiatan Terpadu Pengawasan Barang Beredar (TPBB), pelaksanaan pengawasan berkala/khusus, crash program, pengawasan implementasi label dalam Bahasa Indonesia dan MKG, serta pengawasan distribusi.
  2. Kemendag akan mengoptimalisasi penegakan hukum melalui peningkatan kualitas koordinasi aparat penegakan hukum dan pendampingan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perlindungan Konsumen (PPNS-PK) di daerah.

Melindungi Konsumen dengan Penegakan Hukum

Pada Januari 2013, Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan bersama dengan Kepala Bareskrim POLRI Irjen Pol Sutarman, dan disaksikan oleh Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan menandatangani Nota Kesepahaman peningkatan penegakan hukum di bidang perlindungan konsumen dan metrologi legal di Tanah Air.

Dengan adanya nota kesepahaman tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterpaduan operasional dalam penanganan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen dan metrologi legal yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perlindungan Konsumen (PPNS-PK), Penyidik Pegawai Negeri Sipil Metrologi Legal (PPNS-MET), yang didukung oleh Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Selain itu Penandatanganan Nota Kesepahaman juga dilakukan antara Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen yang diwakili Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Nus Nuzulia Ishak dengan Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian yang juga selaku Kepala Badan Karantina Pertanian Banun Harpini dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Lucky S. Slamet. Nota kesepahaman tersebut berisi tentang Kerjasama Pengawasan Barang Untuk Produk Non Pangan, Pangan Olahan, dan Pangan Segar

konsumen cerdas

Contoh Pangan Segar

Dengan adanya kerjasama tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas terhadap pengawasan barang beredar meliputi produk non pangan, pangan olahan, dan pangan segar khusus dalam rangka melindungi konsumen. Selain itu, juga menjadi wadah pertukaran informasi terkait pengawasan peredaran produk non pangan, pangan olahan dan pangan segar yang beredar di pasar. Dan tentunya diharapakan akan meningkatkan pemberdayaan terhadap Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Adapun Objek pengawasan untuk produk non pangan, antara lain meliputi pemenuhan standar, pencantuman label, petunjuk penggunaan (manual) dan kartu jaminan/garansi dalam Bahasa Indonesia, sedangkan untuk produk pangan segar dan pangan olahan meliputi aspek keamanan, mutu, dan gizi serta pencantuman label.

Adanya Nota Kesepahaman tersebut maka perlindungan terhadap konsumen menjadi lebih kuat karena penegakan hukum dapat dilakukan secara lebih intensif sehingga keberadaan barang yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dapat diminimalisir. Selain untuk perlindungan konsumen, sasaran lainnya adalah untuk pengamanan pasar dalam negeri, sekaligus mendukung terciptanya kepastian hukum. Dengan adanya kepastian hukum maka investasi di Indonesia akan lebih dilirik bangsa lain.

Kerja sama ini juga dilakukan sebagai antisipasi agar barang-barang yang beredar di wilayah Indonesia memenuhi kaedah keselamatan, keamanan dan kesehatan serta lingkungan hidup dan layak digunakan, dimanfaatkan, serta dikonsumsi oleh masyarakat.

Tulisan ini diikutkan dalam lomba :

lomba menulis

Lomba Menulis & Kontes SEO 2013 – Konsumen Cerdas

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap