Analisa Kekalahan Timnas Indonesia dari malaysia

Terlepas dari masalah suporter malaysia yang tidak fair dalam pertandingan kemarin yang dengan seenak-enaknya memainkan laser ke arah para pemain indonesia. Ada beberapa hal menurut saya juga menjadi faktor kekalahan timnas Indonesia dari malaysia. Faktor tersebut antara lain :

Mental

Sebagaimana kita ketahui bahwa kemenangan lima kali beruntun Indonesia atas lawan-lawannya di piala AFF itu semuanya dilakukan di kandang sendiri di stadion Gelora Bung Karno. Secara mental, orang yang bermain di kandang sendiri tentu punya motivasi yang luar biasa untuk mempersembahkan yang terbaik di kandang sendiri apalagi terkadang ada persepsi bahwa di kandang sendiri sudah kalah apalagi di kandang orang. Jadi timnas tentu termotifasi luar biasa saat bermain di kandang sendiri minimal punya gelar ‘jago kandang’. Namun ternyata mental luar biasa bila bermain di Kandang tidaklah cukup dalam sebuah turnamen yang mengelar sistim home away. Seharusnya para pemain juga punya mental luar biasa saat bermain tandang karena bagaimanapun bermain tandang memerlukan mental yang lebih terutama menghadapi tekanan tuan rumah. Janganlah bermental sayur, baru sedikit terkena gangguan kemudian buyar konsentrasi. Jadi kepada para pemain diharapkan tidak hanya belajar masalah teknik namun juga pengendalian mental dalam bertanding. Kalau mental Indonesia masih seperti itu bila bermain tandang maka jangan berharap bisa menang.

Politik

Ini salah satu faktor yang sejak awal membuat saya geram terhadap para poli’tikus’ yang dengan semena-mena mencampurkan politik dengan olahraga ditambah dengan sang ketua PSSI nurdin halid mundur dari jabatan loe yang terkesan cari muka dimana-mana dan menganggap dialah orang yang paling berjasa atas timnas. Baru sebentar timnas merasakan menang, sudah diajak makan-makan dengan si bos besar. Kelakuan ketua umum PSSI yang suka bermanuver politik dalam olahraga akhirnya membuat timnas lebih kelelahan fisik, hal itu bisa terlihat pada muka beberapa pemain saat melakukan istighosah. Istighosah sendiri tak lazim dilakukan oleh timnas dan baru pertama kali dilakukan.

Publikasi

Ini juga faktor yang membuat saya bingung, dari saya bangun tidur sampai mau tidur lagi beritanya hanya itu-itu saja. Sanjungan yang berlebihan terhadap timnas sebenarnya malah membuat mereka terbebani dalam bertanding apalagi nanti beritanya mengungkit kemenangan-kemenangan dan akhirnya beban itu memuncak saat bertanding. Belum lagi publikasi berlebihan terhadap salah satu pemain, hal itu bisa saja akan membuat jarak yang berbeda antara satu pemain dengan pemain yang lain karena ia akhirnya merasa yang lebih ‘penting’ dalam timnas, padahal itu hanya opini dari para media yang terlalu berlebihan. Sepakbola tidak bisa mengandalkan satu orang tapi TIM jadi bila mereka menang jangan publikasikan berlebihan terhadap salah satu pemain karena mereka bermain bersama, berjuang bersama dan punya posisi-posisi yang sudah ditentukan. Jadi diharapkan para media tidak lagi berlebihan dalam pemberitaan karena itu hanya akan menjadi beban bagi timnas.

Demikianlah analisa kekalahan timnas menurut orang tidak terlalu mengerti sepakbola ini dan bisanya hanya mengajar di kelas :). Namun walaupun kau kalah tapi tetap GARUDA DI DADAKU. Masih ada 90 menit lagi untuk membalas, buktikan kita lebih kuat dan lebih baik dari malaysia.

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

4 Comments

Add a Comment
  1. tambahan:

    mental, cepat banget puasnya.

    politik, banyak cari muka… itu benar.

    publikasi, baru menang sekali dikandang sendiri hebohnya bukan main 24 jam itu-itu aja beritanya.

    makanlah pelajaran timnas Indonesia!

  2. Semua itu bermula dari ketum nya yang sengan cari muka, sontoloyo. Dari dulu aku sudah tidak respek dengan sepak terjangnya saat menjadi antek dari Tommy S.

  3. tips dan trik teknog

    kita balas di GBK 5-0

    btw salam kenal ya bos 🙂

  4. Bagaimana mau menang di malaysia, pemain timnas indonesia saja bermental jago kandang. Bagaimana mau menang, manusia dan manajemen PSSI saja amburadul. Bagaimana mau menang, perekrutan pemain timnas saja diskriminatif. Kalau sudah begitu, jangan berharap akan menang di gelora bung karno….he..he..he……

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap