Guru Dan Pustakawan Sebagai Benteng Literasi Informasi Sekolah

Kata literasi dalam beberapa tahun ini mulai menjadi salah satu kata penting dalam dunia pendidikan, terutama ketika Gerakan Literasi Sekolah yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memperkuat Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang gerakan penumbuhan budi pekerti. Gerakan literasi sekolah ditunjukkan dengan “kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Kegiatan itu memang mempunyai dampak positif bagi siswa karena menumbuhkan minat baca terhadap buku selain buku teks pelajaran.

Marc Prensky (2001) menyebutkan istilah digital native untuk seseorang yang sejak dini telah tertempa teknologi komputer, istilah itu digunakan untuk membedakan dengan generasi lainnya yang disebutnya sebagai generasi digital immigrants. Siswa yang terlahir di era 2000-an bisa dikatakan sebagai siswa digital native kerena mereka sejak lahir sudah tertempa kemajuan teknologi komputer. Siswa yang terlahir sebagai generasi digital native tentunya punya cara berpikir yang berbeda dari guru mereka yang terlahir sebagai digital immigrants. Perbedaan pola pikir dan sudut pandang terhadap suatu informasi antara guru dan murid bisa dikomunikasikan melalui literasi informasi.

Digital student atau siswa digital mungkin di beberapa sekolah atau malah di banyak sekolah telah menjamur. Siswa yang sehari-harinya tidak lepas dari gadget dan media sosial adalah salah satu jenis siswa digital. Kepemilikan akun media sosial serta penggunaannya oleh siswa tentunya bisa menjadi pro kontra bagi beberapa kalangan terutama masalah kebermanfaatannya. Pornografi menjadi salah satu sisi negatif dari adanya internet, dan tidak dipungkiri Indonesia adalah salah satu negara pengakses situs porno terbanyak di dunia. Tentunya ini juga menjadi ironi sebagai sebuah negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Selain pornografi, radikalisme kini juga menjadi salah satu ancaman serius, banyak perekrutan calon terorisme baru dilakukan melalui dunia maya bahkan di Indonesia sudah mulai terjadi.

Beberapa tahun sejak berakhirnya era pemilu tahun 2014, dunia maya Indonesia menyeruak ancaman baru bernama hoax. Hoax atau berita palsu semakin menjadi-jadi, tak peduli apa titel anda, hoax bisa saja mempengaruhi pikiran. Hoax bagi sebagian orang tapi real bagi sebagian lain, hal itulah membuat subur informasi semacam itu.

Pentingnya Literasi Informasi Pada Media Sosial

Mungkin anda sering menemukan orang yang suka berbagi informasi di beranda media sosial mereka, baik itu peristiwa maupun sekedar tips. Dari sekian banyak informasi yang dibagikan, kadang kala kita menemukan berbagai informasi yang tidak jelas kebenaran informasinya karena ditulis oleh media online ataupun individu tertentu yang punya subjektivitas tinggi terhadap sesuatu namun tetap saja banyak orang yang membagikannya. Saya cukup yakin, kalau mereka yang membagikan informasi itu belum tentu membaca isi dari informasi yang mereka bagikan ataupun mencari pembanding dari informasi yang akan dibagikan. Cukup dengan pemberian judul yang bombastis maka akan banyak orang membagikan informasi tersebut tanpa tahu isi beritanya atau sering disebut teknik clickbait dalam penulisan, memberikan judul bombastis namun infonya biasa saja bahkan terkesan datar.

Internet, telepon pintar, televisi, dan media sosial saling berkejaran dalam memberikan informasi, 24 jam tanpa henti. Banyaknya informasi di media online dan tidak tersaring dengan baik sehingga menimbulkan banyak pertanyaan tentang kebenaran, keaslian, serta pembuktian berita tersebut. Perubahan pola mendapatkan informasi yang semula bergantung pada media cetak dan kini menjadi media online yang menyajikan kecepatan informasi, tidak diiringi dengan meningkatnya keahlian seseorang dalam membaca informasi.

Kemajuan dalam mendapatkan informasi seharusnya diiringi dengan kemampuan seseorang dalam literasi khususnya literasi informasi. Literasi informasi adalah pengetahuan tentang suatu yang berhubungan dengan informasi dan kebutuhan, dan kemampuan untuk mengidentifikasi, menempatkan, mengevaluasi, mengorganisir dan mewujudkan keefektifan, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi untuk menunjuk hal atau masalah yang ada; ini merupakan suatu prasyarat untuk mengambil bagian secara efektif di dalam masyarakat informasi, dan menjadi bagian dari hak dasar manusia tentang pembelajaran sepanjang hayat (UNESCO, 2003:1). Dengan kata lain, dengan memiliki kemampuan literasi informasi, seorang pembaca bisa menentukan informasi yang diperlukannya, sesuai dengan kebutuhannya serta mengevaluasi sumber-sumber informasi yang didapatkan. Hal itu sejalan dengan tujuan literasi informasi.

Menurut ACRL (2000:2-3), seseorang yang telah menguasai menguasai keterampilan literasi informasi akan bisa; (1) Menentukan batas informasi yang diperlukan; (2) Mengakses informasi yang diperlukan dengan efektif dan efisien; (3) Mengevaluasi informasi dan sumber-sumbernya dengan kritis; (4) Memadukan sejumlah informasi yang terpilih menjadi dasar pengetahuan seseorang; (5) Menggunakan informasi dengan efektif untuk mencapai tujuan tertentu; (6) Mengerti masalah ekonomi, hukum, dan sosial sehubungan dengan penggunaan informasi, serta mengakses dan menggunakan informasi secara etis dan legal.

Guru dan Pustakawan Jadi Benteng Hoax

Saat peserta didik mendapatkan tugas mandiri seperti mencari data, mencari referensi, maupun mencari bahan tugas lain melalui media Internet maka disaat itu, risiko terpapar hoax bisa terjadi. Pemahaman dangkal tentang literasi informasi bisa membuat peserta didik akan langsung mempercayai sebuah informasi tanpa mencari lebih jauh tentang informasi tersebut. Pemahaman tentang literasi informasi sudah seharusnya dimiliki sejak bangku sekolah. Guru sebagai ujung tombak pendidikan wajib mengajarkan literasi informasi kepada siswanya agar nantinya mereka bisa mencari dan menggunakan informasi secara efektif serta bisa mengkritisi informasi yang didapatkan, sehingga bisa terhindar dari perilaku yang salah dalam memahami sebuah informasi.

Digalakkannya Gerakan Literasi Sekolah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentunya bisa menjadi pintu gerbang bagi sekolah agar lebih siap dalam menghadapi dan mengajarkan kompetensi abad 21. Salah satu tuntutan pengajaran abad 21 adalah keterampilan membaca berupa kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Dengan kemampuan literasi informasi yang baik dan benar, tentunya tuntutan pengajaran abad 21 bisa dengan mudah dihadapi.  Kemampuan literasi informasi tetap akan terus berjalan dan berkembang walaupun siswa sudah menyelesaikan pendidikan di sekolah karena literasi informasi merupakan bagian dasar dari pembelajaran sepanjang hidup.

Akhirnya, tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab akan lebih mudah dicapai.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap