Aku Masih Lapar

Akhirnya pemerintah menyetujui ekspor beras. Pemerintah mungkin berpikir negeri ini sudah mengalami kemakmuran dalam hal pangan hingga beras dalam negeri (padahal beras impor banyak) boleh dikeluarkan dari negeri ini. Selain menganggap negeri ini telah kelebihan pangan (mungkin) alasan lainnya adalah bahwa harga beras di luar negeri lebih mahal daripada di dalam negeri, jadi pemerintah bisa mendapatkan keuntungan dari ekspor itu.

Namun sadarkah pemerintah bahwa dengan dilakukannya ekspor beras, negeri ini mengalami resiko kekurangan pangan. Padahal sesuatu itu dikatakan berlebihan ketika rakyatnya tidak pernah mengeluh kelaparan atau makan nasi hanya satu kali sehari. Tapi kenyataannya masih banyak rakyat negeri ini mengalami kelaparan hingga mengalami krisis pangan di daerahnya, akibatnya kalau biasanya mereka makan nasi terpaksa harus makan ubi.

Selain itu juga, rakyat negeri ini sering mengalami penyakit kurang gizi. Itu menandakan bahwa rakyatnya masih hidup dalam kelaparan karena tidak bisa memberikan makanan yang bergizi untuk anaknya.

Bukankah mereka dipilih oleh rakyat, itu artinya pemerintah berhutang budi pada rakyat. Sudah saatnya pemerintah membalas hutang budi itu dengan menyadari bahwa kepentingan rakyat lebih penting daripada sekedar mencari uang atau memperbanyak devisa (terkadang ngutang juga).

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

1 Comment

Add a Comment
  1. pernah aku lihat di televisi, ibu dari seorang anak yang kurang gizi ternyata berkalung emas (entah emas beneran atau imitasi).. kalau beneran artinya ada juga orang yang mengedepankan penampilan daripada gizi… kalau soal pemerintah yang ngawur, itu mah sudah biasa…

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap