BANGGAKAH KITA JADI URANG BANJAR

Saya pernah baca salah satu judul buku yang judulnya Aku Bangga Jadi Urang Banjar (maaf kepada penulisnya karena saya lupa namanya jadi tidak bisa menyebutkan namanya). Di sana tertulis orang Banjar bangga dengan bahasa dan budayanya, tapi benarkah itu?

Bahasa Banjar adalah bahasa yang dipergunakan oleh suku Banjar. Yang secara geografis mendiami hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Bahasa Banjar sendiri terbagi atas dua dialek besar yaitu:
1. Dialek Banjar Kuala, yang umumnya dipakai penduduk sekitar kota Banjarmasin, Martapura, dan Pelaihari.
2. Dialek Banjar Hulu, yang umumnya dipakai penduduk di daerah Hulu Sungai yaitu Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, serta Tabalong.

Dari penjelasan diatas, bahasa Banjar begitu besar pengaruhnya di wilayah Kalimantan Selatan minus Pulau Laut (Kotabaru) namun terkadang mereka tidak bangga dengan bahasanya sendiri. Misalkan, tapi ini kejadian yang pernah saya alami. Ada teman saya orang Hulu Sungai (tak perlu disebutkan nama lengkap daerah, yang pasti dia orang Hulu Sungai) menuntut ilmu ke Banjamasin dengan kata lain kuliah. Awalnya dia merasa enak saja dengan gaya bahasanya sendiri namun seiring waktu dia mulai mengalami “erosi” diri karena setiap dia bicara menggunakan bahasa Banjar hulu yang kental dengan “lagunya” ia selalu ditertawakan oleh teman-temannya yang sebenarnya juga orang Banjar hanya saja beda tempat. Akhirnya dia berusaha belajar bagaimana menghilangkan “lagu” dalam bahasa ibunya, yang akhirnya mengikis bahasa asli itu sendiri kemudian dia akhirnya terpengaruh dengan bahasa yang ada di Banjarmasin khususnya lingkungan kampus yang menggunakan “bahasa gaul”. Sampai dia pulang ke kampung halamannya dia tetap tidak menggunakan bahasa ibunya lagi namun sudah terkontaminasi “bahasa gaul”.
Dari cerita di atas, dia merasa malu dengan Bahasanya sendiri karena terlalu banyak “lagunya” hingga berusaha menghilangkannya dan yang lebih parah teman-temannya yang juga orang Banjar malah mentertawakan bahasa temannya hanya karena ada “lagunya”.
Selain hal itu ada sedikit lagi yang masih mengganjal yaitu bahasa Banjar yang digunakan oleh kebanyakan orang Banjar terutama yang anak mudanya sudah bukan murni bahasa Banjar lagi karena sudah tercampur bahasa Indonesia dan bahasa Gaul. Jadi apa yang kita yang Banggakan, Bahasa Banjar yang sudah tercemar atau Bahasa Banjar yang murni, namun seperti kita sudah tahu jawabannya apa?

Salah satu hasil dari kebudayaan adalah terciptanya sastra. Banyak sekali sastra yang ada di suku Banjar, misalnya madihin, balamut, bakisah, dll. Tapi benarkah orang banjar menyukai sastranya sendiri?
Hal itu bisa dilihat dari bagaimana antusiasnya orang banjar ketika adanya pertunjukan sastra. Kita bisa lihat yang datang paling-paling “orang tuha”, kemana anak mudanya, ternyata mereka lebih menyukai konser-konser band. Saya pernah tanya kepada teman saya, waktu itu ada lomba bakisah di Taman Budaya. Kenapa ikam kada manuntun?, lalu dia menyahut kada rami lawan jua sapalih aku kada mangarti bahasanya. Begitu mudah jawabannya “kada rami” dan “kada mangarti”, padahal ia adalah orang Banjar asli.
Selain itu ada lagi satu, kemarin saya bicara dengan teman saya, dia bilang banyak sastra banjar seperti mamanda, sudah berubah tidak seperti dulu lagi. Memang itu baik karena sebagai bentuk kreatifitas namun itu akan merubah pandangan orang tentang mamanda, yang kemudian orang akan menganggap mamanda seperti itu. Namun sebagian tidak salah mereka juga, karena mereka juga jarang disuguhi kesenian mamanda yang benar.

Kalau sudah begini masihkah bangga kita jadi orang Banjar?

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

3 Comments

Add a Comment
  1. Tukang Cukur Ipul. Terima panggilan 085248715330

  2. saya bangga menjadi orang banjar, walaupun saya tidak memahami banjar itu sendiri. saya punya keinginan untuk dapat pergi ke banjar karena selama ini saya tidak pernah mendapat pengetahuan itu sendiri dari orang tua saya, saya ingin cari tau apa dan bagaimana sebenarnya tradisi suku banjar itu.

  3. sakali banjar tatap banjar

    shaleholic : Yap 😀

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap