Rumah Shaleh

Berbagi Untuk Negeri

Jangan [terlalu] Percaya Nilaimu



Ketika rapor dibagikan ada senyum sumringah di setiap wajah peserta didik. Ada kebanggaan ketika melihat angka-angka yang begitu menakjubkan. Para orangtua saling berbagi cerita tentang keberhasilan anaknya dan para siswa saling bertanya, berapa nilai ikam?. Tak ada yang salah dengan segala kegembiraan itu namun ada sedikit luka yang merasuk dalam kalbu bagi para guru yang memiliki hati. Nilai yang tinggi dan selalu selamat dari kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam setiap mata pelajaran selalu punya cerita di balik itu.

KKM semacam buah simalakama bagi banyak guru, ketika nilai anak tidak mencapai KKM maka diasumsikan bahwa gurunya yang gagal memberikan pembelajaran namun ketika diharuskan anak yang seharusnya mendapatkan nilai dibawah KKM menjadi minimal mendapatkan nilai setara KKM maka problematikanya ada disana. Menaikkan derajat nilai anak yang seharusnya dibawah KKM pada dasarnya melukai guru dan juga menghina kemampuan peserta didik yang memang berusaha maksimal dalam belajar.

KKM merupakan kriteria paling rendah yang harus dicapai setiap peserta didik untuk mencapai ketuntasan. Penyusunan KKM dilaksanakan di awal ajaran baru berdasarkan intake siswa, kompleksitas, dan daya dukung. KKM mempunyai fungsi sebagai acuan bagi pendidik untuk menilai kompetensi peserta didik. KKM yang awalnya menjadi salah satu alat untuk mengukur serta menjadi bagian dari penilaian kecerdasan calon siswa baru, seiring waktu ternyata KKM membelenggu guru. Sekolah berakreditasi A tentu akan menerapkan nilai KKM yang lebih tinggi dibandingkan sekolah berakreditasi lebih rendah.

Peserta didik yang melewati KKM akan mendapatkan pengayaan sedangkan peserta didik yang belum mencapai KKM akan dilakukan perbaikan atau remedi. Namun ketika guru sudah berkali-kali melakukan remedi namun peserta didik belum mencapai nilai KKM maka dimulailah sebuah episode drama. Guru yang gagal mengantarkan peserta didiknya mencapai nilai KKM seakan mendapatkan vonis tidak profesional. Ketika orangtua melihat rapor anaknya mendapatkan nilai rendah maka guru juga akan menjadi tersangka karena menjadi pesakitan yang dianggap tidak bisa mengajar dan mendidik. Akhirnya atas nama kemanusiaan dan doa semoga nanti mereka bisa belajar lebih baik maka pemberian nilai setara KKM disahkan, tidak peduli kalau pada kenyataannya peserta didik itu gagal.

Pendidikan berbasis Hasil

Orientasi pada nilai akhir dalam pembelajaran serta himungĀ melihat angka-angka tinggi memang tidak salah namun pendidikan bukan hanya masalah hasil tapi juga proses. Bagaimana anak mendapatkan nilai tersebut. Nilai yang tinggi tentu tidak akan berguna kalau cara mendapatkannya melalui proses yang salah seperti mencontek.

Dulu dimasa kelam pendidikan saat ujian nasional masih menjadi penentu kelulusan, pendidikan berbasis hasil tersebut berhasil mengoyak rasa kejujuran dan kebenaran yang dimiliki oknum guru, institusi, bahkan hati peserta didik. Berlomba bagaimana agar mendapatkan nilai terbaik dalam ujian nasional tanpa peduli apakah cara itu benar atau curang.

Guru dipaksa untuk memberikan nilai baik untuk menghindari cercaan maupun tekanan yang dihadapinya. Dulu saat penulis masih menjadi peserta didik, tahu betapa susahnya untuk mendapatkan nilai 70, 80, apalagi 90. Ada banyak tugas yang harus dikerjakan bahkan kadang harus bergulat dengan perpustakaan. Pekerjaan rumah yang sulit namun semua itu dilakukan agar nanti tidak ada angka merah di rapor namun kini berbanding terbalik, peserta didik yang biasa saja bahkan terlihat dibawah rata-rata untuk bidang akademik, anda tidak akan menemukan angka merah di dalam rapornya.

Sebagai seorang guru, penulis berharap pemerintah mengaji ulang tentang KKM atau kalau bisa dihapuskan saja dan biarkan guru memiliki kembali kebebasan dalam memberikan penilaian kepada peserta didik. Jadi, selama KKM masih berlaku, jangan pernah takut menerima rapor karena percayalah nilaimu akan baik-baik saja.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap