BANJARMASIN KOTA SILUMAN

Banjarmasin, kota yang pernah mendapat predikat kota terkotor memang terus berbenah sejak mendapat predikat itu, pejabatnya sibuk mengatur tata kota supaya tidak mendapat gelar itu lagi. Kota ini memang terus berusaha namun seperti lari di tempat. Tak ada perubahan yang signifikan dalam tata kota, parkir masih saja semrawut, sampah masih bertebaran di sungai dan di jalan, pedagang kaki lima masih berkuasa atas pinggir jalan.

Namun entah apa yang terjadi, hari itu tanggal 1 November Banjarmasin terasa aneh bagi mata yang sering melihat kesemrawutan. Jalan begitu lenggang dengan bertaburan polisi di pinggir jalannya, selain itu tidak ditemukan pedagang kaki lima di pinggir jalan hingga saya kesulitan untuk mencari makan. Pedagang kaki lima itu berganti dengan bendera merah putih yang berjajar rapi. Namun entah siapa yang memasang tiba-tiba saja ada.

Hari itu saya merasa seperti berada di kota yang begitu asing namun saya menyukainya begitu bersih dan nyaman. Banyak polisi yang membantu di jalan. Hari itu benar-benar menyenangkan.

Baru saja berpikir tentang masalah itu, tiba-tiba lewat mobil berplat RI 1. semua orang di jalan berhenti untuk melihat sang peguasa negeri ini lewat. Akhirnya saya tersadar ternyata Banjarmasin berubah karena ada orang no 1 di negeri ini yang mau datang.

Namun timbul lagi sesuatu di benak saya, bagaimana kalau pejabat negeri ini sering-sering aja datang ke kota ini kalau perlu setiap hari jadi Banjarmasin akan selalu “rapi” dan kalau perlu juga presiden tinggal di sini. Jadi kita tak perlu repot-repot berbenah diri karena hal itu bisa dilakukan dalam “sekejap mata” dan tidak perlu harus menunggu tiap 5 tahun hanya demi mendengar janji yang tak pernah direalisasi.

Banjarmasin dan mungkin juga kota-kota lain di Indonesia seperti kota Siluman atau juga kota serigala berbulu domba. Ketika ada pejabat negeri yang mau berkunjung mereka baru berbenah, baru membersihkan. Padahal dari kelakuan seperti itu tersirat sebuah perilaku yang tidak baik yaitu penjilat. Kenapa saya bilang begitu karena mereka berusaha memperlihatkan yang baik-baiknya saja dan membuang yang buruknya supaya kelihatan baik di mata pejabat. Bukankah itu sudah cukup mencerminkan bagaimana mental para pejabat negeri ini?

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap