Memburu Kata Profesional

Hampir dua pekan penulis menjalani pendidikan dan latihan untuk mendapatkan gelar guru profesional. Ada banyak jalan berliku untuk hal itu, dimulai dari Kegiatan Prakondisi pendidikan dan latihan profesi guru  (PLPG) yang dilaksanakan secara daring selama tiga bulan dan dilanjutkan dengan kegiatan tatap muka PLPG yang berlangsung hampir dua pekan. PLPG tentunya bukan hanya sekedar tatap muka dan mendengar ceramah dari para mentor namun juga diberikan empat ujian yang membuat para guru deg-degan dimulai dari ujian tulis lokal (UTL), dilanjutkan peer teaching dan uji kinerja. Namun ketiga hal itu masih belum terlalu menakutkan karena pada akhirnya ujian tulis nasional (UTN)-lah yang menjadi momok terakhir. Mewajibkan guru mendapatkan nilai 80 pada UTN agar bisa mendapatkan satu sertifikat profesional. Penulis pernah memikirkan, betapa sulitnya menjadi seorang guru profesional. Apakah sedemikian rumitnya pemerintah untuk membahagiakan para guru yang telah memakai jubah sabar dan ikhlas ketika mereka telah memilih untuk menjalani profesi itu. Ketika ada pernyataan bahwa walau anda telah bertahun-tahun mendidik dan mengajar, mendapatkan banyak perhargaan namun selama belum memiliki sertifikat pendidik yang menjadi bukti bahwa anda adalah guru profesional maka selama itu anda adalah guru abal-abal. Perlu selembar kertas untuk membuktikan profesionalitas seorang guru tentu menjadi sebuah pertanyaan. Apakah kertas itu menjadi jaminan bahwa guru yang mendapatkan menjadi lebih baik?

Perjalanan panjang memburu gelar profesional memang terbayarkan dengan yang namanya tunjangan profesi guru (TPG) namun profesionalitas itu juga harus dibayar dengan kerja keras oleh guru, mulai dari jaminan tatap muka 24 jam perminggu, harus mengajar di kelas dengan jumlah anak didik minimal 20 peserta didik, dilarang ijin/sakit/tanpa keterangan selama 3 hari dalam seminggu, linieritas antara mata pelajaran yang diampu dengan ijazah dan memenuhi segala macam administrasi mulai dari layanan luring hingga daring. Semua itu tentunya wajib dipenuhi kalau ingin mendapatkan TPG secara reguler walau pada kenyataannya kadang sering kali ada saja berita keterlambatan pembayaran. Profesional dalam KBBI mempunyai pengertian bahwa 1) bersangkutan dengan profesi; 2) memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya; 3) mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan amatir). Dari hal itu tentunya dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya semua guru itu profesional karena telah mendidik dan mengajar sesuai dengan keahliannya dan telah ditempa bertahun-tahun di LPTK. Ketika guru terlihat datar dalam mengajar tentu bukan semua kesalahan ditimpakan kepada guru.

PLPG yang digadang bisa menjadi kawah candradimuka dalam membangun kembali rasa kesadaran guru dalam mengajar namun pada kenyataanya juga menyisakan pertanyaan, seberapa efektif PLPG itu atau hanya sekedar proyek yang harus dijalankan?. Belum terjawab pertanyaan itu, kini PLPG akan bertransformasi lagi menjadi PPG. Sebuah program pengganti PLPG yang diharapkan mampu menjadi bibit perubahan dalam sistem pendidikan dan pengajaran guru di Indonesia.

Pendidikan Dan Pengajaran Jangka Panjang

            Menginginkan guru seperti apa dan bagaimana, tentunya harus dimulai sejak saringan pertama ketika mereka mulai memilih untuk mengambil pendidikan keguruan. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk menghasilkan kualitas guru yang lebih baik diantaranya; Seleksi, LPTK bisa melakukan seleksi terhadap para calon mahasiswa yang akan masuk ke kampus, bisa melalui nilai minimal ataupun jenis seleksi lain yang bisa dilakukan. Teladan, Keteladan tentunya juga diperlukan bukan hanya guru pada murid tapi juga dosen kepada mahasiswa. Bagaimana mungkin mengembleng mahasiswa yang akan dijadikan sebagai guru dimasa depan sementara dosennya juga sibuk kesana kemari sehingga jarang mengajar. Selain itu, pembelajaran yang dilakukan dosen juga harus lebih inovatif bukan hanya lagi sekedar powerpoint apalagi ceramah tapi dosen juga diharapkan menjadi pelopor bagaimana menciptakan media pembelajaran inovatif dari bahan-bahan yang mudah dicari. Pembelajaran berbasis teks dan masalah, Pembelajaran bagi calon guru sudah seharusnya menerapkan hal itu karena bagaimanapun juga ketika mereka menjadi guru akan banyak problematika yang dihadapi. Selain itu menjadikan buku-buku teks sekolah sebagai salah satu sumber belajar juga diperlukan agar mereka siap dalam menghadapi perbedaan. Sering kali mahasiswa hanya tertanam teori namun ketika melihat isi buku teks sekolah malah bingung mau melakukan pengajaran seperti apa. Uji Kompetensi, Sebagai seorang guru, penulis setuju dengan uji kompetensi yang sekarang dilakukan pemerintah karena guru juga perlu aktualisasi dalam mendidik dan mengajar. Ketika nilai guru tidak mencapai hasil yang diharapkan maka pemerintah bisa melakukan pendidikan dan latihan agar guru bisa menjadi lebih baik lagi selain itu diklat tersebut bisa menjadi bekal awal untuk menghadapi tantangan dalam mendidik dan mengajar di era sekarang yang peserta didiknya semakin berani dan beraneka ragam. Kurikulum dan Sapras yang mendukung, Kurikulum pendidikan dalam beberapa tahun ini menjadi momok yang luar biasa, bagaimana mungkin dalam satu negara mempunyai dua kurikulum yang diberlakukan yaitu kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Pemerintah seakan membiarkan hal itu namun tetap memaksakan ujian nasional dengan merujuk satu kurikulum. Sarana dan prasarana juga menjadi salah satu kunci agar pendidikan dan pengajaran di sekolah lebih nyaman. Era administrasi digital sudah dimulai saat dapodik diperkenalkan dan kini e-raport sudah diberlakukan bagi sekolah-sekolah tertentu. Kegiatan administrasi yang berbasis daring tentunya mewajibkan sekolah mempunyai sarana dan prasarana yang memadai untuk itu. Pemerintah baik pusat dan daerah sudah sewajarnya memberikan bantuan yang lebih untuk mewujudkan pemerataan dalam bidang tersebut.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap