Bahasa Indonesia di dalam Ruang Media

Media massa khususnya di Indonesia sangat berperan dalam eksisnya bahasa Indonesia di penuturnya. Hadiono (dalam   Putera, 2010) menyebutkan bahwa  peran media massa dalam kehidupan sosial bukan sekadar sarana diversion dalam kehidupan sosial, pelepasan ketegangan, atau hiburan, melainkan isi yang disajikan mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Selain berperan dalam proses sosial, media massa juga mempunyai peran yang besar dalam mendukung perkembangan bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Asmadi (2008)  menyatakan media massa adalah pendukung utama bahasa Indonesia pada awal bahasa itu bergulat dengan batasan oleh penjajah.

Sebagai bahasa yang berkembang, bahasa Indonesia mendapat pengaruh dari bahasa lain, baik bahasa asing maupun bahasa daerah. Pengaruh dalam dunia kebahasaan terjadi karena kebutuhan masyarakat bahasa akan adanya kosakata yang dapat digunakan sebagai penyebutan suatu simbol. Masyakat pemakai bahasa akan menggunakan bahasa asing atau bahasa daerah,  misalnya ketika ia tidak menemukan kosakata bahasa Indonesia yang tepat untuk mengungkapkan ide atau gagasannya. Lambat laun, tetapi pasti,  bahasa yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah tersebut akan tersebar luas dan akan memperkaya bahasa Indonesia.

Penyebaran Kosakata Baru

Penyebaran kosakata yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah tersebut sudah pasti akan melibatkan berbagai macam media massa, baik cetak maupun elektronik. Ketersebaran itu melibatkan pelaku media yang salah satunya adalah jurnalis.  Kosakata baru yang berasal dari bahasa asing atau bahasa daerah dalam bahasa Indonesia tidak hanya berbatas pada kosakata yang bersifat umum, tetapi juga dapat berupa kosakata yang berupa istilah. Dalam hal itu, kosakata tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyakat bahasa dalam bidang keilmuan tertentu.

Hal itu perlu mendapat perhatian karena seperti yang dikemukakan oleh Asmadi (2008) perkembangan dunia dalam berbagai bidang, seperti  teknologi, sastra, ekonomi, dan kebudayaan memaksa wartawan untuk menyelaraskan bahasanya. Selanjutnya, Asmadi mengungkapkan bahwa kadang-kadang munculnya kosakata baru dari luar negeri tidak tertampung dalam perbendaharaan bahasa Indonesia sehingga kosakata yang muncul di media massa hanyalah penyederhanaan atau penyesuaian dengan pemahaman yang dimiliki oleh wartawan.  Sehubungan dengan itu, kosakata baru atau suatu istilah muncul dan diperkenalkan oleh bidang ilmu tertentu untuk memenuhi salah satu sifat bahasa yang selalu berkembang.

Keberadaan dan ketersebaran kosakata yang berupa istilah itu juga tidak lepas dari peran media massa. Istilah dapat tersebar luas dan dikenali oleh masyarakat melalui media massa. Sebagai contoh, istilah yang digunakan dalam bidang informatika yang kemajuannya amat cepat dapat dengan mudah dan dikenali dan digunakan oleh masyarakat bahasa melalui media massa. kata download dan upload misalnya, begitu cepat tersebar dengan istilah berbahasa Indonesia menjadi unduh (download) dan unggah (upload). Beberapa waktu lalu juga sempat terdengar kata antirasuah, mungkin kata itu terdengar awam namun sebenarnya antirasuah sama dengan antikorupsi. Selain itu dalam waktu terakhir juga muncul kata persekusi dan gawai. Bagi orang awam, dua kata tentu terdengar asing ketika diucapkan saat berbicara, namun berkat media massa, dua kata tersebut mulai biasa diucapkan. Persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas sedangkan gawai adalah pengganti kata gadget.

Meluruskan Salah makna

Selain menjadi alat untuk menyerbarkan kebaikan dalam arti mengenalkan kosakata baru, media massa juga berperan besar dalam merubah makna suatu kata, salah satunya adalah kata seronok. Beberapa media pernah menggunakan kata seronok untuk judul beritanya, seperti; Rita Ora Dilarang Tampil Seronok di The Voice; Kapolda Metro Jaya Larang Anggotanya Tampil Hedonis dan Seronok di Medsos Aksi Seronok Duo Serigala di Depan Kadaton Sultan Ternate Tuai Kecaman Pakai baju seronok, Denda Rp 3,7 juta; dan Ditegur komisi yudisial, Nikita Mirzani kapok pakai baju seronok.

Kata seronok sendiri dalam KBBI dimaknai sebagai sesuatu yang menyenangkan hati, sedap dilihat atau didengar. Namun karena seringnya media massa menggunakan kata seronok dengan makna seakan-akan seronok itu sesuatu yang vulgar, tidak pantas bahkan mungkin dianggap bagian dari pornografi maka masyarakat awam yang tidak tahu arti kata seronok pada akhirnya akan menafsirkan kata seronok sebagai sesuatu yang negatif. Sehingga di masyarakat, ketika melihat pakaian perempuan yang tidak pantas maka akan dianggap sebagai pakaian seronok.

Selain kata seronok, ada lagi kata yang berubah makna yaitu acuh.  Dalam kamus KBBI dijelaskan bahwa acuh berarti peduli; mengindahkan. Namun di media massa kata acuh terkesan diartikan sebagai ketidakpedulian. Seperti, Jelang GP Spanyol, Rossi-Marquez saling acuh dan Jembatan Ambruk, Pemerintah Bangkalan Acuh!

Kosakata atau istilah baru tidak akan dikenal oleh masyarakat pemakai bahasa apabila tidak tersebar dan tidak dimanfaatkan oleh pemakai bahasa. Ketersebaran dan keberterimaan sebuah kosakata baru itu banyak ditentukan dan dipengaruhi oleh seberapa besar kosakata tersebut muncul dan digunakan sebagai kosakata yang produktif oleh masyarakat pemakai bahasa. Masyarakat pemakai bahasa dapat mengenal kosakata itu melalui media massa, baik cetak maupun elektronik. Dalam hal itu, media massa berperan sebagai penyebar kosakata baru yang muncul sebagai perkembangan bahasa.

Selain itu, berubahnya makna suatu kata tidak lepas dari peran media massa khususnya jurnalis yang membuat judul berita itu atau bahkan editor berita tersebut. Media massa seharusnya mencoba meluruskan kembali makna kata yang berubah tersebut agar masyarakat awam bisa mengetahui mana makna kata yang benar, mana makna kata yang salah.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap