Rumah Shaleh

Berbagi Untuk Negeri

Guru, Menulislah!

Lumire Hotel and Convention Center menjadi saksi bahwa banyak sekali guru hebat dalam bidang literasi. Ya, Kemendikbud melalui Program Kesharlindungdikdas mengadakan Diseminasi Nasional Literasi bagi Guru SMP Tahun 2017 pada tanggal 10-13 Oktober 2017. Ada sekitar 200 guru se-Indonesia yang berhadir disana, mereka semua terpilih karena mendaftar dan mengunggah file naskah buku yang akan dilombakan. Banyak hal yang saya dapatkan dari sana, selain bertemu para guru sekaligus penulis hebat se-Indonesia.

Salah satu hal yang saya lakukan ketika ikut lomba itu adalah menuliskan apapun yang bisa ditulis, yang penting ada kemauan untuk menulis. Menulislah apa yang ingin kau tulis. Saya tidak tahu pasti berapa jumlah guru IPA dan Matematika yang hadir disana namun yang jelas di kelas B, tempat saya dikumpulkan, bisa dibilang lebih 50% adalah guru IPA dan Matematika dan hebatnya mereka menulis cerpen dan novel yang seharusnya bisa didominasi oleh anak bahasa. Bahkan ada guru yang bisa menyelesaikan tiga novel hanya dalam rentang waktu tiga bulan. Luar biasa, itu hal yang terucapkan.

Guru, Menulislah!

Sesuai dengan undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru dituntut untuk meningkatkan dan mengembangkan profesionalitas dan salah satunya adalah keterampilan dalam membuat karya tulis. Salah satu karya tulis yang bisa dilakukan guru adalah mengirimkan artikel ke media massa namun tidak semua guru mau dan mampu untuk melakukannya. Selalu ada banyak kendala dari hal itu. Ada beberapa faktor umum yang menjadi penyebab kenapa seseorang malas menulis dan mungkin juga termasuk guru. Menurut Suriasumantri (dalam Sembiring, 2011:6) menjelaskan faktor umum itu diantaranya;

Pertama, disebabkan karena kurang membaca. Membaca merupakan faktor utama dalam keterampilan menulis. Semakin banyak seseorang membaca maka semakin banyak pustaka yang dimiliki. Pustaka yang banyak akan memudahkan seorang penulis dalam memilih materi yang akan ditulis. Kurangnya membaca pada akhirnya membuat tulisan menjadi terlihat kering, serasa hambar karena kekurangan data dan informasi yang memadai bahkan bisa berakibat tulisan menjadi subjektif. Kedua, kesulitan disebabkan karena kurangnya latihan menulis. Keterampilan menulis sama halnya dengan keterampilan yang lain, kalau tidak dipraktikkan tidak akan pernah bisa. Semakin sering guru berlatih untuk menulis maka semakin baik. Penulis akan selalu belajar secara kontinu dari pengalaman yang didapatkan dari membaca dan latihan tersebut. Kondisi sekolah serta banyaknya tugas yang dibebankan kepada guru juga menjadi slah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya minat tulis seorang guru. Rendahnya minat tulis guru berkorelasi dengan rendahnya latihan menulis. Hal itu tentunya bukan halnya baik dan memuat guru akan semakin tertinggal jauh dari penguasaan keterampilan menulis. Ketiga, kesulitan disebabkan karena kerancuan dalam berpikir. Selain membaca, kerancuan dalam menulis menjadi sebuah tulisan menjadi kacau dan terlihat tidak sistematis. Membingungkan pembaca karena ketidakjelasan alur yang digunakan. Kerancuan itu berakibat permasalahan yang ingin diutarakan di awal tulisan terlihat putus saat diambil penarikan simpulan. Hal itu terjadi karena pola pikir serta kurangnya literatur yang dimiliki. Keempat, kesulitan disebabkan karena kerancuan dalam berbahasa. Selain kerancuan berpikir, kerancuan dalam berbahasa juga menjadi faktor yang menjadi tulisan terlihat tidak terlihat alurnya. Ketidakmampuan berbahasa lebih dikarenakan kurangnya kosakata yang dimiliki.

Beberapa faktor diatas tentunya bisa menjadi salah satu alasan kenapa banyak guru mengalami kesulitan dalam menuliskan karya mereka. Ketidakberdayaan dalam melakukan keterampilan menulis akan berdampak pada terhambatnya jenjang karir seorang guru. Berdasarkan Peraturan  Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPANRB) No 16 Tahun 2009 Tanggal 10 November 2009, para guru PNS dari golongan III/b yang ingin naik pangkat ke golongan III/c sudah diwajibkan untuk menuliskan satu karya tulis.

Prinsip tulislah apa yang kamu sukai benar-benar mumpuni untuk memulai sebuah tulisan. Menuliskan sesuatu yang kita kuasai dan sukai akan membuat tulisan lebih mengalir. Selain itu, ketika selesai menulis, cobalah mempersepsikan bahwa anda adalah pembaca atau bisa mengajak seorang teman untuk membaca dan biarkan saran dan kritik yang dikatakannya menjadi pemicu untuk membuat tulisan lebih baik lagi. Perbanyak membaca dan seraplah pengetahuan darimana saja.

Dan ingatlah, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian (Pramoedya Ananta Toer).



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat’08 & Universitas Negeri Surabaya’16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap