Film Ayat-Ayat Cinta Antara Poligami dan Kawin Beda Agama

Novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy atau Kang Abik, begitu populer di Indonesia bahkan katanya mengalahkan Novel Harry Potter. Novel yang bersetting kota mesir itu begitu jelas dan begitu terasa walaupun hanya dalam bentuk teks. Setiap lembar novel itu begitu menyentuh bahkan mengharukan. Novel yang bertema tentang Islam itu begitu jelas, bagaimana seorang Fahri begitu kuat dalam mempertahankan imannya di tengah derasnya fitnah hingga ia masuk penjara.

Fahri adalah seorang muslim yang berasal dari Indonesia namun kuliah di mesir. Dia begitu sempurna untuk ukuran manusia jaman sekarang hampir tanpa cela bahkan bisa dibilang sempurna dan sangat memegang teguh dengan syariat Islam. Dia tahu bagaimana caranya berhubungan dengan lawan jenis tanpa harus menanggalkan imannya. Di novel itu kita bisa lihat ketika Maria mengajaknya untuk berdansa. Ia mengatakan sesuatu yang membuat Maria kagum bahkan lebih mencintainya, yaitu ingin aku berdansa denganmu namun agamaku melarangnya. Kata-kata itu begitu mudah namun susah untuk diucapkan untuk orang seperti kita. Dan untuk wanitanya yaitu Aisya, ia juga begitu sempurna untuk ukuran seorang wanita jaman sekarang yang mulai menanggalkan imannya. Walaupun ia bukan orang arab tapi keturunan turki-jerman namun ia begitu teguh dalam memegang imannya. Ia juga penyabar, lembut. Tak pernah sifat yang berlebihan darinya apalagi sampai agresif. Ia juga begitu setia dengan suaminya tak pernah ia berpikir bahwa suaminya berbohong padanya.

Namun itu cerita dalam novel. Cerita versi filmnya begitu berbeda. Fahri digambarkan seperti seorang tokoh yang bimbang dengan jodohnya, bahkan dia terlihat seperti orang yang bodoh (tidak mencerminkan dia mahasiswa pasca sarjana yang pintar seperti yang digambarkan dalam novelnya). Selain itu Fahri juga tiba-tiba saja berpoligami, memiliki istri Aisya dan Maria yang tinggal serumah (dalam novelnya memang ada namun tidak lama). Selain itu juga, entah sutradara ini tahu atau pura-pura tidak tahu. Bahwa aurat wanita itu adalah seluruh tubuhnya kecuali telapak tangan dan muka. Namun Aisya yang tahu tentang agama seakan-akan jadi orang yang tidak mengerti masalah agama, dengan membiarkan tangannya terbuka sampai terlihat pergelangannya bahkan dalam satu adegan malah yang terlihat adalah lehernya.

Selain masalah Fahri dan Aisya. Maria juga seakan menjadi orang yang berbeda. Maria yang di dalam novelnya tidak sedikitpun menyinggung masalah salib dan mempunyai salib. Tiba-tiba dia dalam film mempunyai sebuah tato salib yag hingga akhirnya hayatnya masih menggunakan salib padahal waktu itu dia lagi salat (entah itu sengaja atau tidak, tapi bagiku itu adalah sebuah penghinaan).

Hingga akhirnya film Ayat-Ayat Cinta seperti menceritakan seorang laki-laki yang bimbang dengan perkawinan poligaminya karena dalam film seperti menyiratkan itu. Bagaimana ketika fahri menemui temannya dan berkeluh kesah betapa susahnya ia mempunyai istri dua, yang kemudian disahuti temannya, asal kamu bisa adil tidak apa-apa namun satu orang saja belum tentu adil.

Jadi kesimpulannya film Ayat-Ayat Cinta dan Novel Ayat-Ayat Cinta adalah dua hal yang berbeda. Sehingga saya merasa (Sudut Pandang Orang Pertama: Aku,… hehe) tidak layak kalau memakai kata “Diangkat dari Novel Best Seller ‘Ayat-Ayat Cinta’ karya Habiburrahman El Shirazy”. Mungkin lebih baik diganti dengan judul yang lain.

Terlepas dari kesimpulan itu, saya salut dengan film ini karena film ini lebih baik dari film-film yang sering memunculkan hantu.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

8 Comments

Add a Comment
  1. Yee kalo mengalahkan harry potter blm bsa,masi jauh,he3..Film and novel beda bgt..Gk tau gmana sang sutradara membuat filmnya,mgkn buru2 x

  2. iya benar, sepertinya film dan novelnya berbeda…

    walaupun begitu tetep keren kok filmnya..
    hehehehe…

    good posting..

  3. aku juga sempat kecewa *dikit* dengan film AAC karena beberapa adegan yg rasanya berbeda dari versi novelnya.. tapi biar bagaimana pun kita harus tetap mengapresiasi film ini karena kalau kita bandingkan dengan film2 lain yg beredar di 21 jelas film ini isinya jauh lebih bagus dan mendidik, apalagi ketika membaca tulisan hanung bramantyo tentang bagaimana sulitnya mengadaptasi novel AAC ke layar lebar..

  4. keren tuh filmnya,kalau masalah beda ama novelnya ga masalah kok, itukan tergantung penafsiran si penulis naskah dan sutradara, yang pasti nih film bumung banget sampai pak habibi juga nonton he…he.. hi tech.

  5. wah… ternyata cuma aq ya yang ga nonton…
    tapi memang bukan penggemar film sii jadi ya ga pengen banget…
    soale dah bosen denger cerita dari anak-anak sampe rasanya “dah nonton” akhirnya ga seru lagi kan…

  6. hihihi…setuju oom kalo ngalahin harry potter mah, soalnya saya gak suka harry potter sih. Intinya bingung ya kalo punya istri 2. Pengen oom punya istri 2?? hehe

  7. film A2C bagus ? Ke laut aje. Sumpe, mendingan Children of Heaven. Kalo dibandingin ke sinetron ? Mending Kiamat udah Dekat.

  8. Penggemar harry pott

    Keep up the great work. I enjoyed it all and agreed with 99% of it!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap