Mahasiswa, Sastra, Buku Sastra dan Makan

Mahasiswa adalah mereka yang mengenyap dunia pendidikan tinggi, merekalah yang sering disebut kaum terdidik atau intelektual. Selain itu mahasiswa identik dengan kehidupan pahitnya,bagaimana mereka berjuang untuk bisa makan hari demi hari karena mayoritas mereka adalah anak kost. Mahasiswa juga seorang aktivis karena dari kampuslah mereka bisa menggerakkan massa, berdemo menentang orang-orang yang menurut mereka bersalah. Namun dibalik kehebatannya sebagai seorang aktivis maupun seorang intelektual, mahasiswa terkadang menganggap remeh dengan hal yang berbau sastra. Mereka merasa itu bukan sesuatu yang penting bagi kehidupannya walaupun terkadang mereka melakukannya misalnya, menulis puisi (walaupun bernada gombal) ketika menyukai seorang wanita/laki-laki.

Sastra memang terkadang identik dengan kejorokan karena entah kenapa para sastrawan itu sendiri terkadang memberi image pada orang disekitar dengan hal-hal jorok, misalnya suka memakai celana yang robek-robek, muka yang semrawutan seperti orang belum mandi, terus terkadang kalau bicara suka nyeleneh-nyeleh, suka menyantaikan sesuatu (datang ke forum formal dengan pakaian seadanya, pakai celana ¾, baju kaos oblong dan pakai sandal jepit). Selain masalah itu, kenapa mereka juga tidak menyukai pagelaran sastra, itu karena pagelaran sastra bersifat monoton. Mereka merasa tidak terhibur dengan teriakan orang membaca puisi atau bermain drama, karena kata-kata atau jalan ceritanya itu terkadang susah untuk dicerna dan juga kurangnya partisipasi si penonton (kalau menonton konser musik, mereka bisa ikut bernyanyi dengan penyanyinya). Kalaupun tiba-tiba banyak mahasiswa menonton sebuah pagelaran sastra (selain mereka yang benar-benar menyukai tentang sastra), kemungkinannya adalah mereka disuruh oleh dosen mereka dengan mengatakan bahwa menonton itu sebagai ganti perkuliahan dan presensi juga diisi disana. Karena menonton itu sebuah paksaan hingga akibatnya ketika ada sebuah sesi berupa diskusi mereka berusaha menghindar dengan cara pulang lebih dulu sebelum diskusi itu dimulai dan yang terkadang menggelikan ketika mereka sudah mengisi presensi mereka pulang karena merasa sudah menyelesaikan tugasnya.

Selain masalah sastra itu sendiri, kenapa mahasiswa tidak terlalu suka dengan buku-buku sastra karena jalan cerita yang terkadang sulit untuk dicerna. Selain itu juga mahasiswa ketika ingin membeli sebuah buku sastra dia selalu membandingkannya dengan makan. Misalnya saja, ada sebuah buku harganya Rp. 30.000,-, mereka tentu berpikir buat apa beli buku ini, kalau dibawa makan uang sebesar itu mungkin bisa hidup dua hari. Selain selalu memperhitungkannya dengan uang makan, mereka juga berpikir apa manfaat dari buku itu sendiri yang isi tidak menunjang bahan perkuliahan. Lebih baik beli buku yang menunjang bahan perkuliahan supaya bisa cepat lulus.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

2 Comments

Add a Comment
  1. Artikel di blog ini sangat menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Nantikan segera plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi untuk Blogspot dan WordPress dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://infogue.com/pendidikan/mahasiswa_sastra_buku_sastra_dan_makan/

  2. wah, bagus tulisannya..

    tapi,bener juga memang terkadang orang lebih memilih perut dari pada buat otak…maksudnya buku atau apalah itu…

    gw juga ga tau kenapa bisa seperti itu ya…

    kadang2 gw juga termaksud didalamnya waktu kuliah dulu…hehehe

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap