Mendidik Anak, Membangun Peradaban

0 0

Anak, siapa yang tidak ingin memilikinya, semua pasangan suami istri tentu mendambakan kehadirannya. Mempunyai anak laksana mendapatkan harta karun terpendam. Anak adalah penerus generasi dalam keluarga sekaligus penyambung cerita dari masa ke masa tentang eksistensi suatu keluarga. Dalam lingkup lebih luas, setiap anak adalah calon pemimpin masa depan suatu negara. Merekalah yang akan menjadi penerus impian dan perjuangan bangsa. Karena begitu strategis dan pentingnya peran anak maka negara berusaha melindunginya, hal itu termaktub dalam UUD Tahun 1945 Pasal 28B Ayat 2 yang mengamanatkan agar Negara menjamin hak setiap anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta hak atas perlindungan dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. Selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dikatakan bahwa anak adalah seorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Perlindungan Anak Dimulai dari Keluarga adalah tema nasional yang diusung dalam Hari Anak Nasional 2017 yang jatuh pada tanggal 23 Juli, dengan tagar, saya gembira. Dengan mengusung tema itu pemerintah berusaha agar setiap keluarga lebih menjaga dan memperhatikan anak-anak mereka. Kesibukan dalam bekerja sudah seharusnya tidak menjadikan orangtua lalai dalam melindungi anaknya. Keluarga harus menjadi tempat berlindung yang nyaman bagi anak, jangan biarkan mereka menjauh hanya karena kurangnya komunikasi antara orangtua dan anak. Perlindungan tentu tidak hanya dimaknai anak terhindar dari tindak kekerasan fisik tapi juga kekerasan psikis.

Pemerintah melalui program lima hari sekolah berharap waktu akhir pekan yang disediakan bisa dimaksimalkan oleh orangtua dan anak agar lebih dekat, agar lebih bisa bersama. Selain itu, dalam penguatan pendidikan karakter (PPK) yang dicanangkan oleh kemdikbud dikatakan bahwa keluarga, sekolah, dan masyarakat adalah tiga pilar dalam pendidikan. Keluarga merupakan garda terdepan dalam mendidik anak.

Keluarga menjadi tonggak awal karakter setiap anak sebelum mereka melangkah ke sekolah dan masyarakat. Dalam keluargalah keteladanan harus dimulai, baik dan buruk tingkah laku akan diajarkan disini. Dalam keluarga sudah seharusnya bisa menerapkan antara teori dan praktik, misalnya : ketika orang tua menyuruh anaknya salat maka orangtuanya juga harus sudah salat atau ajak mereka bersama untuk salat karena bagaimanapun anak selalu melihat kelakuan orangtua atau ketika meminta anak jangan terus bermain gadget namun orangtuanya sibuk upload foto di instagram, update status di facebook, balas membalas chat di aplikasi pesan maka perintah maupun amarah tak akan berguna karena orangtuanya gagal memberikan teladan. Orangtua adalah teladan nyata bagi setiap anak.

Sekolah sebagai rumah kedua dalam pembinaan karakter tentunya harus punya cara jitu dalam memahami setiap anak. Setiap anak punya karakter tersendiri dalam belajar sehingga satu metode, dua metode pembelajaran saja tidak cukup, perlu dilakukan banyak metode agar bisa mendapatkan ketepatan untuk karakter anak. Sekolah juga harus menjadi tempat yang menyenangkan, apalagi di tengah isu full day school yang mengkhawatirkan bawah pihak khususnya orangtua karena anak akan dianggap terkurung dalam sekolah.

Masyarakat dalam hal ini penulis menganggap lingkup masyarakat meliputi lingkungan sekitar, pemerintah dan media karena tidak bisa menganggap bahwa masyarakat hanya sekedar lingkungan sekitar. Lingkungan sekitar sudah sejak lama berperan serta dalam mendidik karakter suatu anak dengan berbagai norma dan adat yang berlaku. Indonesia yang beranekaragam mempunyai banyak adat budaya dan aturan tertentu dan itu bisa dirasakan saat bergaul dengan teman yang berbeda suku, namun walau berbeda setiap anak harus saling menghargai. Perbedaan bukanlah suatu alasan untuk terjadinya kejahatan, baik fisik maupun psikis. Pemerintah juga wajib dalam memberikan pendidikan yang baik dan layak bagi setiap anak bukan hanya sekedar mengeluarkan peraturan. Berikan banyak ruang dan tempat bagi anak-anak untuk bisa belajar dan bereksplorasi agar mereka bebas mengeluarkan bakatnya. Perbanyak ruang, lahan, dan tempat yang ramah anak akan menjadikan lingkungan lebih ramai sehingga anak-anak bisa bersosialisasi dengan teman sebaya. Media khususnya eletronik tentu juga berperan serta dalam memberikan konsep dan pemahaman tentang suatu peristiwa. Media harus memberikan tontonan yang menuntun ke arah yang benar, jangan hanya sekedar mengejar rating tinggi. Sinetron-sinetron yang banyak berkebalikan dengan kenyataan di lingkungan sekitar menambah runyam dunia pendidikan.

Ketiga pondasi pendidikan tersebut harus berjalan beriringan dan melengkapi. Saling memberikan keteladanan sesuai perannya, niscaya peradaban baru akan dimulai di tanah ini. Mendidik anak laksana membangun peradaban. Pendidikan yang tepat dan baik akan menghasilkan peradaban yang maju namun pendidikan yang salah bisa berakibat mundurnya peradaban dan bisa juga mengakhiri suatu peradaban.

 

Category: Muatan LokalTags:

Baca Tulisan Lainnya :

author
Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini