Bubarkan Ahmadiyah

Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat merekomendasikan agar warga Ahmadiyah menghentikan kegiatannya dan diberi peringatan keras. Alasannya, kegiatan dan penafsiran Ahmadiyah menyimpang (dari ajaran pokoknya yaitu Islam). Badan Koordinasi juga mengusulkan agar Ahmadiyah dibubarkan apabila tak mematuhi rekomendasi ini. Keputusan Badan Koordinasi akan dituangkan dalam surat keputusan bersama antara Jaksa Agung, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama.

Ahmadiyah sendiri adalah suatu aliran yang meyakini ada nabi setelah Nabi Muhammad saw., mereka meyakini Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi mereka. Selain itu mereka mempunyai kitab suci yang dikenal dengan nama Tadzkirah (Padahal Islam hanya mempunyai satu kitab suci yaitu Al Quran).

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ajaran mereka selama itu yang mereka yakini namun yang menjadi persoalan adalah ahmadiyah mencatut nama Islam dalam ajarannya dan itulah yang menjadi permasalahannya. Sebagaimana kita tahu bahwa dalam Islam tidak ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad saw. dan orang yang meyakini ada nabi sesudah Nabi Muhammad saw. adalah kafir. Dan ketika orang itu mengaku ia Islam maka ia wajib masuk Islam secara menyeluruh (tidak setengah-setengah) dan salah satu diantaranya ialah meyakini bahwa tidak ada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad saw.

Selain warga Ahmadiyah yang perlu diberi bimbingan mengenai Islam yang benar, orang yang membela Ahmadiyah (terutama orang Islam) juga perlu diberi bimbingan karena ia membela sesuatu yang salah, namun kalau ia terus bersikeras untuk membela Ahmadiyah maka perlu dipertanyakan Keimanan dan Keislamannya.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

19 Comments

Add a Comment
  1. kalau benar Islam, tentu mengakui bahwa tidak ada Nabi setelah Muhammad ibnu Abdillah, Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Betul kan?

    anyway, mari bertukar link…

    saya sudah pasang TEXT LINK ke sini di 2 tempat, harap di-link back =)

    1/ lowongankerja87.com >> harap link dgn text “lowongan-kerja-baru”

    2/ uangpanas.com >> harap dilink dgn text “lowongan-kerja-panas” (link ada di halaman depan bagian bawah)

    PS ::

    a/ traffic kami sudah lebih dari 500+ pengunjung per hari. Karenanya situs / blog Anda semakin dikenal banyak orang jika bertukar link dengan kami.

    b/ dua2nya punya banner. Kalau mau ngelink pake banner boleh juga =)

    c/ YANG MAU DAPAT BACKLINK, silakan datang ke situs saya dan baca penjelasannya =)

  2. saya sepakat dengan anda, sepakat juga dengan abu bakar baasyir… kalau ahmadiyah tidak pake nama islam ya biarin ajah… mungkin keyakinan mereka rasul terakhir bernama Ahmad bukan Muhammad…

  3. wah,aq juga sepakat tuh..kalo ahmadiyah tidak pake nama islam ya biarin aja…tapi masalahnya dia memakai nama islam…jadi bentrok deh…duh, kita berdoa aja semoga orang yang dijalan yang salah cepet diberika petunjuk olehNya…amin…

  4. Kalangan Liberal Akan Bela Ahmadiyah Melalui Iklan “Petisi”

    Iklan petisi yang akan ditampilkan di empat Koran nasional itu dilakukan dengan alasan adanya "sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an". Demikian sebagaimana dikutip dari situs salah satu aktivis liberal, *Nong Darol Mahmada*. "Kami menyerukan, agar Pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu," demikian sebagaimana dikutip di blog Nong. Yang tak kalah menariknya, petisi itu agak mengadu-domba umat Islam dengan pemerintah, seolah-olah penolak Ahmadiyah adalah memiliki agenda besar untuk mengubah Pancasila menjadi Negara Islam. "Ada agenda dan kegiatan besar yang mengancam negara kita ini yang dilakukan segelintir kelompok untuk mengubah Indonesia yang berlandaskan Pancasila menjadi negara Islam yang berlandaskan kekhalifahan dan keImaman atau lainnya." "Saya menolak itu. Negara kita Plural dan beragama, dan tidak hanya mengakui satu agama dan keyakinan. Dalam setiap agama pun banyak keyakinan dan penafsiran," demikian sebagaimana dimuat di situs Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Keyakinan (AKBB) di *akkbb.wordpress.com*<<a href="http://akkbb.wordpress.com/&quot; rel="nofollow"&gt <a href="http://;http://akkbb.wordpress.com/>” target=”_blank”>;http://akkbb.wordpress.com/> Aliansi Bhineka Tunggal Ika adalah kelompok yang pernah menggerakan kalangan lesbian, homo, para pelacur dan penyanyi dangdut untuk menyampaikan sikap penolakan terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP). Petisi bertajuk "Mari Pertahankan Indonesia Kita!" dikoordinasikan oleh ICRP dan Aliansi Bhineka Tunggal Ika dan disebar di beberapa milis di Indonesia. Umumnya, nama-nama yang ikut membela Ahmadiyah dalam petisi yang akan diiklankan di beberapa Koran ini adalah kalangan liberal yang tak memiliki massa. Diantara mereka ada nama; *Nong Darol Mahmada*, *Ulil Abshar Abdalah*(JIL), *Lies Marcoes* (aktivis feminis), *Ismed Natsir* (Aktivis hak minoritas), *Tika Makarim* (Ketua Aksi Peduli Indonesia), *Tini Hadad* (Anggota pengurus API), *Zumrotin*. Sementara itu di lain pihak; kalangan seperti; NU, Muhammadiyah, Persis, dan ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Forum Ukhuwah Islam (FUI) tak ada perselisihan menyangkut Ahmadiyah. Muhammadiyah tahun 2005 dan keputusan terbaru PBNU bahkan mendesak pemerintah agar Ahmadiyah menjadi agama tersendiri sebagai penyelesaian konflik yang adil. [cha, berbagai sumber/ http://www.hidayatullah.com]

    *PWNU Jatim Peringatkan "Kiai" Pembela Ahmadiyah*

    Pengurus Wilayah NU Jawa Timur memperingatkan Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya, KH. Imam Ghozali Said, karena dianggap membela Ahmadiyah. Sikap penolakan pelarangan Ahmadiyah yang dilakukan Ghozali Said dinilai tak sejalan dengan kebijakan NU yang telah menegaskan bahwa Ahmadiyah menyimpang dari Islam. Karena itu, PWNU Jatim telah melayangkan surat kepada PCNU Surabaya pada Kamis (8/5) kemarin. Surat tersebut berisi perintah agar PCNU memberikan peringatan kepada Ghozali Said. "Dimohon agar yang bersangkutan diberi peringatan agar konsisten dan dapat sejalan dengan keputusan di dunia Islam dan di lingkungan NU sendiri," begitu salah satu bunyi surat tersebut sebagaimana dikutip http://www.nu.or.id "Kita meminta agar Cabang (baca: PCNU) Surabaya memanggil dan memperingatkan dia (H Imam Ghozali Said)," ujar Rais Syuriyah PWNU Jatim, KH Miftachul Akhyar, kepada NU Online di kantornya. Kiai Miftach­begitu panggilan akrabnya­menjelaskan, surat tersebut dikeluarkan untuk menghindari kesimpangsiuaran informasi mengenai sikap resmi NU atas kasus Ahmadiyah. Ia juga tak ingin ada pengurus NU yang berpendapat sesuka hati terkait aliran yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi tersebut. Sebagaimana diketahui, Ghozali Said merupakan salah satu dari rombongan ulama dan kiai se-Jawa yang menemui Ketua DPR RI Agung Laksono di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (7/4) lalu. Dalam kesempatan itu, ia beserta sejumlah kiai lainnya meminta kepada Agung agar DPR membatalkan rencana pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri terkait pembubaran Ahmadiyah. Bahkan, Ghozali Said, menilai, tuntutan pelarangan Ahmadiyah merupakan pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Menurutnya, Islam pun menghargai kemanusiaan. "Kalau pemerintah tidak melindungi Ahmadiyah, berarti negara gagal melindungi warganya," pungkasnya. Para kiai yang datang di Kejaksaan ini umumnya dikenal sebagai tokoh yang berpandangan liberal. Mereka juga datang atas sponsor dari Wahid Institute, LSM liberal yang dirintis oleh bekas Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

    From: "abdul rahman" <[EMAIL PROTECTED]>

    Subject: [INSISTS] Kalangan Liberal Akan Bela Ahmadiyah Melalui Iklan “Petisi”

    ===

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap