GENERASI ANGUY

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari sebuah tulisan di kolom opini, Koran Radar Banjarmasin yang terbit pada Jumat 13 juli 2007 yang ditulis oleh saudara Ahmad Nur Irsan Finazli yang berjudul Menakar Kepemudaan Pemuda.

Anguy atau bunglon (Ind) adalah binatang reptil yang mempunyai keahlian dalam merubah warna tubuh sesuai tempat dimana ia berada. Teknik ini juga biasanya dilakukan oleh para intel dan spy hampir di seluruh dunia. Mereka bisa menyamar menjadi pecandu narkoba, pengguna narkoba, pelancong dan banyak lagi yang lainnya sesuai dengan apa yang dibutuhkannya demi mendapatkan buruannya.

Seperti yang beliau tulis, kita para pemuda berada di antara tiga persimpangan peradaban, yaitu peradaban timur, peradaban barat dan agama. Kalau memilih simpang modern (barat) pasti akan dicap sebagai penentang adat (adat ketimuran) dan murtad (penentang agama). Tetapi kalau memilih simpang adat ketimuran, pemuda akan divonis sebagai orang yang ketinggalan jaman dan musyrik dari agama. Sama juga seandainya pemuda memilih agama sebagai pegangannya, dapat dipastikan dia akan dicap sebagai ekstrim kanan, fanatik, fundamentalis, bahkan teroris sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh kaum barat.

Dari kata-kata seperti itu, kita sebenarnya telah memilih hidup di jaman peradaban barat, karena kita tak berani memilih hingga akhirnya mengikuti trend yang berlaku atau yang lebih kerennya apa kata dunia (diambil dari film Naga Bonar 2). Lihat saja di jalanan, banyak orang yang bukan muhrimnya naik motor berduaan berpegangan seperti lem dan prangko (lagi-lagi diambil dari sebuah iklan produk kecantikan) atau kita lihat di kos-kosan/kontrakan, laki-laki dan wanita duduk berduaan sambil pegangan tangan terkadang diselingi dengan belaian di rambut, dalam budaya timur itu sudah dianggap tidak tahu etika apalagi kalau dilihat dari agama, amat sangat tidak etis karena bukan muhrim, jadi hukumnya haram.

Namun terkadang, ada juga orang yang karena susah untuk memilih dari ketiga persimpangan tersebut, tentu dengan berbagai alasan hingga akhirnya memutuskan untuk hidup dalam tiga alam berbeda, yaitu alam agama, alam timur dan alam barat. Seperti yang beliau tulis juga, ketika ada undangan perkawinan kita akan menggunakan pakaian tradisional (alam timur) dan ketika pergi berlibur khususnya ke pantai maka kita akan memakai bikini atau telanjang (alam barat) dan juga ketika ada sebuah pengajian maka pakaian yang dipakai adalah pakaian yang islami (alam agama) dimana semua aurat tertutup kecuali muka dan telapak tangan.

Kalau sudah begini, kita memang generasi anguy (bunglon). Generasi yang tidak pernah punya pendirian terhadap tindakan dan pemikiran kita. Kalau kita bukan dari generasi ini, pilihlah satu dari persimpangan itu, tentu dengan segala resikonya. Tapi kalau kita memang orang yang memikirkan sesuatu tidak sekedar instan tapi juga memikirkan apa yang ada di masa yang akan datang, seperti kehidupan setelah kematian, maka kita pasti tahu apa yang akan dipilih.
Ya, tepat sekali. Kita pasti akan memilih agama dan juga alam agama. Kita tahu hidup di dunia ini hanya sementara dan tidak kekal sedikitpun. Kita kapan saja bisa meninggalkan alam ini beserta peradabannya, baik barat atau timur.

Mungkin orang akan berpikir macam-macam ketika kita memilih agama sebagai pegangan hidup, ada yang bilang kaya paalimnya, kahandakan masuk surgalah,dll. Tapi itu biasanya hanya diungkapkan oleh mereka yang tak mengerti tentang agama.

(Dimuat di Radar Banjarmasin, 1 Agustus 2007)

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap