Hentikan Ujian Nasional

Ujian Nasional (UN) SMA/SMK baru saja berakhir namun Sekolah Menengah Pertama (SMP) dimulai senin ini (25 April 2011). UN sekarang memang berbeda dari yang dulu. Kalau dulu nilai UN menentukan kelulusan seorang siswa, kini itu tidak lagi karena Nilai Sekolah (NS) mereka juga menentukan dengan perbandingan NS = 40% dan UN = 60%.

UN seakan menjadi momok yang menakutkan bagi siswa, guru, sekolah atau siapapun yang merasa berkepentingan dengan nilai akhir sekolah. Banyak hal yang dilakukan agar siswa siap dalam menghadapi UN mulai dari pemberian les sampai ikut Bimbingan Belajar bahkan ketika mendekati hari H nya pun masih ada hal yang biasanya sering dilakukan, mulai dari zikir bersama hingga salat hajat bersama.

Kelulusan sekolah yang hanya dinilai dari selembar kertas yang dibulati serta hanya berlangsung beberapa hari sangat terlalu “kejam” untuk menilai keberhasilan sebuah Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang berlangsung selama 3 tahun. Lagipula, mata pelajaran yang di UN kan tidak semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah padahal bisa saja siswa ada yang menguasai mata pelajaran lain selain yang di UN kan yang pada akhirnya kelebihannya pada mata pelajaran itu tidak bisa membantu hasil UN nya.

Selain itu, pemberlakukan standar nilai sama seluruh Indonesia sebenarnya sangat tidak masuk akal bagiku. Sekolah di kota dan di pinggiran terlalu berbeda mulai dari sarana dan prasarana, kualitas guru hingga kemampuan siswanya sendiri. Sekolah yang punya sarana dan prasarana lengkap dan ditunjang kemampuan guru yang baik pasti akan melakukan seleksi terhadap siswa-siswa yang akan masuk ke sekolah itu dengan berbagai standar yang telah ditentukan sekolah atau dengan kata lain hanya siswa-siswa pilihan saja yang bisa masuk ke sekolah itu sedangkan yang dipinggiran, jangankan mau melakukan seleksi terhadap siswa, mereka mau sekolah saja sudah merupakan anugerah yang tak terhingga.

UN sendiri padahal berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yang sudah dikuatkan Pengadilan Tinggi Jakarta Pusat serta putusan MA yang menolak kasasi yang dilakukan pemerintah telah memerintahkan kepada tergugat (pemerintah) meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap diseluruh daerah di Indonesia sebelum mengeluarkan kebijakan pelaksanaan UN lebih lanjut.

Berdasarkan putusan itu seharusnya pemerintah tidak lagi melaksanakan Ujian Nasional karena sampai hari ini masih banyak ketimpangan terutama sarana dan prasarana. Tak usah jauh beri contoh tentang hal itu, di sekolah tempat saya mengajar, SMPN 4 Daha Selatan tak punya apapun selain ruang kelas dan ruang guru. Tak ada laboratorium IPA, Laboratorium Bahasa bahkan Ruang Perpustakaan. Memang ketidakadaan hal itu tidak menyurutkan pengabdian saya dan juga teman-teman saya namun alangkah baiknya kepada pemerintah agar melaksanakan putusan pengadilan tentang UN karena kita adalah negara hukum dan semua orang punya hak yang sama dimata hukum begitu juga siswa. Jadi saya berharap bahwa Ujian Nasional 2011 adalah ujian terakhir yang dilakukan oleh para siswa.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

17 Comments

Add a Comment
  1. maunya sih kaya gitu om, engga ada UAN. masa kelulusan cuman dutentukan bebrapa hari aja

    memang seharusnya gitu 🙂

  2. mudah2an pas anakku nanti, gak ada UAN, biar ibunya gak ikutan stress juga .. 😀

    mudah-mudahan Ka 🙂

  3. seharusnya nilai un jgn di patok dari pemerintah tapi seharusnya dari sekolah juga

    ya, seharusnya gitu 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap