Menikmati Pulang Kampung

Surabaya bagi saya adalah gudangnya makanan penyetan, ada banyak sekali penyetan disana bahkan saya hampir setiap hari bisa dibilang makan penyetan. Penyetan mulai rasa normal sampai yang bikin bibir dower. Dari harga yang biasa sampai yang luar biasa. Namun hal itu tentunya sebanding dengan apa yang dimakan. Suasana makan ayam atau telur penyet ala harga anak kos selalu menjadi kenangan tak terlupa selama kuliah. Cukup 9000 ditambah ongkos parkir sepeda motor 1000 atau disatu tempat bayar 10.000 plus parkir gratis, sudah bisa menikmati nikmatnya penyetan khas ala surabaya.

Namun ketika pulang kampung ke kalimantan selatan, maka menu masakan hari ini yang biasanya didominasi oleh penyet berubah menjadi serba nasi kuning, lontong, dan ketupat :v. Menikmati kembali masakan banjar yang telah lama menghilang dari lidah menjadikannya terasa spesial walaupun dimakan setiap hari. Masakan banjar memang selalu menjadi bagian tak terlupakan bagi urang banjar di perantauan. Walau nasi kuning, lontong, dan ketupat juga bisa ditemukan di surabaya namun soal rasa tentunya berbeda, sebagai urang banjar saya pasti akan bilang bahwa masakan banjar lebih enak daripada masakan surabaya namun hal ini mungkin saja akan dibantah oleh urang surabaya. Namun ini adalah masalah selera jadi, ya gitu deh. Rasa kesukuan pasti ada :v

kuliner-banjar

Perubahan menu masakan tentunya berpengaruh juga dengan situasi perut, belum lagi masalah waktu makan. Kalau masih kos, waktu makan bisa “semena-mena” sarapan pagi bisa dijadikan satu dengan makan siang namun kalau sudah di rumah, sarapan pagi, makan siang, dan makan sore itu 3 waktu yang berbeda untuk makan. Pulang kampung selain soal makanan, juga soal koneksi internet. Di surabaya bisa dibilang, jaringan internet sangat cepat bahkan kos pun punya internet sendiri namun ketika pulang kampung, maka jaringan internet kembali juga ke kampung. Sinyal yang tidak terlalu mumpuni untuk kegiatan unggah dan unduh berakibat saya kehilangan hobi nonton drama korea #eh. Suasana di kampung tentunya tidak terlalu banyak berubah walau dua tahun meninggalkannya, hanya beberapa jalan yang mengalami perbaikan, sebagian tetap masih sama, ada yang berlubang, ada juga yang baik.

Namun terlepas dari itu semua itu, pulang kampung lebih kepada rasa. Rasa yang dulu tertinggal kini telah kembali. Masa emas yang sempat pudar, kini bersinar lagi. Dulu yang masih lari-lari di halaman rumah kini sudah di bangku TK :v. Kebersamaan adalah hal yang kini dikejar selama pulang kampung.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap