17 Agustus dalam persepsi Shaleholic

17 Agustus tepatnya ditahun 1945, Rakyat Indonesia mengucapkan proklamasi Kemerdekaan. Pengucapan proklamasi kemerdekaan yang dilakukan oleh Bung Karno tersebut menjadi dasar hingga hari ini, dimana setiap 17 Agustus selalu saja ditemui upacara bendera, pertandingan-pertandingan di lingkungan masyarakat untuk memeriahkan 17 Agustus tersebut. 17 Agustus 2011 bertepatan dengan 17 Ramadan.

Namun tulisan saya kali ini mungkin agak sedikit berbeda dalam menyikapi yang makna 17 Agustus, banyak orang berkata bahkan beranda Facebook saya menuliskan 17 Agustus adalah Hari Kemerdekaan. Saya sendiri cuma menuliskan 17 Agustus adalah Hari Proklamasi Kemerdekan dan bukan hari dimana hari kita merdeka.

Merdeka bagi saya berarti seharusnya tak ada lagi perang setelah itu [17 Agustus 1945] namun pada kenyataannya setelah itu Indonesia masih saja berkutat dengan yang namanya perang baik melawan Belanda maupun perang ‘saudara’. Itu menandakan bahwa 17 Agustus 1945 hanyalah sebuah perkataan tentang kemerdekaan namun belum berarti saat itu merdeka secara utuh [bahkan mungkin sampai sekarang masih terjajah]. Bahkan dalam UUD 1945 sendiri dituliskan :

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia

Lihatlah tulisan yang menggunakan huruf tebal tersebut, maka anda akan mengerti bahwa kita sebenarnya belum merdeka. Kalau Indonesia diibaratkan dengan rumah maka kemerdekaan ini cuma sampai pintu gerbangnya saja, belum sampai ke beranda rumah apalagi sampai masuk ke dalam rumah. Kemerdekaan kita ini berarti hanyalah sebatas ‘tampilan luarnya’ saja merdeka namun pada kenyataan di dalamnya kita masih saja terjajah bahkan yang lebih parahnya ‘anak negeri’ sendiri yang menjajah bangsanya dengan kelakukan aneh seperti suka bohong, suka obral janji tanpa peduli kapan menepati hingga yang sekarang jadi ‘budaya’ ialah korupsi. [koruptor mestinya dihukum mati saja].

Sudah saatnya peringatan 17 Agustus ini tidak hanya diperingati dengan yang namanya upacara atau panjat pinang namun juga bukti yang memang inginkan kita merdeka secara utuh bukan hanya tampilannya saja. Jujur saja, harus saya akui upacara bendera setiap 17 Agustus tidak berpengaruh apapun pada sendi-sendi kehidupan setelah itu dilaksanakan. Apa setelah upacara 17 Agustus, harga sembako menjadi murah, lapangan kerja menjadi mudah, korupsi langsung hilang, kejujuran jadi budaya, sepertinya tidak, yang ada malah terkadang orang-orang yang ikut upacara bendera terutama yang berdiri dibarisan belakang sering bicara-bicara bahkan saat bendera sedang dinaikkan. Itu menandakan upacara bendera 17 Agustus memang hanya menjadi sebuah acara tanpa magnet yang kuat untuk para pesertanya.

Namun terlepas dari kurang gregetnya 17 Agustus yang hanya dimaknai dengan upacara bendera, panjat pinang atau malah cerita-cerita dimasa lalu namun tak memaknainya dalam kehidupan sekarang. Dengan momentum 17 Agustus + 17 Ramadan, semoga 17 Agustus kali ini berbeda dengan 17 Agustus yang terdahulu. Semoga para pemimpin negeri ini dan calon pemimpin negeri ini sadar bahwa kita belum merdeka cuma baru sampai pintu gerbangnya saja dan tugas mereka-merekalah untuk meneruskan langkah kemerdekaan ini jauh masuk kedalam hingga menembus semua lapisan kehidupan.

Salam Merdeka !

Baca Tulisan Lainnya



The Author

shaleh

Seorang #Father #Teacher #Blogger #ContentWriter | Suka membaca | Bagian Guru Blogger Indonesia | Lulusan Universitas Negeri Lambung Mangkurat'08 & Universitas Negeri Surabaya'16. Lengkapnya hubungi saya disini

Leave a Reply

© 2014 Powered by rumahshaleh - sitemap