Elegi Kekerasan Pada Pendidik

Kekerasan terhadap guru mulai ramai diperbicangkan di awal tahun 2018 tepatnya di bulan februari ketika berita meninggalnya Ahmad Budi Cahyono, guru SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Madura, Jawa Timur yang diduga akibat mendapat tindakan kekerasan dari muridnya saat jam pelajaran tengah berlangsung. Setelah kejadian itu, banyak pihak mengecam adanya tindak kekerasan terhadap pendidik.

Fenomena kekerasan dalam dunia pendidikan memang tidak bisa dipungkiri, kejadian itu khususnya dalam mendidik siswa-siswinya terutama dalam hal disiplin, masih sering ditemui guru memperlakukan siswa dengan kasar atau melakukan kekerasan terhadap siswanya. Kekerasan ini bisa berupa kekerasan fisik seperti mencubit, menjewer dan kekerasan verbal seperti mengumpat, memarahi, menghardik, atau mengancam (Ulfah, 2013:81).

Menurut Gaza (2016:18), perilaku menghukum dalam dunia pendidikan kita sudah bukan barang baru untuk diperbincangkan. Artinya, sudah sejak lama banyak pihak mendiskusikan tentang fenomena memberi hukuman ini. Penggunaan kekerasan di lingkungan pendidikan mulai terlihat saat diadakan orientasi siswa atau mahasiswa pada tahun ajaran baru. Penegakan disiplin yang dilakukan sekolah kadang juga menggunakan kekerasan. Kekerasan di lingkungan sekolah dianggap legal karena dibalut dengan aturan dan budaya yang mengatakan bahwa hal itu diperlukan sebagai sarana untuk menegakkan disiplin.

Tindak kekerasan tidak hanya terjadi pada pola satu arah, guru dengan siswa namun juga berkebalikan dimana guru adalah korban kekerasan, baik itu oleh siswa maupun orangtua/wali siswa. Dikutip dari tirto.id ada beberapa kejadian yang melibatkan siswa maupun orangtua/wali murid dalam tindakan kekerasan.

Agustus 2016 seorang wali murid di SMK Negeri 2 Makassar meninju guru mata pelajaran arsitek. Desember 2017, IT guru SMKN 1 Pagar Dewa Kecamatan Lubai Ulu Kabupaten Muara Enim mesti menjalani perawatan di Rumah Sakit Siti Khadijah Palembang usai dihajar A yang merupakan wali murid siswa berinisial K. Februari 2018 foto guru perempuan dengan wajah bersimbah darah menjadi viral di jagat maya. Guru sekaligus kepala sekolah SMP 4 Lolak, Sulawesi Utara berinisial AT (57 tahun) itu terluka lantaran dihantam dengan meja kaca oleh orang tua murid berinisial DP (41 tahun). Februari 2018, seorang guru berinisial ABC (26 tahun) di Sampang Madura meregang nyawa karena mengalami mati batang otak usai dihajar hingga tersungkur oleh siswanya sendiri di dalam kelas.

Terjadinya kekerasan di sekolah dapat dirasakan karena pola relasi asimertis (tidak setara) antara guru dan siswa, siswa dan guru, serta antara siswa dan siswa. Kekerasan tersebut terjadi disebabkan oleh relasi kekuasaan yang timpang dan hegemoni karena pihak yang satu memandang diri lebih superior baik dari segi moral, etis, agama, atau jenis kelamin dan usia. Realistas di lembaga pendidikan, sering didengar banyak kata atau istilah untuk menggambarkan bentuk dari kekerasan ini yang tentunya juga tidak terlepas dari hubungan bahasa dan budaya yang sering terjadi dalam pembelajaran di kelas (Ulfah, 2013:81).

Beberapa kejadian dalam dunia pendidikan belakangan ini tentu tidak bisa juga dipersalahkan pada satu pihak. Misalnya ada peserta didik nakal yang berani melawan guru atau ada guru memukul peserta didik tentunya hal itu tidak bisa dilihat dari satu sisi dan menganggap itu adalah kegagalan dalam pendidikan. Pendidikan bukan hanya tentang lingkungan sekolah, guru, dan siswa namun juga tentang orangtua, masyarakat, dan pemerintah. Sekolah dan guru telah memberikan kemampuan terbaiknya dalam mendidik dan mengajar siswa akan menjadi lebih baik. Namun semua hal itu tidak bisa berjalan lurus kalau orangtua, masyarakat, dan pemerintah tidak melakukan hal yang sama.

Pendidikan tentu akan lebih kuat dengan berbagi peran antara guru, orangtua, dan masyarakat. Pendidikan bukan hanya masalah kurikulum tapi juga bagaimana sekolah bisa memanusiakan manusia yang belajar disana. Pendidikan bukan tentang menjejali otak dengan segala teori tapi harus bisa mengimplementasi teori dalam praktik. Semua masalah pendidikan akan lebih mudah diatasi secara bersama karena masalah pendidikan adalah masalah bersama.

Untuk hal itu, Pemerintah mencanangkan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang salah satu bagiannya adalah Penguatan Pendidikan Karakter. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetis), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Elegi Pendidik

Tindak kekerasan terhadap pendidik di wilayah penulis berdiam, Kalimantan Selatan, bisa dikatakan relatif jarang terjadi atau bisa saja pernah terjadi namun tidak terekspos ke media. Dalam rentang 2017-2018 penulis hanya menemukan dua pemberitaan koran lokal mengenai adanya tindak kekerasan terhadap pendidik dan itu terjadi pada oktober 2017. Pertama, Guru di SD Keraton 3 Martapura, kabupaten Banjar yang bernama Junaidah mengalami tindak kekerasan fisik berupa pemukulan oleh wali siswa. Kedua, Guru di SD Pelaihari 7 yang bernama Suprihatin mengalami pengeroyokan oleh dua orangtua siswa.

Kedua kejadian itu punya persamaan yaitu kurangnya komunikasi antara orangtua dengan pihak sekolah tentang apa yang terjadi terhadap anak mereka. Orangtua seharusnya bertanya langsung kepada pihak sekolah tentang kejadian yang mungkin menimpa anak mereka dan bukan langsung mendatangi guru yang dianggap melakukan kesalahan. Kekerasan yang terjadi karena kurangnya komunikasi diantara orangtua dan sekolah seharusnya disikapi dengan bijak. Pemerintah telah mencanangkan tentang tripusat pendidikan yaitu adanya kolaborasi antara guru, orangtua siswa, dan masyarakat.

Selain itu, pemerintah telah berusaha maksimal dalam melindungi pendidikan, salah satunya dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 10 Tahun 2017 Tentang Perlindungan Bagi Pendidik Dan Tenaga Kependidikan dikatakan bahwa Perlindungan merupakan upaya melindungi Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang menghadapi permasalahan terkait pelaksanaan tugas. Selanjutkan dalam Permendikbud tersebut dijelaskan bahwa Perlindungan terhadap pendidik dan tenaga kependidikan meliputi (1) hukum; (2) profesi; (3) keselamatan dan kesehatan kerja; dan/atau (4) hak atas kekayaan intelektual.

Dari semua harapan dan kebijakan untuk melindungi pendidik dari tindak kekerasan, sudah seharusnya semua pihak mulai dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi, dan masyarakat bisa menjalankan perannya sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya. Tentunya kita semua berharap, tidak ada lagi tindak kekerasan dalam dunia pendidikan baik itu terhadap siswa maupun pendidik.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap