Hemat Kepepet

Semenjak era reformasi dimulai, Negeri ini terus mengalami masalah mulai dari masalah politik hingga masalah ekonomi. Masalah itu datang silih berganti di setiap pemerintahan. Dan sekarangpun Indonesia mengalami masalah khususnya mengenai masalah ekonomi. Hal itu terjadi karena naiknya harga minyak dunia yang menembus harga $120/barel. Tingginya harga itu mengakibatkan pemerintah melakukan sebuah kebijakan yang sangat tidak populer di masyarakat yaitu menaikkan harga BBM. Padahal ketika itu presiden Susilo bambang yudhoyuno pernah mengatakan tidak akan menaikkan harga BBM dan kalaupun itu akan terjadi opsi kenaikan harga BBM merupakan pilihan terakhir.

Dan sekarang kenaikan BBM sepertinya memang akan dilakukan dan mungkin itu memang merupakan opsi terakhir menurut pemerintah walaupun bagi sebagian orang masih ada opsi yang lain. Ketika menghadapi masalah seperti ini pemerintah selalu menganjurkan kita untuk berhemat. Mengurangi hal-hal yang tidak perlu karena akan membuang energi secara percuma.

Namun imbauan tentang penghematan ternyata hanya berlaku ketika menghadapi masalah. Rakyat di suruh mengurangi pemakaian listrik dan BBM demi menjaga keseimbangan APBN. Dulu ketika menghadapi masalah yang sama, pemerintah juga pernah menganjurkan agar jangan menggunakan jas dalam ruangan dan ternyata tidak efektif karena saat itu tidak terlalu kepepet seperti sekarang.

Padahal hemat tidak hanya berlaku ketika sedang mengalami masalah tapi juga dilakukan ketika tidak terjadi masalah, dengan berhemat kita akan bisa mengatur segala pengeluaran kita. Jadi, kita bisa memilah mana yang harus dibeli dan yang tidak, mana yang termasuk kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder bagi kita. Dengan hal itu kita bisa menjaga keseimbangan ekonomi. Namun banyak orang melakukan penghematan ketika kepepet dan ketika tidak mereka melakukan keborosan yang tidak perlu seperti membiarkan lampu menyala di siang hari, membiarkan AC dan TV menyala padahal orangnya tidak ada.

Hemat mungkin belum menjadi sebuah kebiasaan masyarakat Indonesia. Mungkin rakyat Indonesia masih eurofia tentang negerinya, yang katanya jamrud khatulistiwa, tanahnya subur, gemah ripah loh jenawi itu mengartikan bahwa tanah Indonesia sangat subur. Namun itu sebenarnya adalah cerita masa lalu ketika negeri ini masih perawan dari hal-hal yang buruk seperti korupsi, individualis. Sekarang sudah berbeda, negeri ini yang katanya negeri agraris ternyata malah mengimpor beras dari negeri tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Negeri ini yang katanya juga termasuk dalam anggota OPEC (Organisasi Pengekspor Minyak Dunia) ternyata malah menjadi mengimpor minyak. Karena hal-hal itu ketika dunia mengalami masalah ekonomi maka Indonesia pun mengalami hal yang sama karena negeri ini tergantung dari negeri lain.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

19 Comments

Add a Comment
  1. Rizki Eka Putra

    Segala sesuatu yang salah urus akan mengakibatkan petaka !

  2. Kenapa orang Indonesia susah berhemat? Karena mereka lebih mementingkan gengsi.

    Misalnya, “Gue kan sekarang udah jadi Boss. Masa iya harus pake mobil butut ini terus?”

    Atau, “Ngapain ngirit listrik? Gue sanggup bayar tagihannya, kok!”

    etc …
    Jadi? Kalo mau berubah, tuh gengsi kudu ditekan terlebih dulu.

  3. Syamsuddin Ideris

    Sebenarnya pemerintah nggak benar-benar mensubsidi BBM kita. Begini, bbm yang dijual di sini kan produksi sendiri, modal membuat bbm jadi bensin dari menambang hinggak ke SPBU sebenarnya cuma Rp 630,- jadi kalau sekarang dijual Rp 4.500,- kan pemerintah masih untung Rp 3.870,-.

    Sebenarnya pemerintah tidak rela menjual bensin cuma Rp.4.500 yang walau sudah untung tapi keuntungannya masih kurang dibandingkan jika bensin dijual Rp 6.000,- yang sesuai harga minyak dunia tapi sebenarnya menyengsarakan rakyat.

    Jadi arti “subsidi” selama ini adalah “selisih” keuntungan yang harusnya didapat pemerintah karena menjual bensi Rp 4.500 yang “sebenarnya sudah untung” dengan harga bensin Rp.6.000 “sesuai harga minyak dunia”.

    Bisa anda lihat, pemerintah berpihak kemana?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap