Anda Miskin, Jangan Sakit.

Masih ingat kasus pemulung mendorong-dorong jenazah anaknya yang terjadi di Jakarta beberapa tahun lalu? Kasus serupa kini terjadi di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (13/2) sore kemarin.

Ceritanya bermula ketika Sipri Amanut (2) sakit diare sejak Minggu (8/2) lalu. Karena tak ada biaya, ibunya, Ny Yacobus Amanut (37) tak segera membawa anaknya itu ke rumah sakit.

Sampai dengan hari Kamis (12/2), kondisi Sipri makin memburuk. Maka, Ny Amanut akhirnya membawa Sipri ke RSUD WZ Yohannes Kupang. Meski sempat mendapat perawatan, nyawa Sipri tetap tak tertolong. Jumat (13/2) dini hari, Sipri akhirnya meninggal.

Seperti layaknya pasien meninggal di rumah sakit, jenazah Sipro kemudian disemayamkan di ruang jenazah, meskipun tidak mendapatkan perawatan semestinya.

Sekitar pukul 15.00, Amanut minta ambulans mengantar jenazah anaknya ke rumah duka di Kelurahan Liliba yang berjarak 5 kilometer dari rumah sakit. Untuk jasa pengantaran jenazah itu ia harus membayar Rp 300.000.

Kepada petugas, Amanut mengatakan tak punya uang, dan petugas pun berlalu. Ditunggu-tunggu sampai satu jam, Amanut tak mendapat kepastian soal ambulans. Maka, Amanut pun menggendong sendiri jenazah anaknya menuju rumahnya.

Sekitar 500 meter keluar dari RSUD, sebuah mobil pikap yang baru pulang dari mengantar bahan bangunan berpapasan dengannya. Si sopir baik hati turun dan menanyakan apa yang terjadi. Atas nama rasa kemanusiaan, sopir itu akhirnya mengantarkan Amanut dan jenazah anaknya pulang.

Ketika berita mengenaskan itu dikonfirmasi ke Kepala Seksi Pelayanan RSUD Kupang dr Frangki Touw, ia mengaku belum mengatahui kejadian itu. Menurut dia, kalau kalau ada kartu Jamkesmas dari orangtua maka pasien, termasuk jenazah pasien, dilayani seperti biasa.

Kalau pun keluarga tidak punya kartu Jamkesmas, sebenarnya keluarga pasien bisa mengurus surat keterangan miskin dari kelurahan atau RT setempat sebelum masuk rumah sakit.

“Kalau tidak ada surat keterangan atau kartu miskin sama sekali, (memang) agak sulit,” katanya.

Mengenai layanan ambulans, Frangki menyatakan sudah banyak jenazah dari keluarga miskin diantar cuma-cuma. Syaratnya, ada surat keterangan.

Pertanyaannya, apakah hanya karena tidak ada surat keterangan miskin atau jamkesmas itu maka seorang ibu harus menggendong jenazah anaknya sendiri dari rumah sakit?

Tulisan diambil dari kompas di halaman ini

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

4 Comments

Add a Comment
  1. Orang miskin memang dilarang sakit….karena rumah sakit hanya mili orang kaya!

  2. kasus dukun cilik poniran di jombang adalah contoh bagus keberhasilan pemerintah dalam memberi layanan kesehatan murah

  3. Kita harusnya malu sama negera Venezuella. Walau pun sama-sama negara berkembang tapi mereka berani menggratiskan pelayanan kesehatan.

    Kunci utamanya adalah ada nggak niat dan kenginan dari pimpinan negeri ini untuk menggratiskan (benar-benar gratis) pelayanan kesehatan. Buat apa kita merdeka, bayar pajak, dsb kalau pelayanan kesehatan harus bayar. Kalau mahal kan berarti apa peran negara dong?, kita suruh aja lembaga kesehatan luar negeri supaya buka praktik di sini..

    Makanya dalam PEMILU nanti pilihlah pemimpin yang seorang NEGARAWAN bukannya POLITIKUS. Karena seorang negarawan akan mengutamakan kepentingan NEGARA bukan kepentingan pribadi atau partai. Kalau politikus hanyalah seorang yang MENCARI PENGHIDUPAN dari NEGARA.

  4. Sungguh tragis memang,

    hanya mereka yang memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi yang mampu menolongnya,

    salut kepada sopir itu,

    saya setuju dengan pak Syam,

    Negara ini tak akan pernah maju jika pelayanan kesehatan saja masih mahal.

    Para bung yang ada diatas sana, yang berada dibalik meja kerja rakyat, sekali sekali turun kejalan, lihat bangsa ini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap