MASIH ADA NASIONALISME

Nasionalisme merupakan rasa cinta kepada tanah air hingga rela menyerahkan jiwa dan raganya. Ketika jaman penjajahan, rasa nasionalisme begitu kuat tertanam di setiap tubuh rakyat negeri ini. Mereka rela meninggalkan keluarganya demi ikut membela tanah air, rela masuk hutan dan keluar hutan dengan gerilya. Mereka berjuang tanpa rasa pamrih. Berjuang demi satu kata, Merdeka. Walaupun terkadang mereka tak pernah merasakan apa kata dari Merdeka itu sendiri, karena mereka lebih dulu pergi meninggalkan alam yang fana ini. Ketika Merdeka pun, mereka tak pernah minta balas budi dengan minta disebut sebagai pahlawan atau minta dana dan penghargaan. Mereka cuma minta dihargai dan dihormati sebagai orang yang dulu berjuang membela negeri ini.

Masihkah Upacara Bendera Sebagai Simbol Nasionalisme

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Kita selalu diwajibkan mengikuti upacara bendera setiap hari senin. Dan kalau ketahuan tidak ikut dalam upacara bendera kita akan di strap di depan tiang bendera sambil hormat sampai jam pelajaran selesai. Dan juga kita sering dimaki, kadada rasa nasionalismekah dalam diri ikam sampai upacara bendera yang satumat haja kada umpat.

Ketika Roy Suryo bersama tim air putih menemukan lagu Indonesia Raya versi asli (3 Stanza) di perpustakaan leiden, Belanda. Banyak orang kaget, hingga ada yang berkata; jangan-jangan lagu Indonesia Raya diganti dengan yang hanyar. Bisa-bisa tambah lapah mahapalnya dan magin uyuh badirinya. Bapanjang pang lagunya.

Dari kata seperti itu kita harusnya sadar bahwa dalam upacara bendera hampir tak ada lagi rasa nasionalisme. Yang ada mungkin hanya takut akan peraturan sekolah kalau tidak ikut upacara akan di strap di halaman sekolah?
Ironis memang, namun itulah kenyataan yang ada sekarang. Jadi, masihkah upacara bendera sebagai simbol nasionalisme?

Dulu dan Sekarang

Dulu, ketika ada upacara bendera maka orang-orang yang ingin melintas berhenti sejenak kemudian ikut berdiri sambil hormat kepada bendera merah putih. Tak pernah menangkan ego pribadi di atas kepentingan bangsa.
Namun sekarang, hal itu mungkin susah untuk dilakukan karena banyaknya kepentingan yang mungkin didahulukan daripada hanya sekedar berdiri menghormat bendera karena orang berpikir, banyak hal yang bisa dilakukan sebagai rasa cinta pada tanah air tidak hanya sekedar mengikuti upacara bendera atau menghormat pada bendera.

Nasionalisme Dalam Berbagai Bentuk

Namun kita harus sadar nasionalisme memang tidak bisa hanya dipandang ketika ikut upacara bendera atau tidak, hormat kepada bendera apa tidak. Bagaimana dengan mereka yang kuliah yang tak pernah lagi mengikuti upacara bendera setiap hari senin. Apakah mereka akan dicap sebagai orang yang tidak mempunyai nasionalisme?

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan demi mengungkapkan rasa cinta kita kepada tanah air kita. Misalnya, kita sebagai pelajar, harus belajar dengan baik dan giat agar kita bisa mencapai cita-cita yang kita inginkan. Sebagai pemuda, janganlah merusak jiwa dan raga kita dengan melakukan hal-hal yang terlarang, misalnya ngedrugs, free sex dan lain-lain. Karena itu hanya akan menghancurkan negeri ini dari dalam. Bukankah para pemuda yang akan menjadi pemimpin di masa akan datang namun apa yang akan terjadi kalau pemudanya seperti itu, tak pernah terbayang akan jadi negeri apa ini.

Nasionalisme pun tidak harus ditunjukan dengan angkat senjata melawan penjajah karena tidak ada lagi penjajah yang kelihatan bentuknya. Penjajah sekarang berbentuk mode, trend hidup. Tidak mengikuti trend yang berkembang, yang tidak sesuai dengan budaya kita apalagi agama kita, sudah merupakan nasionalisme dalam berkepribadian. Yang artinya kita mempunyai harga diri untuk tidak terlena akan kemajuan jaman yang cenderung kebarat-baratan.

Nasionalisme pun dapat kita lihat dalam dunia olahraga. Misalnya saja, ketika Piala Asia 2007 yang berlangsung di Jakarta. Kita bisa melihat bagaimana suporter tim nasional indonesia yang berasal dari berbagai suporter klub yang biasanya selalu rusuh tiba-tiba saja bersatu demi mendukung tim merah putih. Mereka rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan tiket pertandingan meski terkadang harus membeli dengan mahal karena sudah ditangan calo.

Dalam dunia maya pun juga ada nasionalisme, kita bisa ingat bagaimana situs-situs resmi dari negara Malaysia diserang hacker Indonesia ketika terjadi perselisihan di Ambalat dan juga beberapa situs dari negara Australia ketika terjadi masalah di Timur-timor.

Terlepas dari semua itu, nasionalisme tidak hanya dilihat dari upacara bendera tapi juga banyak hal. Namun ada satu pesan yang terselip, jangan pernah membuat para pejuang negeri ini menyesali kenapa negeri ini mereka perjuangkan untuk merdeka. Namun ternyata tak ada yang menghargai jerih payah, air mata dan darah mereka. Dan satu hal lagi, jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah) karena bangsa yang besar menghargai sejarah.
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang Ke-62, semoga kita benar-benar merdeka. Amien.

(Dimuat di Radar Banjarmasin, 16 dan 18 Agustus 2007)

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap