(Lagi) Tewasnya Praja IPDN

STPDN kemudian berubah menjadi IPDN kemudian bermutasi lagi menjadi IIP. Merupakan sebuah lembaga pencipta para pamong. Mereka di didik agar bisa menjadi “pejabat” tanpa harus ikut tes. IPDN ini memang terkenal namun terkenalnya bukan karena mereka berhasil menciptakan para pamong yang bisa mengayomi masyarakat tapi karena penganiayaan yang dilakukan oleh para seniornya kepada para juniornya. Demi menjaga citra sebagai sebuah lembaga pencipta pamong itulah mereka merubah nama STPDN kemudian IPDN kemudian lagi IIP. Namun bukannya bisa mengembalikan citra baik kini citra buruk itu datang lagi (kira-kira diganti apalagi namanya?).

Citra itu datang lagi ketika tersiar kabar tewasnya seorang praja tingkat IV Chris Benard asal Kalimantan Tengah (waduh satu pulau nich). Memang kali ini tidak ditemukan adanya luka fisik namun menurut dugaan sementara Chris diduga tewas karena kelebihan minuman keras, Minggu malam sekitar pukul 19.45. Jenazahnya ditemukan tergeletak di barak Maluku Utara. Hal ini seakan-akan menyatakan bahwa di dalam kampus IPDN, minuman keras begitu mudah di dapatkan.

IPDN memang telah berusaha untuk mengembalikan citranya namun semua itu tidak akan bisa terjadi kalau semua civitas akademik di kampus IPDN tidak bekerjasama dalam hal itu. Sudah saatnya IPDN bukan lagi menjadi sebuah lembaga pendidikan eksklusif yang hanya khusus untuk menciptakan pamong.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

1 Comment

Add a Comment
  1. Kayanya mending ditutup aja deh IPDN, soalnya apa jadinya bibit2 pamong praja jadi preman semua?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap